
Asap terlihat membumbung tinggi diatas desa itu, beberapa rumah penduduk nampak terbakar. Keadaan begitu kacau, teriakan minta tolong , rintihan kesakitan dan tangisan bayi bercampur menjadi satu. Terlihat oleh Rajendra beberapa mayat petani di sepanjang jalan menuju desa, Rajendra merasakan darahnya mendidih melihat pemandangan yang dia lihat sekarang. Sungguh suatu gambaran nyata tindakan kekejaman yang tak kenal rasa iba, dia tak percaya desa yang tadinya begitu damai kini berubah menjadi panggung pembantaian.
Mengambil langkah yang lebih cepat Rajendra pun kini telah sampai dipusat desa, pandangan pertamanya tertuju pada beberapa tawanan wanita yang nampak diikat di belakang kawanan penjahat. Wajah penuh ketakutan dan rasa sakit bercampur jadi satu dapat dia lihat dari tawanan yang diikat oleh kawanan penjahat itu, Rajendra harus bertindak cepat.
Dia mulai memperkirakan jumlah dan kekuatan musuh yang sedang dia hadapi, menafsirkan dari mana kemungkinan datangnya serangan. Setelah memperhatikan dia perkirakan ada 30 atau mungkin lebih karena tak menutup kemungkinan masih ada kawanan lain yang sedang bersembunyi selain gerombolan yang sekarang sedang dihadapinya.
Semuanya tampak berotot keras dan kebengisan terpancar jelas dari wajah-wajah mereka. Dia menilai kawanan penjahat yang di hadapinya kini terlihat seperti suku primitif mereka pasti tinggal tak menetap , merampok dan melakukan penjarahan di desa yang mereka lewati adalah cara mereka untuk memperoleh makanan dan barang yang mereka butuhkan.
"Siapa kau?, berani-beraninya menghalangi kami!" Teriak sebuah suara dari arah belakang, terlihat orang yang berteriak itu berdiri angkuh bertopang pada tombak kapak didekat para tawanan yang sedang diikat.
"Kau tak kenal aku?" Kata Rajendra mantap , sambil berjalan tenang mendekati kawanan penjahat.
"Apa pentingnya mengenalmu? habisi dia!" Teriak orang itu lagi sambil mengeluarkan perintah, nampaknya orang itu pemimpin kawanan penjahat.
Seketika serangan dan teriakan para penjahat itu menerjang Rajendra.
__ADS_1
"Awrk.. " Teriakan penjahat pertama yang menyerang Rajendra seolah batu besar mencekat tenggorokannya. Serangan penjahat itu dengan mudah Rajendra hindari, gerakannya terlalu cepat hingga tak ada yang sadar senjata yang digunakan untuk menyerang Rajendra sudah berhasil dia rebut.
Tubuh Rajendra melenting dari satu penjahat ke penjahat yang lain, dan tiap kali di berhenti orang yang diincarnya selalu tumbang, melihat beberapa temannya begitu mudah terbunuh oleh musuh yang dihadapinya, kesatuan dari kawanan penjahat itu mulai goyah. Rasa bingung sekaligus takut meresapi pikiran mereka, rasa panik membuat kawanan penjahat itu kehilangan kemampuan bertarung, tak menyia-nyiakan kesempatan Rajendra terus melancarkan serangannya.
Tanpa memberi kesempatan untuk kabur Rajendra menghabisi mereka satu per satu. Pemimpin kawanan penjahat hanya diam terpaku melihat satu per satu anak buahnya terbunuh, dirinya seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya, bagaimana mungkin kawanannya bisa ter bantai oleh satu orang yang tak ia kenali.
Pandangannya sesaat tertuju pada pedang yang ada di punggung Rajendra, sepertinya dia tahu tentang pedang itu dia merasa pernah melihat pedang yang masih ter sarung rapi di balik punggung Rajendra. Ketika akhirnya dia ingat jika itu pedang Legendaris yang pernah dia dengar,
"Apa mungkin orang ini pemilik Pedang Petir?" Katanya dalam hati, hal itu sepertinya sudah terlambat disadari pemimpin kawanan itu. Karena detik itu juga Rajendra sudah berada tepat dihadapannya dan melancarkan pukulan telak ke tubuhnya, begitu cepat gerakan Rajendra hingga tak sempat lagi dia melakukan apa-apa.
Rajendra lantas menyapukan pandangan ke sekeliling tempat itu sekedar memastikan jika semua kawanan penjahat itu tak tersisa, jikapun ada yang berhasil lolos kecil kemungkinan mereka akan kembali. Setelah melepaskan ikatan para tawanan wanita , diapun memandamkan api yang membakar beberapa rumah, penduduk yang selamat pun nampak mulai bermunculan dari tempat persembunyian dan membantu memadamkan api.
Penduduk yang selamat itu seolah tak percaya ketika beberapa tawanan wanita yang tadi diikat menceritakan semua kejadian yang mereka lihat, mereka hanya terbengong seolah tak percaya dengan apa yang mereka dengar. Ketika mereka mempercayai cerita itu, rasa terima kasih dan syukur tak dapat lagi disembunyikan, mereka beramai-ramai menghadap ke depan Rajendra dan menundukkan kepala menunjukan rasa hormat dan terima kasih . Rajendra dengan rendah hati menepis semua penghormatan itu dengan mengatakan,
"Aku hanya melaksanakan kewajiban ku"
__ADS_1
Kerendahan hati pemuda yang telah menolong mereka itu makin memperbesar kekaguman penduduk desa. Melihat kebingungan beberapa orang penduduk yang terlihat dari cara mereka melihat sekeliling dengan perasaan putus asa, Rajendra pun berusaha menghibur dan membesarkan hati mereka, setelah terlihat keyakinan penduduk Rajendra kemudian menyuruh mereka untuk saling bekerja sama membereskan kekacauan itu.
Senang dengan kehadiran sosok pahlawan itu penduduk pun nampak bersemangat, mereka kemudian bergotong-royong membereskan keadaan desanya.
Sebagian penduduk mengubur mayat, sebagian yang lain membereskan reruntuhan, ketika langit mulai gelap penduduk seolah tak percaya jika bisa membereskan semuanya secepat ini. Mereka kemudian membuat api unggun di tengah desa dan berkumpul, mengadakan upacara kecil untuk mengucapkan terima kasih pada dewa-dewa yang masih berkenan menyelamatkan mereka, beberapa penduduk berinisiatif mengambil makanan yang masih ada dirumahnya. Ditengah suasana haru dan syukur itu seseorang bertanya "Bagaiman jika mereka kembali?"
Keadaan pun tiba-tiba jadi sunyi dan penuh tanya.
"Mereka tak akan kembali, jikapun nanti mereka kembali aku akan membuat kalian siap menghadapinya" Kata Rajendra memecah keheningan itu dengan suaranya yang mantap.
Mendengar kata-kata Rajendra yang penuh keyakinan itu penduduk desa pun menjadi tenang, ada semacam semangat yang dapat mereka rasakan ketika berada di dekat sosok pemuda yang menjadi pahlawan itu. Ranu yang berada di sebelah Rajendra pun sedang menatap kagum ke arah muka sang guru, dalam sinar api yang kemerahan itu muka gurunya terlihat begitu indah seperti sosok dewa yang sering dia bayangkan ketika mendengar cerita-cerita orang.
Tenggelam dalam rasa kekaguman, keharuan tak dapat Ranu sembunyikan, mata nya kelihatan berkaca memancarkan kebanggaannya bisa mengenal dan memiliki guru seperti Rajendra.
Tanpa Rajendra sadari sesuatu yang telah dia lakukan hari ini telah membuat dirinya dikagumi dan diakui banyak orang. Hal yang dulu sempat membuatnya ragu bisa melaksanakan perintah gurunya, ternyata dapat terwujud dengan cara yang sederhana, yaitu menggunakan kekuatan yang dia miliki untuk melindungi yang lemah dan tertindas. Dengan terus berpijak pada jalan yang telah dia lakukan hari ini perlahan dia akan mampu melaksanakan perintah gurunya. Apa yang dilakukan Rajendra hari ini adalah langkah awal baginya untuk memerangi segala kejahatan di atas negeri ini.
__ADS_1
Malam semakin larut dan penduduk pun membubarkan dirinya pulang ke rumah untuk beristirahat, setelah melewati hari yang begitu melelahkan. Rajendra dan Ranu pun terlihat berjalan beriringan menuju rumahnya, sepanjang perjalan tak habis-habisnya Ranu memuji gurunya. Beberapa penduduk masih sempat melihat ke arah pahlawannya itu hingga sosoknya semakin jauh dan menghilang di tengah kegelapan malam.