
Hujan sudah makin mereda, keadaan di hutan Wanamawa menjadi sunyi, hanya bunyi air yang berjatuhan dari daun yang tertiup angin terdengar sesekali. Patih Pramana terlihat duduk dengan tenang di sebuah batu yang terletak tak jauh dari tempat Wanara tergelatak masih tak sadarkan diri. Sepertinya dia dengan sabar menunggu sampai Wanara siuman, akhirnya tangan Wanara terlihat mulai bergerak matanya mulai terbuka dan diapun terduduk sambil memegang kepalanya.
Tatapannya langsung tertuju pada Patih Pramana yang duduk di sebuah batu,kini dapat dilihat dengan jelas oleh matanya aura ilmu kanuragan yang terpancar dari sosok yang telah mengalahkannya, dalam hatinya Wanara merasa merasa malu bagaimana bisa dirinya tadi begitu meremehkan kekuatan lawannya itu. Lamunannya seketika buyar ketika dia mendengar suara,
" Sudah siuman engkau? " Tanya Patih Pramana.
" Sudah tuan, kalau hamba boleh tahu siapakah nama tuan? " Wanara balik bertanya, karena merasa penasaran dengan sosok yang mengalahkannya.
" Namaku Pramana orang mengenalku dengan sebutan Patih Pramana " kata Pramana bangga dengan gelarnya.
Keterkejutan tapi bisa disembunyikan dari wajah Wanara, " jadi inilah orang yang bernama Patih Pramana itu " katanya dalam hati.
" Ampun tuan lalu apakah yang tuan inginkan dari hamba? " kata Wanara sambil membenarkan posisi duduk menghadap Patih Pramana.
" Aku sedang kesulitan mencari Pedang Hitam, dan ketika aku bertapa aku mendapatkan petunjuk untuk menemui mu disini, apa engkau tahu dimana Pedang Hitam itu berada? " Kata Patih Pramana menjelaskan maksudnya.
Wanara tertegun sesaat, agaknya dia heran dari mana Patih Pramana bisa tahu Mitos itu. Karena hanya sedikit saja orang yang tahu tentang Legenda Pedang Hitam, cerita itu hanya di ketahui oleh kaum-kaum bangsawan keturunan Raja. Tapi karena orang ini seorang Patih kemungkinan Rajanya telah menceritakan padanya pikir Wanara kemudian.
" Apa yang anda tahu tentang Pedang Hitam tuan? " Wanara balik bertanya.
" Yang aku ketahui hanyalah pedang itu bisa mendatangkan kekuatan yang hebat bagi pemiliknya, dan yang aku dengar pedang itu berada di gunung Rhimalaya, tapi ketika aku menghabiskan banyak waktu untuk mencarinya disana aku sama sekali tak menemukannya " kata Patih Pramana berterus terang.
" Biarpun tuan menghabiskan waktu seribu tahun untuk mencarinya tak akan bisa tuan menemukan Pedang Hitam, Karena sejatinya pedang Hitam itu bukan dicari tapi diberikan " ucap Wanara
__ADS_1
Patih Pramana terdiam agaknya sedang memikirkan setiap kata dari Wanara karena ucapan itu membingungkan nya diapun tak dapat mengartikannya,
" Aku tidak tahu maksud ucapan mu? jelaskan semua padaku sekarang ! " Titah Patih Pramana.
" Akan hamba jelaskan tuan....."
Dalam penjelasan Wanara yang panjang itu dikatakan jika Pedang Hitam tidak lah berwujud Sebuah Senjata atau benda, tapi pedang Hitam akan tercipta saat ada orang yang berhasil menguasai dua ilmu hitam yang masing-masing akan diajarkan pada dua siluman yang berbeda, ke dua ilmu hitam itu adalah Ajian Atmaanjana dan Ajian Candanisukma. Orang yang berhasil menguasai ke dua ilmu itu maka dirinya akan mampu membuat aura berwarna hitam ditangannya dan dengan aura itu maka senjata apapun yang sedang dipegangnya akan berubah seolah menjadi berwarna hitam pekat, konon senjata yang sudah terselimuti aura itu akan mampu membelah apa saja yang diinginkan pemiliknya.
Wanara yang berwujud siluman kera hitam akan mengajarkan Ajian Atmaanjana, orang yang bisa menguasai ilmu itu maka tubuhnya akan kekal dirinya tidak akan bisa mati selama kakinya memijak tanah. Akan tetapi resiko yang harus ditanggung orang yang mau belajar ilmu itu adalah dirinya akan bersekutu dengan iblis, karenanya syarat pertama yang harus dipenuhi orang yang akan mempelajari ilmu hitam itu adalah meminum darah segar sebagai isyarat dirinya telah mengabdikan jiwanya untuk iblis.
Apabila seseorang telah berhasil menguasai ajian Atmaanjana maka kemudian dia akan mendapat petunjuk, dimana tempat dia harus menemui siluman Shengkara yang merupakan penjelmaan seekor tikus hitam darinya dia akan mempelajari ajian Candanisukma, ajian yang akan membuat orang yang sudah menguasainya menjadi punya tubuh yang kebal.
Ketika cerita dari Wanara telah selesai, Patih pramana terdiam cukup lama agaknya dirinya sedang memikirkan sesuatu atau barangkali sedang merencanakan sesuatu. Sesaat terukir senyum licik di wajahnya seolah dia telah merumuskan sesuatu.
Wanara yang awalnya mengira akan melihat keraguan pada Patih Pramana setelah tau efek dari orang yang akan mempelajari ilmu hitam tampaknya sia-sia. Karena Wanara tidak tahu seberapa ambisius dan kegilaan Patih Pramana terhadap semua ilmu bela diri tak peduli apakah ilmu itu akan membuatnya menjadi setengah siluman yang ada dalam pikirannya hanyalah dia ingin menjadi Pendekar terkuat yang pernah ada.
" Baiklah akan hamba ajarkan pada tuan apa saja yang harus dilakukan oleh tuan untuk mempelajari ajian Atmaanjana, sekarang lebih baik tuan beristirahat dulu karena hari sudah hampir pagi " jawab Wanara.
Tak ada pilihan lain baginya, karena dirinya yang sudah dikalahkan oleh Patih Pramana maka mau tidak mau dirinya harus mengabdikan diri pada Patih Pramana, dan harus menuruti segala perintah yang dia berikan.
" Aku tak butuh istirahat, ajarkan saja apa yang harus aku lakukan sekarang juga " sanggah Patih Pramana tak sabar.
" Bukan begitu tuan, tapi untuk mempelajari ilmu atmaanjana adalah anda harus menunggu saat bulan purnama datang, dan ketika tepat tengah malam anda akan menjalani ritual pertama dengan meminum darah sebagai ikatan perjanjian dengan iblis yang akan menurunkan ilmu itu kepada anda " Ucap Wanara menjelaskan maksudnya.
__ADS_1
Patih Pramana mendengus, kemudian menghela nafas sepertinya sedang mencoba membentuk kesabaran,
" Dan kapan malam purnama itu akan datang? " katanya kemudian.
" Tiga malam dari sekarang tuan "
" Itu cukup lama, dan apa yang mesti kulakukan untuk menunggu malam itu? "
" Anda bisa lakukan apa saja tuan tapi alangkah baiknya anda gunakan waktu itu untuk beristirahat untuk memulihkan tenaga anda " kata Wanara sambil bangkit berdiri seolah hendak pergi.
" Ditengah hutan begini dimana aku bisa beristirahat? " Tanya Patih Pramana.
" Mari ikut hamba akan hamba tunjukan sebuah tempat untuk anda beristirahat " kata Wanara yang kemudian berjalan menuju ke belakang pohon yang besar.
Patih Pramana pun segera mengikuti langkah Wanara. Kemudian mereka telah sampai ke sebuah gubug yang tampak reyot dan tua, meskipun begitu ketika mereka masuk didalamnya ternyata masih cukup layak untuk ditempati.
" Dulu hamba tinggal disini, silahkan anda habiskan waktu hari-hari ini dengan beristirahat disini " kata Wanara mempersilahkan.
" Dan hendak kemana engkau sekarang?" Tanya Patih Pramana ketika melihat Wanara berjalan keluar.
" Hamba juga perlu beristirahat tuan, sebentar lagi pagi akan datang dan hamba tidak menyukai tempat yang terang " kata Wanara memberi alasan.
" Hemh baik, pergilah " ucap Patih Pramana mengijinkan Wanara pergi.
__ADS_1
Patih Pramana kemudian membaringkan diri dengan bersandar pada ke dua tangannya dirinya tampak melihat ke atas, kilat-kilat sinar terang terlihat di matanya senyuman licik terhias di bibirnya. Entah apa yang sedang ada dalam khayalan Patih Pramana, Rencana apa yang sedang dia bayangkan, untuk saat ini hanya dirinyalah yang tahu.