
Malam ketika Rajendra datang ke rumah kepala desa, mereka disambut tuan rumah dengan ramah. Dhipa pun tak merasa keberatan saat Rajendra mengutarakan permintaanya padanya,
"Malam ini saya ada sedikit urusan, bolehkan kiranya jika malam ini anak ini menginap ditempat bapak?" Pinta Rajendra sambil mengusap kepala Ranu.
"Tentu saja boleh, saya pastikan dia akan baik-baik saja saat anda kembali!" Jawab Dhipa dengan senyuman yang tulus.
Ranu menatap ke arah gurunya, dia memang terdiam tapi dalam hatinya berdoa agar gurunya bisa lekas kembali dengan selamat. Sebelumnya Rajendra sudah membuat sebuah rencana dengan para Atmik,
"Tempat yang akan kita tuju itu cukup tinggi, apakah kalian bisa terbang mencapai ketinggian pulau langit?" Rajendra bertanya pada semua Atmik.
"Saya rasa hanya Bayurajata yang kiranya bisa mencapai tempat itu" Nadira mengemukakan pendapatnya, Riswana pun tampak mengangguk setuju.
Bayurajata terdiam berpikir, dirinya menyadari jika dibanding Atmik yang lain tentunya dia yang bisa terbang paling tinggi. Tapi karena dirinya juga belum mengetahui setinggi apa pulau langit di atas sana, tentu saja dia tak dapat memastikan akan berhasil mencapai pulau itu, dengan menyisakan sedikit keraguan dia akhirnya berkata "Akan ku usahakan yang terbaik untuk bisa mencapai pulau langit".
Rajendra mengangguk, rencana sudah diputuskan. Dirinya juga beranggapan jika lebih baik hanya sedikit saja yang pergi, karena mereka berniat menyusup maka akan lebih mudah dilakukan berdua dari pada mereka datang berempat.
Setelah mendengarkan Rencana gurunya Ranu merasa tenang karena tahu dirinya ditemani oleh Riswana dan Nadira. Ranu tahu Gurunya hanya akan pergi dengan Bayurajata, karena hanya dialah yang bisa terbang lebih tinggi dari ke dua Atmik yang lain.
Setelah berpamitan dengan tuan rumah dan mengucapkan terimakasihnya, Rajendra pun bergegas pergi ke lubang bekas Gunung Prabatatunu. Bayurajata beranggapan akan lebih mudah untuk terbang menuju pulau langit dari tempat itu. Rajendra menatap jauh keatas kepalanya, dan Bayurajata pun sudah berubah ke wujud Atmik nya. Rajendra segera naik ke punggung Atmik Angin dan duduk diantara sayapnya.
"Anda siap?"
__ADS_1
"Ya" Jawab Rajendra memantapkan posisi duduknya.
Elang perak itu pun segera melesat terbang memutar makin lama semakin tinggi, hingga akhirnya mereka menembus sebuah awan besar dan kini sudah dapat mereka melihat deretan pulau di atas sana. Bayurajata merasa takjub dengan apa yang dilihatnya saat ini, dirinya bahkan tak pernah membayangkan sebelumnya jika ternyata ada mahkluk yang bisa membangun sebuah peradaban di atas langit.
Atas perintah Rajendra kini bayurajata terbang mengelilingi pulau itu dengan perlahan, dia hanya merentangkan sayapnya dan membuat kepakan kecil untuk membuat sedikit sekali bunyi.
"Itu disana seperti nya gunung Prabatatunu yang ada di pulau itu" tunjuk Rajendra dengan jari nya pada Bayurajata.
Memahami arah yang ditunjuk Rajendra dirinya pun terbang mendekati pulau yang ditunjuk, setelah melihat gunung itu terlihat kawahnya masih aktif Bayurajata setuju dengan pendapat Rajendra.
"Apa kita akan turun sekarang?" Bayurajata menanyakan keinginan Rajendra.
"Kita mendarat di sebelah sana!" Kata Rajendra sambil menunjuk sebuah tempat yang cukup landai di kaki gunung Prabatatunu.
"Baik" Jawab Bayurajata, tanpa banyak kata lagi dirinya segera meluncur turun ke arah yang ditunjuk Rajendra.
Belum lagi lama Elang perak itu mendaratkan kakinya ke tanah, sorot-sorot cahaya terang tiba-tiba mengarah ke mereka diikuti sebuah suara yang membuat mereka tersentak kaget.
"Jangan bergerak, dan jangan coba-coba untuk kabur!!" Seri suara itu diikuti oleh todongan berbagai macam senjata ke arah mereka.
Bayurajata yang merasakan akan bahaya berusaha untuk segera terbang kembali, tapi Rajendra mencegahnya. Rajendra tercengang, dirinya tak pernah menyangka jika mahkluk-mahkluk yang kini tengah mengepungnya itu ternyata bisa menyembunyikan hawa keberadaan mereka. Setelah kini dia menyadarinya dia mencegah Bayurajata untuk terbang karena Rajendra tahu jika diantara mahkluk misterius itu juga sudah siap dengan bidikan panahnya.
__ADS_1
Melihat tak ada peluang untuk kabur dan tak ingin melihat Atmik Angin terluka Rajendra pun memilih untuk menyerahkan dirinya. Bayurajata pun kemudian merubah wujudnya ke wujud serupa manusia dan mereka mengikuti saja perintah mahkluk-mahkluk itu. Meskipun sedikit namun dalam hati kecil Rajendra merasa jika mahkluk-mahkluk yang kini sedang menawan mereka itu tidak lah memiliki aura jahat.
Mereka kini sedang diarahkan ke sebuah puri yang Rajendra lihat ketika dia menggunakan Ajian Bajlasukla untuk memeriksa tempat ini. Puri itu tidaklah sebesar yang mereka kira, karena saat memasuki pintunya mereka harus menundukkan kepalanya.
Dalam terang cahaya akhirnya Rajendra dapat melihat dengan jelas mahkluk-mahkluk yang membawa mereka. Mahkluk itu memang berwujud manusia tapi tidaklah setinggi manusia normal, mungkin hanya setinggi satu meter. Tapi semua mahkluk itu nampak rupawan dan dari belakang punggung mereka semuanya tampak bersayap. Beberapa diantaranya yang sayapnya serupa dengan sayap burung tampak seperti memakai baju zirah. Rajendra berpendapat jika yang bersayap serupa burung dan berbaju zirah adalah para prajurit, karena dia dapat merasakan aura kekuatan yang besar dari mereka.
Akhirnya mereka dibawa ke sebuah tempat di pusat puri itu. Di hadapan mereka tampak sosok yang duduk di atas sebuah singgasana, tanpa perlu diberitahu mereka paham jika sosok itu adalah Ratu kerajaan mereka.
Sosok itu sekejap berdiri menyambut kedatangan mereka, wujudnya yang serupa wanita dengan mahkota yang berkilau tampak begitu anggun. Kecantikan dari ratu itu bahkan tak dapat diungkapkan dengan sebuah kata-kata pujian. Kerupawanan ratu itu mengingatkan Rajendra dengan dongeng kecantikan bidadari yang sering dia dengar sewaktu kecil. Setelah mengamati ke duanya Ratu itu terbang mendekat kemudian mengitari mereka, Ratu itu kemudian kembali terbang ke singgasananya.
"Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan di sini?" Tanya Ratu itu.
Ratu itu hanya sedang mengajukan sebuah pertanyaan untuk menguji kejujuran. Karena sesungguhnya dia sudah tahu jika tujuan mereka datang ke daerah kekuasaannya untuk mencari keberadaan Atmik Api. Tanpa sepengetahuan Rajendra dan yang lain, mahkluk-mahkluk itu sudah menyadari kehadiran Rajendra dan Atmik lain di desa Wiyati. Tentu saja mengawasi dari atas dan dengan kekuatan yang Ratu itu miliki hal itu tentu terlihat dengan jelas baginya.
"Saya Rajendra dan dia Bayurajata, saya datang ke sini untuk mencoba menemukan Atmik Api yang ada di gunung Prabatatunu" Jawab Rajendra apa adanya, dirinya tak mungkin berbohong karena hanya akan terlihat bodoh jika tak mengatakan tujuan sebenarnya untuk apa mereka jauh-jauh datang ke pulau langit.
"Aku senang dengan kejujuran mu anak muda" Kata Ratu itu "Namaku Putri Laksmi aku adalah Ratu dari kerajaan, aku akan membantumu menemukan Atmik itu" lanjutnya memperkenalkan dirinya.
Rajendra terdiam mendengarkan, entah karena terpesona oleh apa yang dilihatnya sekarang, atau dirinya sedang berpikir siapakah sebenarnya mahkluk-mahkluk ini. Dalam diam pula dirinya berharap jika mereka semua bukanlah musuh yang harus dia hadapi.
__ADS_1