Pendekar Pedang Biru

Pendekar Pedang Biru
Kabar Gembira


__ADS_3

Saat itu Nadira yang berwujud Atmik membawa Rajendra di atas kepalanya menyebrangi danau Tirtanara, sesaat sebelum menyentuh tepi danau Rajendra terlihat berdiri dan memegang salah satu tanduk di kepala Nadira. Rajendra kemudian melompat ringan dan berhasil sampai ke tepian tanpa menyentuh air. Nadira yang tahu rencana mereka telah berhasil kemudian menyelam ke dalam danau dan menghilang.


Rajendra disambut langsung oleh Ranu yang berlari dan memeluk nya sambil berurai air mata.


"Guru....aku sempat mengira tak akan melihat guru lagi.." Kata Ranu sambil menenggelamkan wajahnya ke tubuh gurunya.


"Aku sudah kembali, hentikan tangis mu" Ucap Rajendra sambil membelai rambut Ranu. Dia tak menyangka jika Ranu sampai sekhawatir itu, tapi setelah dipikir hal itu wajar saja mengingat Ranu tak punya siapa-siapa lagi selain dirinya. Rajendra pun memaklumi sikap Ranu yang tadinya dia pikir terlalu berlebihan.


Orang-orang masih terlihat termangu keheranan melihat ke dua orang itu, dalam pikiran masing-masing di penuhi sebuah penasaran dan ingin tahu siapa sosok yang baru saja menyebrangi danau dengan seekor ular Raksasa. Kepala desa pun akhirnya terlihat mulai datang dan mendekati mereka,


"Saya Badra kepala desa ini, siapakah nama tuan? dan kalau tidak keberatan bisakah anda menceritakan apa yang baru saja terjadi?" Tanya kepala desa memperkenalkan diri, dia juga menanyakan sesuatu yang mungkin menjadi pertanyaan semua orang yang saat ini ada di tepian danau.


"Nama saya Rajendra, guru dari anak ini, maaf jika mungkin dia telah melakukan sesuatu yang membuat kepanikan di desa" Jawab Rajendra mengenalkan dirinya, melihat banyaknya orang-orang yang saat ini berkumpul di tempat ini Rajendra yakin jika hal itu disebabkan oleh muridnya.


"Ah..tidak masalah dia tidak melakukan sesuatu yang salah, justru kami merasa kagum dengan keberaniannya, dan apa benar tuan dari pulau Canala? Dan apa yang sudah anda lakukan?" Tanya Badra lagi mengganti pertanyaan,sepertinya untuk memastikan jawaban yang didapat cukup menutup rasa penasaran dirinya dan orang lain yang sangat ingin tahu kebenaran atas apa yang mereka lihat. Karena tanpa keterangan dari orang yang saat ini berdiri di hadapan mereka, tak ada jawaban logis yang sekiranya dapat mereka terima untuk menjelaskan sesuatu yang mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri.

__ADS_1


"Tentu saja akan saya jelaskan semuanya" Ucap Rajendra sambil menyapukan tatapannya ke orang-orang yang memperhatikannya.


Rajendra kemudian menceritakan jika dirinya memang dari pulau Canala, dia mengatakan jika sekarang pulau itu sudah aman untuk didatangi. Dia juga membuat orang-orang percaya dengan kata-katanya dengan mengucapkan jika dirinya telah berhasil menaklukan penunggu pulau Canala. Dan ular raksasa yang tadi membawanya menyebrangi danau adalah sosok penunggu pulau, dan diakhir penjelasanya dia mengungkapkan jika Pulau Canala sangat indah dan subur. Terlalu sayang jika membiarkan pulau itu tak berpenghuni, dia juga bersedia mengantar orang-orang untuk pergi ke pulau itu untuk memastikan kebenaran ceritanya.


Setelah mendengar cerita yang disampaikan Rajendra, orang-orang itu terlihat berbisik satu sama lain. Sepertinya keraguan masih sedikit menyelimuti hati mereka, tapi melihat kejadian yang baru saja mereka lihat sulit rasanya untuk tidak mempercayai cerita dari Rajendra.


"Apa benar pulau itu sudah bisa kami datangi" Tanya Badra sekedar memastikan.


"Ya saya bisa jamin itu, jika bapak mau silahkan bawa beberapa perahu dan saya akan mengantarkan kalian" Jawab Rajendra sambil tersenyum.


"Baiklah tolong antar kami kesana, orang-orang itu yang tadinya hendak mengantarkan Ranu untuk mencari anda di pulau Canala" Ucap Badra sambil menunjuk ke arah orang-orang yang berada di samping perahu.


Rajendra melihat ke arah yang ditunjuk kepala desa, merasa jika orang-orang itu telah berniat baik untuk menolong muridnya dirinya pun patut berterima kasih,


"Terima kasih sudah berniat membantu murid saya, mari jika mau ke pulau itu sekarang" Kata Rajendra pada orang-orang itu.

__ADS_1


Rombongan yang terdiri dari 8 orang itu pun akhirnya berangkat ke pulau Canala dengan dua perahu. Ranu tentu saja ikut dalam salah satu perahu itu, tak ada alasan lagi yang bisa melarangnya untuk ikut bersama gurunya. Satu perahu diisi oleh Rajendra, Ranu, Badra dan satu orang penduduk dan perahu yang lain diisi oleh orang yang berniat menolong Ranu sebelumnya. Perjalanan menyebrang danau Tirtanara itu ditempuh dengan cukup cepat, karena kini mereka sudah mendarat kan perahunya tepat di pulau Canala.


Darya dan penduduk yang ikut dalam perjalanan itu pun merasa takjub dengan apa yang mereka lihat di pulau itu. Pohon-pohon tumbuh dengan rimbun, ukurannya yang tinggi dan besar menunjukan usia pepohonan itu yang sudah tua. Selama ini mereka hanya bisa melihat pulau Canala dari kejauhan, dan kini mereka sadar dengan kekayaan alam yang tersimpan di pulau itu.


"Penduduk yang lain harus melihat ini" Kata Badra pada beberapa orang disitu.


"Ya pak, kini penduduk yang suka bertani bisa memikirkan untuk membuka lahan di pulau ini" Kata salah satu penduduk.


Selama ini para petani di desa grigis harus membuka lahannya jauh dari daerah tepian danau, karena tanahnya berpasir dan kurang subur. Tempatnya agak jauh diatas perbukitan, tapi masalah yang harus dihadapi adalah lahan yang mereka pilih jauh dari sumber air. Sehingga butuh tenaga ekstra untuk menyirami dan mengairi tanah pertanian mereka. Tapi di pulau ini mereka dapat melihat jika tanahnya sangat subur, bahkan tanah yang berbatasan langsung dengan air danau. Tentu saja hal itu akan memudahkan para petani untuk mencari sumber air untuk digunakan.


Setelah puas melihat keadaan sekeliling pulau mereka pun segera pulang, Kepala desa dan yang lain sudah tak sabar menyampaikan apa yang mereka lihat pada para penduduk. Terlebih Badra yang selama ini cukup di buat prihatin dengan keluhan beberapa petani di desanya, dan sekarang dia sudah menemukan solusi dari masalah yang dihadapi mereka. Membayangkan kegembiraan penduduk mendengar apa yang nanti akan di sampaikan, membuat Badra tersenyum-senyum sepanjang perjalanan pulang.


Waktu kembali ke desa pun seolah ditempuh lebih singkat dari berangkat. Mungkin karena perbedaan perasaan yang mereka bawa, saat pulang perasaan mereka dipenuhi kebahagian dan semangat. Penduduk segera menyambut kedatangan mereka yang sudah menantikan kabar yang dibawa rombongan itu. Wajah-wajah penuh bahagia pun tampak dari para penduduk ketika Badra menyampaikan yang dia lihat di pulau Canala. Dia pun berharap jika secepatnya penduduk yang berminat bertani untuk segera ke pulau itu. Tapi dia juga menyampaikan pesan yang penting,


"Kalian boleh membuka lahan di pulau itu tapi ingat kalian juga harus tetap menjaga kelestarian hutan disana, jangan seenaknya menebang pohon sembarangan, jika itu kalian lakukan maka penunggu pulau itu akan marah" Ucapan Badra diakhir ceritanya itu adalah pesan yang dititipkan Rajendra padanya.

__ADS_1


Rajendra yang telah membukakan pintu menuju pulau Canala tentu saja merasa bertanggung jawab dengan kelestarian hutan di pulau itu. Dia memang menginginkan pulau itu ditinggali tapi dia juga berharap hutan disana tidak dirusak. Setidaknya hanya sebagian pulau saja yang ditinggali dan tetap menyisakan hutan yang menjadi ciri khas pulau Canala. Puas mendengar pesan yang dia titipkan telah disampaikan Badra, Rajendra pun mengajak Ranu untuk pulang ke gubug, meninggalkan kerumunan orang-orang yang sedang tenggelam dalam kebahagiaan.


__ADS_2