
Matahari yang bersinar terik siang itu seolah tak bisa menembus ke kegelapan di bagian terdalam hutan Wanamawa. Patih Pramana terlihat tertidur di bagian belakang gubug, entah sudah berapa lama dia beristirahat setelah berhasil melewati ujian berat yang dia jalani. Tanpa alasan jelas kini dirinya mulai tidak menyukai keadaan yang terang, mungkin karena cahaya matahari yang terlalu menyilaukan matanya atau mungkin karena pengaruh dari ilmu hitam yang telah dia kuasai.
Wanara yang saat itu dalam wujud tak kasat mata tampak sedang memperhatikan keadaan Patih Pramana, ketika yakin jika sang Patih masih tertidur dirinya pun tersenyum, "aku akan menemuinya sekarang, aku tak sabar memberinya kabar bagus ini" Katanya dalam hati kemudian dia pun menghilang.
Sepertinya Wanara akan pergi ke gunung Basanta untuk menemui Shengkara terlebih dahulu, ada sesuatu yang ingin dia bicarakan dengannya sesuatu rencana jahat yang hanya mereka berdua yang tahu tujuan sebenarnya. Tak butuh waktu lama dirinya pun kini telah sampai ke gunung Basanta, setelah menyapukan pandangannya memeriksa keadaan gunung itu dia pun berteriak,
"Shengkara dimana kamu, keluarlah...! aku membawa kabar yang akan membuatmu senang!!" Teriaknya yang diakhiri dengan tawa yang menggema, seolah dengan suara tawanya itu akan memanggil temannya untuk keluar.
Shengkara yang sudah menjadi penunggu gunung basanta selama puluhan tahun tentu saja mengetahui kehadiran Wanara, bahkan seekor semut baru yang memasuki gunung basanta pun dirinya bisa tahu.
"Aku sudah menunggumu, aku pun sudah tahu apa yang hendak kau kabarkan" Kata Shengkara yang tiba-tiba sudah muncul dengan wujud seorang kakek tua berjenggot panjang. Tentu saja bukan hal aneh jika dia sudah tahu jika ada seseorang yang telah berhasil menguasai Ajian Atmaanjana, karena kesaktian yang dia miliki cukup untuk merasakan aura yang dipancarkan Patih Pramana.
"Hwahaha.... Tak heran jika tentunya engkau sudah tahu jika aku telah berhasil mengajarkan ajian itu pada seseorang" Kata Wanara yang terlihat senang karena bisa melihat temannya lagi.
"Lalu siapakah manusia yang berhasil melewati ujian berat yang telah kau berikan itu?" Tanya Shengkara menatap tajam ke arah Wanara.
"Namanya Pramana, dia saat ini masih berada di tempat kekuasaan ku dan malam nanti dia akan ku ajak menemui mu" Jawab Wanara menatap balik ke arah mata Shengkara.
"Jadi apa tujuanmu sekarang menemuiku?"
"Ada yang mesti ku bicarakan, aku punya sebuah rencana..." Kata Wanara dengan nada serius.
__ADS_1
Keduanya kemudian terlihat membicarakan sesuatu yang serius, Shengkara hanya terdiam dan sesekali tampak menganggukan kepalanya.
"Apa engkau yakin rencana itu akan berhasil??" Tanya Shengkara setelah berpikir cukup lama namun masih merasa ragu dengan keberhasilan rencana yang Wanara katakan.
"Aku cukup yakin akan berhasil jika engkau mengikuti semua petunjuk yang aku berikan, dan aku tak bisa melakukan semua itu sendirian, aku membutuhkanmu untuk memuluskan rencana ini" Kata Wanara mencoba meyakinkan Shengkara.
"Baiklah, aku akan membantumu menjalankan rencana itu" Jawab Shengkara yang kini mendapatkan keyakinannya setelah melihat keseriusan pada kata-kata dan tatapan Wanara.
Wanara pun terlihat senang mendengar jawaban temanya yang memang dia harapkan itu. Kemudian mereka saling menatap dan bersama-sama tertawa dengan keras, tawa keduanya menggema ke seluruh penjuru gunung mengusir beberapa burung dari pepohonan yang kemudian terbang menjauh. Seolah burung-burung itu bisa merasakan pertanda bahaya yang keduanya rencanakan.
Puas dengan keberhasilannya mencapai mufakat jahat dengan Shengkara, Wanara pun pamit untuk kembali ke hutan Wanamawa. Shengkara pun mengijinkannya pergi dan melepas kepergian temannya itu dengan senyum kecil. Senyum penuh makna, senyum penuh kelicikan dalam hati masing-masing mereka sama-sama mengatakan "akhirnya waktu untuk membalas dendam akan segera tiba".
Senja telah berlalu ketika akhirnya Wanara kembali ke gubug tempat Patih Pramana berada, dirinya telah mendapati sang Patih yang telah terjaga dari tidurnya.
"Begitulah,sekarang aku sudah merasa sangat siap untuk menemui Shengkara untuk memperoleh ilmu yang dia punya" Jawab sang Patih sambil berdiri dari duduknya. Dirinya kemudian terlihat menggerak-gerakan seluruh tubuhnya untuk melemaskan otot-ototnya, "Sudah berapa lama aku tertidur?" Tanyanya kemudian, karena dirinya belum pernah merasakan tubuhnya terasa sekaku saat ini.
"Mungkin dua atau tiga hari tuan, saya tidak begitu yakin" Kata Wanara berbohong, padahal sesungguhnya sang Patih telah tertidur selama seminggu, dirinyalah yang menyuruh para siluman untuk memberi ramuan pada minuman sang patih agar bisa tertidur pulas.
Patih Pramana hanya diam mendengar jawaban itu, karena sesungguhnya dia juga merasa tak begitu peduli dengan waktu yang telah dia habiskan untuk beristirahat. Yang dia tahu, saat ini dia merasa jika tenaganya telah pulih dan semangatnya kembali berkobar.
"Aku sudah siap untuk menguasai ilmu Candanisukma yang akan Shengkara ajarkan, jadi antarkan aku menemuinya sekarang" Kata Patih Pramana sambil berjalan keluar gubug.
__ADS_1
"Tunggulah beberapa saat lagi tuan, setidaknya sampai malam cukup larut. Karena anda tak perlu khawatir lagi dengan waktu yang akan anda habiskan untuk perjalanan ke gunung Basanta" Jawab Wanara mencoba mengulur waktu.
"Maksudmu?"
"Setelah malam cukup larut, hamba akan membawa tuan dengan cepat ke gunung Basanta untuk bertemu dengan Shengkara, jika sekarang saya khawatir ini masih terlalu pagi baginya untuk menemui tamu" jawab Shengkara berbohong.
Patih Pramana hanya mendecap mendengar jawaban Wanara, dirinya dari dulu merasa paling tidak suka untuk menunggu. Tapi meskipun jika dirinya bersikeras untuk pergi sekarang, waktunya juga akan habis di perjalanan. Dengan sedikit nada kesal dirinya kemudian berkata, "bawakan aku minuman tuak untuk menemaniku menghabiskan waktu".
" Baik tuan, akan segera hamba bawakan minuman terbaik" Jawab Wanara yang merasa senang bisa menenangkan Patih Pramana.
Sekejap kemudian Wanara telah membawa minuman yang dipesan sang patih dalam beberapa tabung bambu. Dirinya kemudian duduk di samping sang Patih dan menemaninya menghabiskan minuman sembari menunggu malam semakin larut.
Ketika tabung bambu yang terakhir telah kosong, Patih Pramana menatap ke langit setelah memastikan sekarang bulan berada tepat diatasnya dia pun berkata,
"Kurasa malam sudah cukup larut untuk kita bisa ke gunung Basanta sekarang?" Kata Wanara yang paham dengan gelagat yang ditunjukan Patih Pramana dengan pandangannya ke langit.
"Hemh..aku sudah tak sabar untuk menemuinya" Jawab sang Patih sambil berdiri dari duduknya penuh semangat.
"Mari hamba antarkan tuan ke sana sekarang, ku rasa dia juga sudah menanti kedatangan kita" Kata Wanara yang juga telah berdiri dan berjalan mendahului Patih Pramana. Setelah berjalan keluar gubug diapun menengok ke arah Patih Pramana yang berjalan mengikutinya.
"Sekarang peganglah pundak hamba, akan hamba bawa anda ke gunung Basanta dengan cepat. Dan lebih baik anda menutup mata tuan...!" Kata Wanara mengingatkan sang Patih.
__ADS_1
Tanpa banyak kata Patih Pramana pun mengikuti semua perintah Wanara, diapun kini sudah terlihat di belakang Wanara dan memegang pundaknya. Karena tidak tahu apa yang akan terjadi diapun menutup matanya. Wanara menoleh untuk memastikan jika Patih Pramana sudah menutup matanya, sesaat kemudian keduanya menghilang meninggalkan kepulan asap hitam yang perlahan memudar kemudian lenyap.