
Desa grigis merupakan sebuah desa yang terlihat berbeda dengan desa lainnya. Jika pada umumnya rumah-rumah di desa lain berkumpul jadi satu di suatu tempat, hal berbeda terlihat di desa Grigis. Rumah-rumah disini tampak menyebar, sebagian berderet di sekitar danau, yang lain berkerumun jauh diatas perbukitan dan sekelompok yang lain dibangun sedikit menjorok ke arah hutan.
Kemungkinan karena adanya sebuah danau di desa itu membuat penduduknya mempunyai pilihan untuk mencari mata pencaharian. Ada yang memilih tetap bertani, sebagian memilih memanfaatkan danau Tirtanara sebagai sumber penghasilannya. Justru karena hal itulah kehidupan di desa itu tetap bisa berjalan seimbang.
Saat itu siang sudah mulai lewat, dari desa Grigis terlihat matahari yang tenggelam seolah masuk ke dalam danau Tirtanara. Cahaya matahari yang hampir tenggelam sepenuhnya itu merubah warna danau menjadi kuning keemasan. Menampilkan gambaran keindahan alam yang sesungguhnya.
Rajendra yang sedang menikmati pemandangan senja itu di sadarkan oleh tangan yang menarik bajunya, diapun menoleh dan tampaklah jika Ranu yang sedari tadi sudah kembali dari memancingnya tampak memanggilnya,
" Guru.. guru..!! " Kata Ranu berkali-kali.
" Oh kau sudah kembali rupanya " jawab Rajendra yang baru menyadari kehadiran muridnya.
" Iya, ikan ini mau diapakan? " Tanya Ranu sambil menunjukan hasil tangkapannya.
" Emh..mungkin kita bisa menyuruh pemilik gubug untuk memasaknya, sana kembalikan joran itu dan kita akan pulang sekarang " perintah Rajendra pada Ranu.
" Baik guru " jawab Ranu yang kemudian tampak segera berlari ke arah kedai dan mengembalikan joran yang di bawa.
Rajendra masih berdiri pada tempatnya dan menatap ke arah danau Tirtanara yang tampak mulai berwarna hitam seiring matahari yang sudah tak lagi terlihat. Tatapannya kemudian terpaku pada daratan yang berada di tengah danau dalam hatinya dia bertanya,
" Jadi tempat itu bernama Pulau Canala, bagaimana caraku untuk pergi ke sana? ".
Belum sempat dia menemukan jawabannya, Ranu yang sudah kembali dari tempat persewaan joran membuyarkan pemikirannya.
Mereka pun tampak sudah berjalan beriringan menuju rumah pemilik penginapan. Tak butuh waktu lama mereka pun telah sampai, kedatangan mereka disambut langsung oleh pemilik penginapan dengan ramah. Rajendra pun kemudian mengutarakan tujuannya pada orang itu
" Apa bapak bisa memasakkan ikan ini buat kami? " Kata Rajendra sambil menunjukan ikan hasil tangkapan muridnya.
" Tentu saja tuan, silahkan anda tunggu di gubug, akan saya antar kan jika sudah matang " jawab pemilik kedai dengan tersenyum.
" Terima kasih, akan saya tunggu disana " kata Rajendra puas dengan jawaban pemilik kedai.
__ADS_1
Rajendra dan Ranu pun telah sampai ke gubug, sambil menunggu pesanannya dia memanggil Riswana untuk diajak berbicara,
" Ada apa tuan? " Tanya Riswana yang seketika menampakan wujud manusianya.
" Aku ingin pergi ke daratan yang ada ditengah danau itu, daratan itu rupanya disebut pulau Canala oleh penduduk, tapi sepertinya tidak mungkin bisa ke tempat itu menggunakan perahu, apa kamu punya cara agar kita bisa kesana? " Ucap Rajendra pada Riswana mengungkapkan maksudnya.
Riswana nampak tersenyum tipis, seolah dia sudah mengetahui cara agar mereka bisa menuju pulau Canala tanpa perlu menggunakan perahu, " Tentu saja hamba punya cara agar bisa ke sana tuan.." katanya kemudian.
" Bagaimana caranya?? " Tanya Rajendra sambil sedikit mengajukan kepalanya seolah ingin fokus dengan jawaban Riswana.
Belum sempat Riswana menjawab pertanyaan itu tiba-tiba terdengar bunyi pintu diketuk, disusul sebuah suara yang ternyata dari pemilik gubug " Permisi tuan,ini ikan yang anda pesan sudah matang ".
Sebelum Rajendra membukakan pintu, Riswana sudah menghilangkan wujudnya.
" Oh ya terima kasih pak " jawab Rajendra setelah membukakan pintu gubug.
" Silahkan dinikmati, saya permisi dulu tuan " kata pemilik itu kemudian undur diri karena tak ingin mengganggu waktu istirahat tamunya.
" Riswana keluarlah, tadi engkau belum jadi menjawab pertanyaan ku " Ucap Rajendra menyuruh Riswana menampakan wujudnya kembali.
" Iya tuan.." Riswana pun muncul di sebelah mereka.
" Dan apakah cara yang tadi kau maksud untuk bisa ke pulau Canala? " Tanya Rajendra sambil menggeser duduknya menghadap Riswana seolah dia tak ingin melewatkan satupun kata yang akan dia dengar.
" Kita bisa terbang ke sana tuan " Jawab Riswana datar.
Raut muka Rajendra pun berubah, sepertinya dia mengira jawaban dari Riswana adalah candaan.
" Terbang? Apa maksudmu, jangan bercanda ! " Kata Rajendra kemudian memalingkan dirinya dan mengambil sepotong ikan dari piring.
Hal sebaliknya justru terjadi pada Ranu dia yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka justru merasa tertarik dan menanggapi ucapan Riswana. Tentu saja karena anak kecil lebih imajinatif dibanding orang dewasa, dan mendengar kata terbang membuat dirinya berpaling dari meja makan dan menghadap ke arah Riswana.
__ADS_1
" Apa benar kau bisa membawa kita terbang? " Tanya Ranu yang tak menganggap ucapan Riswana sebagai candaan saja.
" Tentu saja " jawab Riswana cepat.
Mata Ranu langsung berkaca-kaca mendengar jawaban itu, bayangan tentang asiknya bisa terbang bersama serigala raksasa putih tergambar dalam lamunannya. Rajendra kaget sampai hampir tersedak mendengar jawaban dari Riswana, diapun segera mengarahkan tatapannya pada Riswana seolah memastikan jika wajah yang dipandangnya tidak tertawa.
" Jadi kau benar-benar bisa membawaku terbang untuk bisa ke pulau Canala?" Tanya Rajendra dengan wajah serius.
" Bisa tuan, apa tuan tidak percaya dengan hamba? " Jawab Riswana memperlihatkan senyum tipis yang manis.
" Tentu saja sulit bagiku untuk percaya, selama ini yang aku lihat bisa terbang hanya burung " ucap Rajendra memberi alasan keraguannya.
" Hamba bisa terbang, meski tak setinggi yang bisa burung lakukan, tapi sepertinya kemampuan terbang hamba cukup untuk membawa kita ke pulau Canala " kata Riswana menatap ke arah wajah Rajendra yang tertunduk.
" Jadi kita akan terbang kesana?" Tanya Ranu dengan wajah gembira menyela pembicaraan.
" Tidak, kau tak boleh ikut ini bukan perjalanan menyenangkan yang seperti kau bayangkan " Jawab Rajendra menanggapi pertanyaan Ranu yang ingin ikut ke pulau Canala.
" Tapi kenapa? " Tanya Ranu dengan kecewa.
" Kita belum tahu apa yang akan kita hadapi di pulau itu, akan sangat berbahaya membawamu ikut ke pulau Canala "
Ranu tak menjawab dia hanya terdiam penuh kekecewaan, meski dia tahu alasan yang gurunya berikan benar, tapi hilangnya kesempatan untuk bisa merasakan terbang bersama Riswana benar-benar membuatnya sedih.
Rajendra tentu saja paham dengan kekecewaan Ranu, dia lalu mengatakan pada muridnya,
" Jika kau ingin terbang bersama Riswana kalian bisa melakukannya di kesempatan lain, saat perjalanan kita selanjutnya misalnya.."
Senang mendengar ucapan gurunya, Ranu pun segera mengangkat wajahnya memandang wajah Rajendra dan Riswana bergantian lalu tersenyum lebar, menunjukan deretan giginya yang putih.
Riswana yang sepertinya juga ikut merasa senang, tampak ikut tersenyum melihat Ranu yang begitu mudah berubah suasana hatinya,
__ADS_1
" Anak yang menyenangkan " kata Riswana dalam hatinya.