Pendekar Pedang Biru

Pendekar Pedang Biru
Rencana Rajendra


__ADS_3

Pulau Canala oleh penduduk sekitar Desa Grigis masih dianggap sebagai tempat yang angker, sehingga segala cerita yang menyangkut pulau itu akan segera menjadi buah bibir. Begitulah yang terjadi menjelang siang waktu itu di desa Grigis, berita tentang seseorang yang sekarang sedang berada di pulau Canala segera saja menjadi kehebohan.


Terlihat banyak penduduk yang berkumpul di tepian danau Tirtanara sepertinya sedang dilanda kebingungan,


"Apa benar yang dikatakan anak itu?" Tanya salah seorang penduduk pada pemilik gubug yang menyebarkan berita pertama kali.


"Sepertinya begitu, karena kemarin saya tahu jika dia kesini bersama gurunya" Jawab pemilik gubug sambil memandangi orang-orang yang memperhatikannya.


"Jikapun itu benar lantas bagaimana cara dia pergi ke pulau Canala" Tanya seorang yang berdiri di sebelah pemilik gubug.


"Itulah yang saya tidak tahu, sebab anak itu hanya menangis ketika aku menanyakan hal itu" Jawab pemilik warung sambil melihat ke arah Ranu yang terlihat masih terisak-isak.


"mungkinkah orang itu diculik penunggu pulau Canala..?" Kata seseorang yang terlihat paling tua.


Orang-orang hanya saling pandang dan terdiam, sepertinya tidak ingin mempercayai itu, tapi sekaligus tak bisa menyanggah kemungkinan itu. Meskipun penduduk desa mempercayai cerita tentang Ular raksasa yang tinggal di pulau Canala, tapi selama ini belum ada yang melihat wujudnya secara langsung.


Seiring makin merebaknya berita tentang Rajendra disekitar desa, maka makin banyak penduduk yang kini datang memenuhi tepian danau Tirtanara. Sebagian besar yang datang hanya ingin tahu, sebagian yang lain ada yang berusaha untuk membantu Ranu untuk pergi ke pulau Canala. Beberapa orang yang bersedia membantu itu tampak sedang berusaha mempersiapkan perahu untuk menyebrang ke pulau. Mereka yang awalnya enggan membantu Ranu kemudian merasa simpati ketika anak itu mengatakan akan pergi ke pulau itu sendirian.

__ADS_1


"Jika tak ada yang mau mengantarkan saya kesana, setidaknya pinjamkan sebuah perahu padaku, biar saya kesana sendirian" Kata Ranu saat itu yang melihat orang-orang dewasa yang dia mintai tolong tampak ragu-ragu untuk membantu.


"Takkan mungkin kau bisa pergi kesana sendirian, terlalu berbahaya.. baiklah aku akan mengantarmu" Kata seseorang yang berbadan besar dan berkulit coklat gelap. Sepertinya dia merasa tersentuh oleh kebulatan tekad dan kesungguhan yang Ranu tunjukan.


"Aku juga akan mengantar kalian" Kata beberapa orang hampir bersamaan.


Ketika saat ini orang-orang itu sedang mempersiapkan perahu, tiba-tiba datang seseorang yang mencoba melarang mereka. Ketika orang itu sudah berada di dekat mereka ternyata dia adalah Kepala Desa,


"Apa kalian benar-benar akan menyebrang ke pulau Canala?, coba pikirkan dulu baik-baik" Kata kepala desa itu sambil berjalan mendekati orang-orang yang sedang membawa perahunya ke air danau.


Merasa sedang di pandangi satu per satu oleh kepala desa, orang-orang itu menundukkan kepalanya.


"Anak siapa?,anak yang mana?" Tanya kepala desa sambil menghampiri orang yang menjawab tadi.


"Anak itu pak" Jawab orang itu sambil menunjuk ke arah Ranu.


Kepala desa melihat ke arah yang ditunjuk, dia pun melihat Ranu, merasa jika anak itu asing baginya diapun mendekat dan bertanya "Siapa namamu?,dan kenapa engkau bisa yakin jika gurumu ada di pulau Canala?"

__ADS_1


"Nama saya Ranu pak" Jawab Ranu tanpa menjawab pertanyaan ke dua karena dia tak tahu bagaimana mencoba menjelaskan jawabannya.


"Hemh...Ranu ya, engkau tentunya bukan penduduk desa Grigis, karena aku baru kali ini melihatmu. Tentunya kau juga tidak tahu apa-apa tentang pulau Canala" Ucap kepala desa. Kemudian meneruskan dengan bercerita tentang asal-usul pulau itu beserta misteri yang ada pada pulau Canala.


Ranu terdiam mendengar cerita yang disampaikan Kepala Desa, sesaat dirinya merasa ragu untuk meneruskan rencananya setelah tahu jika selama ini belum ada yang berhasil sampai ke pulau Canala. Mulai terbayang di benak nya wajah gurunya, tanpa disadari air matanya sudah memenuhi pelupuk matanya.


Kepala desa yang melihat mata Ranu mulai berkaca-kaca mencoba berbicara untuk menghibur dan membesarkan hati Ranu, "Nak, jika benar gurumu berada di pulau Canala, tentunya dia bukan pendekar sembarangan. Jadi cobalah untuk percaya jika dia akan baik-baik dan akan segera kembali. Itulah yang terbaik yang bisa kamu lakukan dari pada berusaha menyusulnya kesana tanpa kepastian nantinya akan berhasil sampai ke pulau itu" sambil mendekat dan menepuk pundak Ranu untuk menunjukan simpatinya.


Ranu mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari kepala desa, setelah dirinya merasa tenang Ranu merasa ucapan itu ada benarnya. Jika dia bersikeras untuk tetap pergi menyebrang danau kesempatannya untuk berhasil sampai pulau tidaklah besar, dan meskipun dia berhasil tentunya dia juga tak tahu akan mencari gurunya di bagian pulau yang mana. Dan Ranu juga percaya gurunya tidaklah lemah lagi pula dia pergi bersama Riswana, "dia pasti baik-baik saja" katanya dalam hati. Kekhawatiran Ranu pun berangsur memudar berganti menjadi sebuah asa jika gurunya akan segera kembali.


"Ya pak, akan saya tunggu beliau kembali di tempat ini saja" Ucap Ranu setelah berhasil menenangkan dirinya.


Tak lama setelah Ranu mengatakan itu dia mendengar suara orang-orang yang berteriak sambil menunjuk ke arah danau,


"Lihat.... Ada yang datang mendekat dari pulau Canala..!!" Teriak orang-orang itu sambil menunjuk-nunjuk ke tengah danau. Semua orang pun langsung mengarahkan pandanganya ke danau Tirtanara, kini mereka dapat melihat jika di kejauhan tampak sesuatu yang bergerak diatas air dan seolah membuat air menjadi berombak.


Kepanikan, rasa takut dan rasa penasaran seketika terjadi, mungkin karena terlampau bingung orang-orang hanya bisa terpaku dan melihat ke sesuatu yang bergerak semakin dekat itu. Ketika sudah cukup dekat mulai terlihat jika itu adalah mahkluk hidup yang menyerupai ular yang besar. Seekor ular besar berwarna hijau dengan 2 tanduk diatas kepalanya, dan diantara tanduk itu nampak seseorang yang duduk bersila dengan tenang. Ranu yang mengenali sosok yang duduk di atas kepala ular raksasa itu pun segera berlari, "Guruuuuu..!!" Teriak Ranu sambil menyongsong langsung ke arah mahkluk itu, dia menyelinap diantara kerumunan orang-orang yang terbengong keheranan melihat ke arahnya.

__ADS_1


Sesaat sebelumnya Rajendra memang sudah merencanakan semuanya. Dia awalnya menceritakan kepada Nadira tentang cerita asal-usul danau Tirtanara yang dipercayai oleh penduduk desa Grigis. Rajendra kemudian membicarakan rencananya pada Nadira, dan Nadira pun tidak keberatan untuk membantu mewujudkan rencana Rajendra.


Supaya ucapannya bisa dipercaya oleh penduduk desa, Rajendra pun berencana menunjukan kepada penduduk jika seolah-olah dirinya telah berhasil menaklukan Ular Raksasa yang menunggu pulau Canala. Dia juga ingin agar penduduk tidak merasa takut lagi untuk pergi atau mungkin berkeinginan menetap di pulau itu. Karena menurutnya terlalu sayang jika keindahan dan kesuburan pulau Canala tercampakkan, karena ketakutan penduduk oleh mitos yang selama ini menyelimutinya.


__ADS_2