Pendekar Pedang Biru

Pendekar Pedang Biru
Bangkitnya Prajurit Sastrika


__ADS_3

Perlahan kepulan debu dan asap dari reruntuhan gunung yang dihancurkan Patih Pramana mulai menipis. Bekas reruntuhan pun makin lama mulai terlihat dengan jelas, melihat jika bekas reruntuhan itu masih mengganggu nya sekali lagi Patih Pramana menyapukan pedangnya. Hampir bersamaan Wanara dan Shengkara segera menyilangkan tangan di depan wajah untuk melindungi diri dari dahsyatnya efek serangan Patih Pramana.


Reruntuhan itu pun tersapu dan menghilang, kini dihadapan mereka tampak seperti tanah yang lapang. Tak akan ada yang menyangka jika ditempat itu sebelumnya terdapat sebuah gunung yang berdiri kokoh. Tepat di tengah tempat yang kini telah lapang itu terlihat sebuah cekungan di tanah, tempat itu terlihat lebih lunak tekstur tanah nya dibanding tempat sekitarnya. Bahkan lebih terlihat mirip pasir dari pada disebut sebagai tanah.


Patih Pramana bersama Wanara dan Shengkara perlahan mulai berjalan mendekat ke tempat yang nampak menarik bagi ketiganya. Dengan tatapan menyelidik ketiganya mulai berjalan mengitari cekungan yang tanahnya berpasir itu.


"Apakah menurutmu Prajurit Sastrika itu ada didalam sana" Patih Pramana bertanya pada Wanara.


"Hal itu mungkin saja tuan" Jawab Wanara ragu.


"Lalu menurutmu bagaimana untuk memastikannya? Apa kalian bisa masuk ke dalam sana untuk memeriksanya?" Pertanyaan Patih Pramana yang serupa perintah itu seketika membuat Wanara dan Shengkara terdiam.


Wanara kemudian dengan hati-hati mencoba menginjak tanah yang terlihat berpasir itu, sepertinya dirinya ingin memastikan apakah pasir itu cukup kuat untuk menahan berat tubuhnya. Namun baru saja kakinya menyentuh bagian atas pasir dirinya dapat memastikan jika tanah berpasir itu begitu terasa lembut. Kemudian sambil memeriksa sekeliling Wanara mencoba mencari sebuah batu yang cukup besar. Ketika melihat apa yang dicarinya dirinya pun segera bergegas mengambil batu itu lalu dilemparkan ke tengah tanah yang berpasir.


Seperti yang telah dia duga batu yang dilemparnya perlahan terhisap masuk ke dalam pasir lama kelamaan tenggelam lalu menghilang begitu saja.


Patih Pramana yang melihat apa yang baru saja dilakukan Wanara nampak bingung "Apa artinya semua itu?" Tanyanya kemudian.

__ADS_1


"Jika hamba tak salah ini memang pintu masuk untuk menuju tempat Prajurit Sastrika berada" Wanara menjawab tanpa keyakinan penuh.


"Apa kau yakin?" Tanya Patih Pramana sambil berjalan mendekati ke dua Siluman yang berada tak jauh darinya.


Wanara memandang ke arah Shengkara seolah ingin meminta sebuah pendapat darinya. Shengkara yang sama sekali tak paham hanya membalas tatapan Wanara dengan bingung.


Patih Pramana yang telah berada di tengah keduanya kemudian berkata dengan cepat "Tak akan kita mendapatkan jawaban jika kita tak mencobanya" sambil menarik tangan kedua siluman itu dan melompat ke tengah tanah berpasir di hadapannya.


Tanpa ada kesempatan untuk menolak kedua siluman tak dapat menghindar tubuh ketiganya kini sudah berada di tengah tanah berpasir. Wanara tampak bergumam pelan sepertinya tengah mengutuk tindakan gegabah sang Patih. Kini tubuh ketiganya sudah tenggelam setengah badan di dalam pasir, ketika pasir itu telah menelan ke tiganya sampai sebatas leher wajah ke dua siluman tampak mulai panik, hanya Patih Pramana yang menunjukan ketenangan.


"Apa menurut kalian yang akan terjadi ketika tubuh kita telah masuk sepenuhnya?" Ucap Patih Pramana pada kedua siluman yang nampak mulai merasa tak nyaman.


Wanara dan Shengkara kemudian berdiri dan mencoba menenangkan dirinya, ketiganya kini sedang memperhatikan sekeliling mereka kini telah masuk ke dalam sebuah gua yang cukup luas. Karena bagian belakang mereka hanya jalan buntu Patih Pramana segera berjalan ke muka untuk memeriksa ujung gua tersebut, Wanara dan Shengkara pun berjalan mengekor langkah Sang Patih.


Dalam remang cahaya ketiganya terus berjalan menyusuri gua yang baru saja mereka masuki. Dapat mereka rasakan jika gua yang mereka susuri itu makin lama makin terasa luas. Langkah ketiganya seketika terhenti, dihadapan mereka kini tampak barisan mahkluk yang berdiri diam dan menutup kan mata. Mahkluk-mahkluk itu terlihat begitu mempesona dengan balutan baju zirah yang menutupi seluruh tubuh mereka. Tubuh mereka terlihat lebih besar dari ukuran manusia dan tubuh mereka nampak kokoh dan kuat. Meskipun dalam keadaan terdiam ketangguhan dan kekejaman tercermin dari wujud mahkluk-mahkluk itu.


__ADS_1


"Apakah mereka Prajurit Sastrika?" Tanya Patih Pramana tak dapat menyembunyikan wajah kagumnya.


Wanara dan Shengkara yang terlihat sama kagumnya seperti tak mendengar pertanyaan yang Patih Pramana ucapkan. Shengkara merasa jika mahkluk-mahkluk yang sedang dilihatnya itu bukanlah berasal dari dunia ini, mereka lebih mirip utusan dewa maut. Meskipun Wanara pernah melihat sekilas Prajurit Sastrika namun baru kali ini dirinya dapat melihat dengan jelas wujud Prajurit yang legendaris itu.


Setelah berhasil menguasai dirinya Wanara menjawab pertanyaan Patih Pramana "Saya cukup yakin jika mahkluk-mahkluk ini adalah Prajurit Sastrika tuan"


Patih Pramana menoleh ke arah Wanara ketika mendengar jawaban yang di katakan nya. Kemudian dipandanginya lagi mahkluk-mahkluk yang dikatakan Prajurit Sastrika itu, sambil mulai berjalan mendekat dirinya kemudian menyentuh salah satu Prajurit Sastrika. "Sungguh mengagumkan" katanya dalam hati ketika merasakan kekuatan terpendam dari Prajurit yang disentuhnya.


Membayangkan betapa hebatnya jika dirinya menjadi pemimpin mahkluk-mahkluk yang masih diam membeku itu membuat Patih Pramana merasa gembira, semangatnya kini bergelora dengan tak sabar lagi dirinya bertanya, "Bagaimana cara membangkitkan mereka?"


"Keluarkan Pedang Hitam anda tuan angkatlah tinggi-tinggi dan berikan perintah pada mereka" Jawab Wanara mencoba memberikan petunjuk.


Dengan mata berkilat-kilat penuh gairah Patih Pramana segera mundur beberapa langkah, diangkatnya Pedang Hitam di atas kepalannya dan dengan suara lantang dan mantap dirinya mengatakan "Sebagai pemilik Pedang Hitam aku perintahkan Prajurit Sastrika untuk bangkit!!"


Suara itu menggema ke seluruh penjuru gua, dinding gua pun seolah bergetar dan meruntuhkan beberapa kerikil dan pasir.


Mahkluk-mahkluk itu pun perlahan mulai membuka matanya satu persatu, aura kekuatan yang besar pun seketika menyeruak dirasakan oleh Wanara dan Shengkara. Jumlah mereka mungkin hanya ratusan tapi nampak jelas jika besarnya kekuatan yang mereka miliki seolah tak terhingga.

__ADS_1


Merasa puas karena dirinya berhasil membangkitkan Prajurit Sastrika Patih Pramana pun tertawa dengan keras penuh kebahagian. Suara tawa yang tak putus-putus itu seolah memenuhi seluruh gua, suara tawa yang keluar bukan dari candaan itu terdengar begitu mengerikan.


Patih Pramana kini telah berhasil membangkitkan Prajurit Sastrika, dengan ambisi besarnya tak akan ada yang tahu kehancuran seperti apa yang akan dia ciptakan. Belum ada yang tahu rencana macam apa yang tak lama lagi akan dia lakukan. Apapun yang dia rencanakan dunia harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.


__ADS_2