
Setelah melalui dua hari perjalanan melewati jalan berkelok khas pegunungan, kini Rajendra dan Ranu sudah sampai ke sebuah tempat berupa dataran yang luas mungkin tempat itu adalah puncak dari jalan pegunungan yang mereka lalui.
Dari sana mereka sudah dapat melihat luasnya danau Tirtanara, terlihat beberapa perahu yang tersandar di beberapa tepian danau. Mengartikan jika penduduk di desa Grigis selain bertani, mereka juga menangkap ikan untuk menutupi kebutuhan hidup mereka.
Rajendra dan Ranu yang selama ini belum pernah melihat danau yang begitu luas tampak terpesona melihatnya, dari atas sana air di danau itu tampak berkilau memantulkan cahaya matahari.
" Apa kita akan kesana guru " tanya Ranu sambil melihat ke arah wajah gurunya yang masih memandang ke arah danau.
" Ya kita akan kesana " jawab Rajendra tanpa menoleh. Tatapannya masih lekat ke arah danau tapi kini pandangannya terfokus pada tempat yang ada di tengah danau, ternyata jika diperhatikan lagi ditengah-tengah danau Tirtanara terdapat sebuah daratan, mirip sebuah pulau ditengah lautan yang luas. Firasatnya mengatakan jika kemungkinan dia akan menemukan Nadinari ruh penjaga air itu disana.
Ranu yang sudah tak sabar lagi melihat danau itu dari dekat tampak sudah melesat menuruni jalan yang terjal menurun itu,
" Ayo guru lekas kesana " teriak Ranu yang sudah tak terlihat lagi oleh Rajendra
" Hati-hati, perhatikan langkahmu " jawab Rajendra setengah berteriak mengingatkan muridnya karena khawatir melihat terjalnya jalan setapak di depannya. karena tak mendengar jawaban dari Ranu, Rajendra pun menyuruh Riswana untuk menjaganya.
" Susul dan jaga dia, anak itu selalu saja terlalu bersemangat " katanya pada Riswana yang tidak menampakan wujudnya.
" Baik tuan " jawab Riswana tak membantah.
Ranu yang tak mengindahkan peringatan gurunya tampak masih berlari menuruni jalan itu, ketika jalanan yang dia lewati ternyata berbelok dia tampak tak dapat menghentikan laju larinya karena menyangka dirinya akan terperosok dia hanya bisa berteriak " tolong...." .
Selangkah lagi sebelum Ranu jatuh terperosok, Riswana sudah sampai ke tempat itu dan berhasil menahan laju Ranu. Kaget karena langkahnya tiba-tiba bisa berhenti dia pun tampak lega karena berhasil selamat,
" Kamu baik-baik saja? " Tanya Riswana.
__ADS_1
Meski Ranu tak melihat wujud yang bertanya itu dirinya paham jika itu adalah suara Riswana, Ranu pun akhirnya tahu jika dirinya baru saja diselamatkan oleh Riswana.
" Ah rupanya kau yang telah menyelamatkan aku, terima kasih aku baik-baik saja sekarang " jawab Ranu sambil menoleh kanan kiri karena tak tahu dimana Riswana berada.
" Berterima kasihlah pada guru mu yang mengkhawatirkan mu dia yang menyuruhku untuk menjaga mu " ucap riswana lagi.
Tak lama Rajendra pun sudah sampai ketempat itu, dia yang samar-samar mendengar teriakan Ranu segera mempercepat langkahnya. Ketika dia melihat Ranu baik-baik saja hatinya pun lega.
" Apa yang terjadi " tanyanya kemudian.
" Saya tadi hampir terperosok guru, tapi untung Riswana yang guru suruh menjagaku berhasil menyelamatkan ku tepat pada waktunya, terimakasih guru " jawab Ranu menjelaskan kejadian yang baru saja dialaminya.
" Syukurlah jika kamu baik-baik saja, sekarang tak usah jalan terburu-buru " perintah Rajendra pada Ranu.
Beberapa waktu kemudian mereka telah berhasil melewati jalan yang terjal dan kini sudah sampai di jalan menuju desa Grigis, dari jauh mereka bisa melihat sebuah gubug yang sepertinya sebuah kedai. Ketika sampai di gubug yang memang membuka kedai itu Rajendra pun mengajak Ranu untuk singgah beristirahat disitu, mereka pun mengambil tempat duduk yang kosong.
" Mau pesan apa? " Tanya pemilik kedai yang sudah datang menghampiri mereka.
" Makanan apa saja dan dua minuman yang segar " jawab Rajendra.
" Baik tunggu sebentar " ucap orang itu yang segera pergi menyiapkan pesanan mereka.
Sambil menunggu pesanannya datang Rajendra pun melihat sekeliling dan diapun melihat jika kedai itu juga menjual atau mungkin menyewakan peralatan memancing.
" Silahkan, apa kalian mau ke danau Tirtanara untuk memancing? " Tanya pemilik kedai itu sambil meletakan pesanan di atas meja, tentu saja dia tahu jika Rajendra adalah pendatang.
__ADS_1
" Tidak, kami hanya mau melihat danau Tirtanara dari dekat saja " jawab Rajendra sekenanya.
" Oh.. kalau begitu saya permisi, silahkan menikmati hidangan anda " ucap penjaga kedai itu sedikit kecewa karena tak bisa menawarkan peralatan pancing yang dia punya.
" Orang aneh " katanya dalam hati, karena pemilik kedai tahu jika kebanyakan orang asing yang datang ke danau Tirtanara bertujuan untuk memancing.
Rajendra pun kemudian segera menikmati hidangan yang sudah dipesannya, di sela-sela makan dia sempat berbicara dengan Riswana yang duduk didepannya tanpa menunjukan wujudnya, jadi orang yang melihat tak akan merasa aneh karena mengira dia sedang berbicara dengan Ranu.
" Jadi menurutmu Nadira ada daratan di tengah danau Tirtanara itu? " Tanya Rajendra pada Riswana.
" Besar kemungkinan itu tuan, saya sudah bisa merasakan hawa keberadaannya " jawab Riswana.
" Jadi sebenarnya apakah kalian itu sebangsa siluman? "
" Bukan tuan, kami sangat berbeda dengan mahkluk siluman "
" Dan apa yang membedakan kalian itu? "
Riswana tampak terdiam, kemudian dia menceritakan hal dan sifat yang membedakan dirinya dan siluman. Para ruh penjaga sebenarnya diciptakan dari energi alam, mereka adalah energi murni yang diberikan ruh oleh dewa-dewa dan menjadi memiliki wujud.
Para dewa atau orang yang tahu tentang mereka menyebut dengan nama Atmik, Para Atmik hanya bisa merubah wujudnya menjadi wujud mereka yang sebenarnya. Mereka tak bisa berubah meniru wujud mahkluk atau sosok lain. para Atmik juga tidak mempunyai keinginan atau hasrat pada dirinya sehingga mereka tidak punya keinginan untuk bertarung, mereka hanya akan bertarung jika untuk mempertahankan diri atau melindungi wilayah kekuasaannya dari perusak. Dan yang paling membedakan para Atmik tidak takut terkena sinar matahari secara langsung.
Sedangkan siluman mereka cenderung berhasrat jahat, kekejaman dan keserakahan menjadi ciri khas mereka, tanpa segan mereka akan menyerang atau bertarung untuk memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Siluman juga bisa merubah wujudnya menirukan orang yang diinginkan, mereka biasanya melakukan itu untuk menggoda atau mencari mangsa orang-orang yang sudah dibutakan keinginan duniawi. Dan bangsa siluman hanya bisa melakukan kejahatannya di malam hari karena mereka takut dengan sinar matahari. Tubuh mereka akan terbakar jika terkena cahaya matahari.
Puas mendengar penjelasan panjang dari Riswana, Rajendra pun memahami perbedaan ke duanya. Merasa sudah cukup beristirahat dan menghabiskan pesanannya Rajendra pun mengajak mereka untuk melanjutkan perjalanan. Setelah membayar pesanan, mereka pun keluar dari kedai itu dan berjalan menuju danau Tirtanara yang sudah berada di depan mata. Dilihat dari tempat mereka sekarang danau itu nampak seperti hamparan air yang tak bertepi.
__ADS_1