
Suatu malam Putri Laksmi merasakan sebuah firasat buruk, hatinya merasa tidak tenang. Dirinya kemudian mencoba menenangkan dirinya dengan menyepi dan bersemedi. Dalam pertapaannya dirinya merasa didatangi oleh Ratu pertama suku Carani dan menyuruhnya untuk menemui seorang pemuda yang telah memiliki Pedang Petir. Sang Ratu juga memberinya petunjuk bagaimana cara agar pemuda itu yang nantinya akan mendatanginya.
Itulah alasan mengapa Putri Laksmi kemudian mengambil gunung Prabatatunu ke atas langit. Karena petunjuk dari penglihatan yang dia dapatkan ketika melakukan pertapaan. Saat ini Rajendra telah datang dihadapannya, dan tujuan pertama sang Ratu telah dia sampaikan padanya. Kini Putri Laksmi terlihat sedang mengatakan tujuan nya yang lain,
"Engkau tentunya sudah tahu keberadaan Atmik Api di gunung Prabatatunu, tapi apa engkau tahu dimana tepatnya wadah Atmik Api itu berada?" Ratu Laksmi bertanya pada Rajendra.
Rajendra menatap ke arah Bayurajata, kemudian kembali mengarahkan pandangannya ke Putri Laksmi "Hamba belum tahu keberadaan tepatnya". Jawab Rajendra.
"Wadah Atmik Api itu berada di dalam kawah gunung Prabatatunu, lalu bagaimana caramu untuk mengambilnya?"
Rajendra diam, dirinya sama sekali tidak mempunyai jawaban dari pertanyaan yang diajukan Putri Laksmi. Dia sedang membayangkan kemungkinan cara yang akan dilakukannya untuk mengambil Atmik Api, dia memikirkan rencananya untuk terbang bersama Bayurajata masuk ke dalam kawah, tapi sepertinya hal itu terlalu berbahaya. Selain dirinya tidak tahu keberadaan pasti wadah itu tentunya keadaan di dalam kawah sangatlah panas, dia tak ingin mengambil resiko untuk membahayakan dirinya dan Bayurajata.
Setelah cukup lama berpikir, terlintas dibenak Rajendra jika mungkin maksud dari pertanyaan Putri Laksmi ingin memberikan dia petunjuk untuk mengambil Atmik Api itu, dengan ragu dirinya kemudian berkata "Jika benar Wadah Atmik Api itu berada di dalam kawah gunung Prabatatunu, hamba sama sekali belum mendapatkan cara untuk bisa mengambilnya".
Ratu Laksmi tampak tersenyum mendengar jawaban jujur dari Rajendra, dia menilai ada kerendahan hati dalam ucapan itu. Sang Ratu tentunya sudah tahu jika sebenarnya Rajendra cukup memiliki kesaktian yang tinggi, "jika dia mau sebenarnya bisa saja dirinya membelah gunung Prabatatunu menjadi dua" Kata hati putri Laksmi yang kagum dengan ketidak angkuhan sosok pemuda dihadapannya.
"Aku akan mengajarimu cara untuk bisa mengambil Wadah Atmik itu" Jawab Putri Laksmi. Sebenarnya mudah saja bagi Putri Laksmi jika dia mau mengambilkan Wadah Atmik Api itu tapi dirinya ternyata punya rencana untuk Rajendra.
"Dengan cara seperti apa?" Jawab Rajendra penasaran.
__ADS_1
"Jika engkau bisa membuat tubuhmu kebal terhadap panas maka dirimu akan mudah mengambil Atmik Api di kawah gunung Prabatatunu.."
"Kebal? Bagaimanakah cara agar hamba bisa membuat tubuh kebal terhadap panas?" Jawab Rajendra sedikit bingung.
"Aku akan mengajarimu sebuah ajian yang bisa membuat tubuhmu kebal, bukan hanya terhadap panas atau api tapi jika engkau bisa menguasainya tubuhmu juga akan kebal dari senjata" Putri Laksmi menjelaskan, sepertinya memang itulah salah satu tujuannya ingin bertemu Rajendra.
"Ajian apakah itu, dan bagaimana cara untuk dapat menguasainya?" Rajendra tampak makin penasaran.
"Ajian itu bernama Ajian Akaladarsa" Jawab Putri Laksmi, kemudian dia menjelaskan tentang cara agar Rajendra bisa mempelajarinya.
Inti dari Ajian Akaladarsa adalah pengendalian dan mengalirkan tenaga dalam. Ketika seseorang bisa mengendalikan tenaga dalam yang dia miliki, ketika dipusatkan pada anggota tubuh yang diinginkan maka akan membentuk semacam perisai atau pelindung. Semakin besar tenaga dalam yang dipunyai maka akan semakin kuat perisai yang dapat dia ciptakan. Perisai itu tentu saja akan melindungi dan membuatnya kebal terhadap serangan ataupun api. Jika kesaktian pengguna Ajian itu cukup tinggi dirinya bahkan akan mampu membuat perisai pada seluruh tubuhnya atau mengalirkannya pada benda atau orang lain yang dia sentuh.
"Berapa lama hamba bisa menguasai Ajian itu?" Katanya kemudian yang teringat jika dia meninggalkan muridnya dan dua Atmik di desa Wiyati.
"Semua tergantung pada kemampuanmu bisa saja engkau dengan cepat dapat menguasainya, tapi mungkin juga akan butuh waktu beberapa hari agar engkau bisa menguasai Ajian itu sepenuhnya!" Jawab Sang Ratu.
"Hamba meninggalkan murid dan kedua Atmik lain di desa Wiyati, jika hamba terlalu lama berada di tempat ini hamba pasti akan membuat mereka khawatir" Rajendra menunduk seolah ingin melihat teman-teman yang ada di desa dibawahnya.
"Suruh Atmik Angin untuk kembali biarkan dia yang mengabarkan pada mereka jika engkau baik-baik saja disini" Sang Ratu memberikan sebuah pemecahan masalah yang Rajendra khawatirkan.
__ADS_1
Rajendra menatap ke arah Bayurajata, "Apa engkau bersedia?".
"Saya akan melakukannya" jawab Bayurajata tanpa banyak kata lagi.
"Pergilah sekarang dan biarkan Rajendra tetap disini" Perintah Sang Ratu pada Bayurajata.
Sekejap kemudian Atmik Angin itu pun pamit undur diri dan meninggalkan Puri itu, dirinya kemudian berubah ke wujud Elang Perak dan terbang turun ke desa Wiyati. Rasa takjub, terkejut dan ketidaksabarannya menceritakan apa yang dia lihat pada ke dua Atmik lain bercampur jadi satu di dalam hati Bayurajata. "Mereka pasti terkejut dan merasa tak percaya dengan apa yang akan aku ceritakan" Katanya dalam hati.
Kini tinggal Rajendra sendiri di puri yang berada di pulau langit,
"Sekarang istirahatlah dulu malam sudah cukup larut, engkau akan mulai mempelajari ajian itu esok pagi" Kata Putri Laksmi sambil menyuruh salah satu prajuritnya untuk mengantarkan Rajendra ke sebuah kamar di salah satu puri.
Tanpa berkata Rajendra hanya mengikuti perintah itu, dirinya membungkukkan badan dan pamit undur diri dari hadapan sang Ratu, dirinya kemudian mengikuti prajurit yang menuntunnya ke sebuah ruangan di puri.
Ketika dirinya masuk ke kamar itu begitu terasa kesan kemewahan dari semua benda yang ada di sana, mungkin kamar itu tempat istirahat terindah yang pernah Rajendra lihat. Dia kemudian merebahkan dirinya ke sebuah tilam yang tebal, melipatkan kedua tangan di bawah kepalanya dan menatap ke atas. Dirinya tengah memikirkan jika ternyata selama ini banyak sekali hal yang tidak dia ketahui di dunia ini. Jika kiranya dirinya tak melihat dan mengalami semua kejadian ini sendiri kecil kemungkinan dia akan mempercayainya. Rajendra pun merasa bersyukur karena akhirnya dia bisa mengetahui rahasia-rahasia yang selama ini disembunyikan pada dunia, terpikir olehnya mungkin inilah maksud dari gurunya yang menyuruhnya untuk berkelana ke seluruh penjuru negeri. Kenyamanan kamar itu pun tak lama kemudian membuat Rajendra jatuh tertidur.
Di lain tempat, dirumah kepala desa Wiyati, Bayurajata baru saja kembali. Dirinya kemudian menemui Riswana dan Nadira yang berada di salah satu kamar dirumah itu, melihat jika Ranu telah tertidur dengan pulas dirinya kemudian mengajak ke duanya keluar. Lalu dia ceritakan semua yang dia lihat diatas pulau Langit pada keduanya, dan seperti yang dia sangkakan Riswana dan Nadira tampak tertegun dengan wajah terpana mendengarkan semua ceritanya. Dia akhiri ceritanya dengan kata-kata,
"Rajendra kini masih berada di pulau itu untuk mempelajari Ajian Akaladarsa agar bisa mengambil Wadah Atmik Api".
__ADS_1
Nadira dan Riswana mendengarkan semua cerita Bayurajata yang tak mudah dipercaya itu. Mereka kemudian mengarahkan pandangannya ke atas, melihat langit yang begitu gelap. Mereka berharap akan melihat pulau langit tapi yang dapat mereka lihat hanyalah ribuan bintang yang menghiasi langit malam.