
Bulan malam itu tampak bersinar terang, cahayanya mampu menembus rimbunnya dedaunan di dalam hutan, membentuk bayangan pohon yang menari-nari terhembus angin. Ranu yang tampak begitu senang karena baru kali ini dia merasakan melalui sebuah perjalanan dengan menaiki Serigala raksasa, terlihat selalu tersenyum.
" mau kemana kita sekarang guru? " Tanya Ranu yang tampak masih asik naik di punggung Riswana menikmati perjalanannya.
" Kita akan ke dusun Grigis yang berada di tepi danau Tirtanara " jawab Rajendra sambil menatap Riswana seolah dia melihat jawabannya disitu.
" Apa tempat itu masih jauh??"
" Entahlah? Riswana yang akan menuntun kita menuju kesana "
" Jika kita berjalan seperti ini mungkin dua atau tiga hari lagi baru sampai.." ucap Riswana menyela pembicaraan.
Perjalanan mereka ke dusun Grigis adalah untuk mencari keberadaan Nadinari ruh air atau biasa disebut Nadira saat menjelma menjadi ular hijau. Menurut cerita Riswana sesaat sebelum mereka meninggalkan desa Maruya, Danau Tirtanara adalah tempat yang terdekat dibanding tempat disembunyikannya ke ruh penjaga lainnya. Rajendra yang merasa jika sekarang menemukan ke empat ruh penjaga itu adalah tanggung jawabnya kemudian memutuskan untuk segera menuju ke tempat itu. Malam semakin larut dan sepertinya mereka harus istirahat dan bermalam di hutan,
" Sepertinya ini tempat yang cukup bagus untuk beristirahat " kata Rajendra ketika melihat sebuah tempat yang landai dan berumput pendek.
" Apa kita akan berhenti sekarang??" Jawab Ranu seolah kecewa karena harus turun dari punggung Riswana.
" Ya, kita harus bermalam disini, tak perlu terburu-buru untuk sampai ke sana " jawab Rajendra yang menangkap nada kekecewaan dalam ucapan muridnya.
Ranu pun akhirnya menurut, dia pun melompat turun dari punggung Riswana dan Riswana pun merubah dirinya ke wujud manusia. Ranu pun kemudian menghamparkan tikar buluh yang dibawanya, setelah dirasa cukup rapi dia pun mempersilahkan gurunya untuk duduk dan diapun menyusul.
" Apa bisa kita makan perbekalan yang kita bawa lagi guru? " Tanya Ranu.
__ADS_1
" Ya, buka saja.." jawab Rajendra yang terlihat sedang meluruskan kakinya.
Ketika Ranu membuka bungkusan yang diberikan Darya Kepala Desa Maruya, dia menemukan bungkusan kecil yang terlihat bukan berisi makanan.
" Apa ini guru " tanya Ranu menunjukan kantung yang dia temukan.
Rajendra pun menoleh dan mengambil kantung dari tangan Ranu, setelah dipegangnya dia meremas kantung itu dan tanpa membukanya pun Rajendra tahu jika isi dari bungkusan itu adalah kepingan uang. " Inikah wujud rasa terima kasih Darya?? " Kata Rajendra dalam hatinya. Sesaat dia terpikir untuk mengembalikannya mengingat dirinya sudah terlalu banyak merepotkan nya tapi setelah dipikir lagi kemungkinan jika dia kembalikan akan membuat Darya kecewa. Diapun akhirnya menyimpan kantung itu didalam bajunya dan mengucapkan terimakasih dalam batinnya.
" Jika sudah menyelesaikan makannya lekas tidur " kata Rajendra pada Ranu sambil membaringkan badannya yang sudah lelah.
" Baik guru, apa guru tidak mau makan? "
" Aku belum lapar " Jawab Rajendra yang sudah mulai menutup matanya.
Melihat gurunya yang sudah tertidur Ranu pun beringsut menjauh agar tak mengganggu istirahatnya, wajah gurunya yang tampak begitu nyaman membuatnya tak tega jika gerakan atau suaranya akan mengusik ketenangan sang guru. Ranu pun kemudian menikmati makanannya sambil menengadah ke atas menatap keindahan bulan Purnama.
Sementara itu suasana hutan Wanamawa begitu sunyi, bulan terlihat bersinar dalam bulatannya yang sempurna, desir suara angin dan bunyi burung celepuk yang terdengar sesekali membuat keadaan terkesan angker.
Dalam kegelapan hutan malam itu terlihat dua sosok yang sedang duduk menyilakan kakinya, sosok itu tak lain adalah Patih Pramana dan Wanara yang tengah bersiap melakukan ritual persyaratan untuk mempelajari ajian Atmaanjana, karena malam itu tepat malam purnama.
" Apa anda sudah siap tuan? " Tanya Wanara yang terlihat membawa mangkuk berisi darah.
" Aku selalu siap " jawab Pramana mantap.
__ADS_1
Wanara pun kemudian tampak mempersiapkan ritualnya, matanya mulai tertutup dan mulutnya terlihat komat-kamit merapalkan sebuah mantra, setelah selesai dia sodorkan mangkuk yang berisi cairan merah itu kepada Patih Pramana.
" Minumlah ini tuan " katanya kemudian.
" Darah apa ini " tanya Pramana mencoba bertanya.
" Apa anda sungguh ingin tahu? "
" Tidak, tak penting darah apa pun ini aku tetap akan meminumnya " kata Patih Pramana, setelah meyakinkan hatinya sekali lagi, dia minum darah di mangkuk itu dalam sekali tegukan. Terlihat darah keluar dari ujung bibirnya karena mulutnya yang terlalu penuh, sungguh gambaran seseorang yang tampak mengerikan yang sudah dibutakan oleh ambisi.
Setelah melihat Patih Pramana menghabiskan darah dalam mangkuk yang dia berikan Wanara pun mulai mengatakan syarat selanjutnya yang harus dipenuhi,
" Setelah ini anda harus bertapa dibawah pohon besar itu sampai purnama berikutnya, tanpa makan dan minum dan akan mengabaikan segala gangguan yang mungkin akan menggoda anda dalam pertapaan yang tuan jalani. " Ucap Wanara menjelaskan.
" Hanya itu?? " Jawab Pramana tampak meremehkan syarat yang diajukan Wanara.
" Ya, hanya itu " kata Wanara mengulang kata-kata Patih Pramana, tapi senyum tipis tersingkap dari bibirnya seolah menyembunyikan sesuatu.
Patih Pramana pun sudah terlihat berjalan kearah pohon besar yang sepertinya berada di pusat hutan Wanamawa, diapun mencari tempat yang cocok dan mulai mengambil sikap untuk menjalani pertapaannya. Tanpa bergeming Wanara hanya melihat gerak gerik Patih Pramana dari tempatnya " apa dia akan sanggup? " kata Wanara dalam hati. Karena memang inilah pertama kalinya dia mengajarkan ajian itu pada manusia tentu saja keraguan akan keberhasilan Patih Pramana sangat besar.
" Aku harus pergi sekarang " kata Wanara pelan seolah ingat ada yang harus dilakukan, wujudnya pun seketika menghilang. Wanara ternyata pergi ke negeri siluman disana dia mencari beberapa siluman, nantinya siluman-siluman pilihan Wanara itu akan diperintahkan untuk menggoda dan memberikan ujian pada Patih Pramana dalam pertapaannya.
Setelah merasa cukup menentukan pilihannya, Wanara pun mengajak beberapa siluman itu pergi ke hutan Wanamawa. Sesampainya di hutan Wanamawa, Wanara mulai menjelaskan kepada anak buahnya apa yang harus mereka lakukan. Setidaknya ada tujuh siluman yang dia bawa, ujian dalam pertapaan itu meliputi kekuatan fisik, menipiskan hati nurani dan ujian hawa nafsu.
__ADS_1
Maka di sepuluh hari pertama dia meminta dua siluman yang mempunyai kemampuan memunculkan air dan yang bisa membuat api untuk silih berganti menguji kekuatan tubuh Patih Pramana. Selanjutnya di sepuluh hari berikutnya dia ingin menguji Patih Pramana agar tidak lagi memiliki hati nurani, ujian yang akan membuat sifat siluman tumbuh dalam diri Patih Pramana yaitu sifat kejam tak mengenal iba, tak kenal kasih sayang dan jauh dari sifat manusiawi.
Dan dihari-hari terakhir, ujian yang paling berat bagi kaum lelaki akan dia hadapi, Wanara akan menyuruh lima siluman untuk menjelma menjadi wanita-wanita cantik yang nyaris tanpa busana untuk terus menggoda nafsu dari Patih Pramana. Ujian yang kiranya akan membuat lelaki manapun tergoda dan melupakan tujuan utamanya.