
Sebuah padang gersang tampak terhampar sangat luas, begitu keringnya hingga terbentuk sebuah retakan-retakan di tanahnya. Beberapa pohon yang sudah mati tampak masih berdiri menyisakan pokok batangnya, diantara batang-batang mati itu terdapat bebatuan yang menggunung. Pada salah satu batu terlihat Patih Pramana sedang duduk bersila melakukan pertapaan, dirinya kini sudah terlihat sangat tenang dan mulai bisa membiasakan diri di negeri siluman.
Sesuatu yang kini telah dicapai Patih Pramana bukanlah hal yang mudah, sebelumnya dirinya harus melewati banyak siksaan yang begitu berat. Pada awal-awal pertapaannya di negeri siluman, masih melekat dalam ingatannya apa saja yang telah dirasakannya. Nafasnya terasa begitu sesak, hingga kepalanya seolah terasa besar dan berat. Sudah tak terhitung berapa kali bola matanya keluar dari ceruknya, pembuluh darah yang pecah hingga darah mengucur dari telinga dan hidungnya.
Setelah melewati semua Patih Pramana mulai belajar mengatur nafasnya untuk menyesuaikan dengan keadaan di negeri siluman. Semakin lama nafasnya pun kian perlahan dan teratur, setelah nafasnya tak lagi terasa berat maka kejadian-kejadian yang menyiksa tak lagi dialaminya. Beberapa saat setelah yakin jika dirinya telah terbiasa dengan keadaan negeri siluman perlahan Patih Pramana mulai membuka matanya, dirinya sedang berusaha menggerakkan tubuh dan mencoba mengangkat tangannya.
"Aku bisa menggerakkan tubuhku" Batinnya ketika berhasil mengangkat tangannya. Sesaat terpikir oleh Patih Pramana untuk mencoba berdiri, dengan gerakan pelan dan kaku dia coba menapakkan kakinya dan berdiri dengan tegak. Ketika berhasil wajahnya tampak tersenyum puas, "Apa ini artinya jika aku telah berhasil membiasakan diri dengan keadaan negeri siluman?".
Dari kejauhan terlihat Wanara dan Shengkara yang memperhatikan Patih Pramana,
"Sepertinya dia sudah mulai berhasil membiasakan dirinya, tak ku sangka dia ternyata akan sanggup melewati segala siksaan" Kata Shengkara yang semula meragukan kekuatan Patih Pramana.
"Aku sudah menduganya kalau dia akan berhasil, tak pernah sebelumnya aku bertemu dengan mahkluk yang punya tekad dan ambisi sebesar dirinya" Jawab Wanara yang kemudian mengajak Shengkara untuk datang ke tempat Patih Pramana.
"Apa anda sudah mulai terbiasa dengan keadaan di tempat ini" Tanya Wanara setelah berada di dekat Patih Pramana.
Patih Pramana yang tampak masih sibuk menggerak-gerakan tubuh dan kakinya kemudian mengarahkan pandangannya pada Wanara "Sepertinya seperti itu, tempat ini sekarang tak terasa begitu buruk untukku".
"Bisakah anda melakukan sebuah gerakan?meloncat atau memperagakan satu jurus mungkin.." Tanya Shengkara mencoba memberikan Patih Pramana sebuah tantangan.
Patih Pramana terdiam, setelah mengatur nafas sesaat dirinya kemudian membuat gerakan memutar dan menendang, beberapa kali memukul udara dan diakhiri dengan meloncat dan menendang. "Apa ini cukup?" Tanyanya ketika telah berhasil menjawab tantangan Shengkara.
__ADS_1
Shengkara dan Wanara tampak menunjukan wajah penuh kekaguman melihat Patih Pramana yang dapat membuat gerakan segesit itu di alam gaib. "Sepertinya dia telah berhasil menguasai Ajian Candanisukma" Kata hati Shengkara.
"Ya itu sebuah gerakan yang mengagumkan, anda akan lebih merasakan perbedaannya ketika nanti kita kembali ke alam nyata" Kata Shengkara.
"Kita akan segera kembali, dan mencoba apakah anda telah berhasil menguasai Ajian Candanisukma, tapi sebelum kembali anda tentunya merasa haus ini saya bawakan minuman untuk anda tuan" Ucap Wanara sambil menyodorkan tabung bambu berisi minuman yang telah dicampur dengan ramuan yang dibuatnya.
Tanpa banyak kata Patih Pramana langsung mengambil tabung bambu dari tangan Wanara dan meneguk habis semua minuman didalamnya. Wanara dan Shengkara tampak saling memandang dan tersenyum puas karena Patih Pramana telah meminum ramuan yang dibuatnya.
"Kita kembali sekarang" katanya mengajak Patih Pramana untuk kembali ke Alam nyata.
Patih Pramana pun mengangguk menyetujui ajakan Wanara, keduanya kemudian segera memegang pundak Patih Pramana dan menyuruhnya untuk bersiap dan menutup matanya.
Tak lama mereka bertiga pun telah kembali ke gunung Basanta,
Saat perlahan mulai membuka ke dua matanya, Patih Pramana merasakan hal yang sangat berbeda pada dirinya saat ini, sekarang dia dapat merasakan kekuatan yang begitu meluap dalam tubuhnya. "Kekuatan apa ini?" Katanya dalam hati, selain merasakan kekuatan yang melimpah, nafas dan tubuhnya juga terasa begitu ringan.
"Cobalah lakukan gerakan yang sama saat di Negeri siluman tadi, dan anda akan merasakan banyak perbedaan dibanding diri anda sebelumnya" Shengkara menjelaskan.
Dengan rasa penasaran dicobanya sebuah jurus yang tadi ditunjukan, Patih Pramana merasa semua gerakanya jadi lebih cepat dan kuat. Dan saat dia mencoba melompat hasilnya sungguh diluar dugaannya lompatannya begitu tinggi, jika saja dia melakukan sekuat tenaga mungkin akan dapat melompati sebuah pohon. Karena masih penasaran dia melompat sekali lagi dengan kekuatan penuh, dan ternyata benar dia bisa melompat lebih tinggi dari sebuah pohon di gunung itu.
"Ini luar biasa!" Teriak Patih Pramana kegirangan dan terus mencoba melompat beberapa kali.
__ADS_1
"Cukup tuan!" Seru Wanara "Sekarang kami harus memastikan jika anda sudah menguasai Ajian Candanisukma".
Patih Pramana yang mendengar ucapan Wanara dari atas segera turun dengan ringan di samping mereka berdua.
"Apa yang harus kulakukan untuk mengetahui jika diriku telah menguasai Ajian Candanisukma?" Tanyanya kepada kedua Siluman dihadapannya.
"Apa perbedaan yang dapat anda rasakan pada diri anda sekarang?" Wanara mencoba mengetahui perubahan yang Patih Pramana rasakan.
Setelah berpikir sejenak Patih Pramana kemudian berucap "Yang pasti aku merasa jika tubuhku terasa ringan, dan nafasku jadi lebih kuat seolah aku tak lagi mengenal rasa lelah. Dan aku merasakan sepertinya ada kekuatan besar yang meluap-luap dalam tubuhku".
Wanara dan Shengkara mengangguk-anggukan kepalanya mendengarkan penjelasan Patih Pramana.
"Sekarang cobalah anda mengeluarkan kekuatan yang anda rasakan dalam tubuh anda?" Kata Shengkara memberikan petunjuk.
"Bagaimana caranya?" Tanya Patih Pramana sedikit bingung.
"Rasakan kekuatan itu, ketika anda yakin telah dapat merasakannya kemudian perlahan cobalah anda kendalikan. Lalu perlahan anda alirkan keluar tubuh anda"
Meski belum terlalu paham dengan penjelasan Shengkara Patih Pramana mulai mencobanya. Dirinya memang merasa jika ada kekuatan besar yang meluap-luap dalam tubuhnya, namun dia tak yakin bisa mengendalikannya. Dengan konsentrasi tinggi dan kemauan yang keras Patih Pramana terus mencoba melakukan petunjuk dari Shengkara.
Perlahan patih Pramana mulai bisa merasakan kekuatannya, dirinya kini seolah dapat melihat aura kekuatan dalam tubuhnya. Dengan sebuah teriakan dia coba untuk melepaskan kekuatan yang seolah terpendam dalam tubuhnya. Seiring suara teriakan tiba-tiba dari tubuh Patih Pramana seolah keluar semacam aura hitam yang melapisi seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Wanara dan Shengkara tercengang merasakan aura kekuatan yang berhasil diciptakan Patih Pramana. Meski keduanya telah yakin jika Sang Patih telah berhasil menguasai ajian Candanisukma, namun mereka tetap ingin memastikannya. Saling menatap dan menganggukan kepala keduanya kemudian mencoba melakukan serangan pada tubuh Patih Pramana. Seketika tubuh keduanya terpental bahkan sebelum dapat mendekati tubuh Patih Pramana.
Sambil mencoba bangkit keduanya kini dapat memastikan jika sosok didepan mereka telah berhasil menguasai Ajian Candanisukma.