
Hembusan angin dingin yang kencang seolah menyadarkan Patih Pramana jika dirinya telah berada di tempat yang berbeda. "Apa sudah sampai?" Katanya.
"Bukalah mata anda tuan, kita sudah sampai.. tuan..anda baik-baik saja?" Terdengar Wanara memanggil berkali-kali.
Patih Wanara baru mendengar suara Wanara, telinganya terasa tuli seolah dipenuhi oleh angin yang berbisik. Wanara yang menyadari keadaan Patih Pramana yang baru sekali ini dia ajak terbang melintasi dimensi lain pun memakluminya.
Patih Pramana mulai membuka matanya dan terlihat dengan jelas sosok tua berjanggut yang sudah berdiri di hadapan mereka, "apa dia yang bernama Shengkara" Batinnya kemudian.
"Jadi anda orang yang sudah berhasil menguasai Ajian Atmaanjana itu?" Kata Shengkara sambil memandang sang Patih dari ujung kaki hingga kepala, menilai sekilas tentang sosok di hadapannya.
"Hemh.. dan kau tentunya Shengkara, aku pernah diperlihatkan sosok Shengkara dalam pertapaanku tapi tidak dalam wujud seperti ini", Patih Pramana heran kenapa Shengkara memilih berwujud menjadi sosok tua yang terlihat lemah.
Shengkara hanya tertawa mendengar perkataan Patih Pramana, "Tak perlu engkau permasalahkan wujudku, yang ingin aku tahu apa benar engkau sudah siap menguasai Ajian Candanisukma?" Katanya sambil menatap penuh tanya mencoba mencari setitik keraguan pada mata sang Patih.
Namun tatapan Patih Pramana sama sekali tak goyah, tak ada sedikitpun keraguan dalam dirinya yang sudah dipenuhi dengan semangat dan ambisi di hatinya, "Aku sudah siap sejak awal!" Jawabnya yakin.
Shengkara dan Wanara saling menatap seolah mereka berbicara dalam diam kemudian saling bertukar senyuman kecil.
"Anda mungkin sudah siap, tapi tentunya anda belum tahu syarat untuk bisa menguasai Ajian yang akan saya turunkan.."
"Syarat apapun akan kulakukan untuk bisa menguasai Ajian itu" Jawab sang Patih penuh keangkuhan. "Lalu apa kah syarat yang mesti ku lakukan itu?".
"Anda harus bisa membiasakan diri dan bertapa sehari di negeri siluman" Ucap Shengkara menyatakan syarat yang harus Patih Pramana lakukan.
__ADS_1
"Hanya sehari??" Patih Pramana tampak menganggap enteng syarat tersebut.
"Ya cukup sehari, jika anda mampu melakukannya maka anda selangkah lebih dekat untuk bisa menciptakan Pedang Hitam yang anda inginkan selama ini" Shengkara tampak tersenyum melihat sang Patih yang terkesan menyepelekan, karena Patih Pramana belum tahu perbedaan waktu antara alam gaib dan alam nyata.
Patih Pramana tertawa mendengar syarat yang dia anggap mudah itu, "Tentu saja aku mampu" jawabnya di sela tawanya.
"Tapi ada yang mesti anda tahu keadaan di negeri siluman tidaklah sama dengan keadaan di alam nyata ini..." Shengkara menekankan nada pada kata-katanya, mungkin karena kesal dengan anggapan remeh sang Patih.
"Apa maksudmu?" Tanya Patih Pramana menghentikan tawanya.
"Pegang tanganku akan ku tunjukan sesaat padamu keadaan negeri siluman" tampak Shengkara mengulurkan tangannya ke arah Patih Pramana.
Patih Pramana pun mengikuti perintah itu, dan ketika dia memegang tangan Shengkara tiba-tiba dirinya merasa sudah berpindah tempat. Saat ini sang Patih melihat keadaan negeri siluman, sebuah tanah tandus yang begitu panas terhampar di hadapannya. Dan ditempat yang sekarang, Patih Pramana merasa kesulitan untuk bernafas, nafasnya terasa sesak. Selain itu seluruh tubuhnya juga terasa berat, seolah sebuah batu besar membebani seluruh badannya, untuk mengangkat dan melihat tangannya saja dirinya merasa kesulitan. Patih Pramana bagaikan seekor ikan yang menggelepar mencoba bertahan hidup di daratan.
Sesaat kemudian Shengkara terlihat menepiskan tangan Patih Pramana karena melihat wajahnya yang tampak mulai pucat. Kesadaran sang Patih pun pulih, dirinya kini sudah kembali ke alam nyata, nafasnya kelihatan memburu dan keringat pun membasahi dahinya.
Patih Pramana terlihat sedang mengatur kembali nafasnya berusaha untuk menguasai diri, mencoba memulihkan kesadaran dari keadaan yang baru saja dia alami. "Jadi seperti itu rasanya berada di negeri siluman" Kata hatinya ketika sudah berhasil menenangkan diri kembali.
Melihat Patih Pramana masih diam Shengkara pun melanjutkan penjelasannya,
"Begitulah yang akan anda rasakan selama melakukan pertapaan di negeri siluman, anda harus mampu bertahan dan membiasakan diri. Itulah kenapa untuk dapat menguasai Ajian Candanisukma anda harus sudah menguasai Ajian Atmaanjana. Karena tanpa itu sudah pasti anda akan tewas ketika mencoba membiasakan diri di negeri siluman".
Shengkara tak menyebutkan apa saja kemungkinan luka yang ditimbulkan pada tubuh manusia, saat mencoba memasuki negeri siluman. Kesulitan bernafas hanyalah awal, sesaat kemudian pembuluh darah dan jantungnya akan pecah, bola matanya seolah akan dipaksa keluar dari kelopak matanya. Karena Patih Pramana telah menguasai Ajian Atmaanjana siksaan itu memang tak akan membunuhnya tapi tetap akan dia rasakan sakitnya.
__ADS_1
Wanara yang sedari tadi diam mendengarkan merasa ada penjelasan yang kurang dari Shengkara kemudian dirinya mengatakan hal lain yang harus Patih Pramana tahu,
"Satu hal lagi tuan, perbedaan waktu yang akan anda lalui di negeri siluman tentunya tak sama di alam nyata ini"
Shengkara tampak mengangguk ke arah Patih Pramana ketika mendengar ucapan Wanara, dirinya sadar belum mengatakan hal itu.
"Jelaskan maksudmu" Kata Patih Pramana tampak lebih bingung lagi.
Wanara pun kemudian menjelaskan semuanya, satu tahun di negeri siluman kurang lebih sama dengan seratus tahun di alam manusia. Itulah sebab kenapa manusia beranggapan jika para siluman memiliki umur panjang, padahal sebenarnya yang terjadi adalah karena perbedaan waktu. Siluman yang menghabiskan waktu nya selama setahun saja di alamnya berarti oleh manusia dianggap jika siluman itu telah berusia seratus tahun.
Hal itu jugalah yang awalnya menjadi alasan kedengkian para Siluman pada manusia. Bagaimana bisa mahkluk yang begitu rapuh, selama ini malah yang selalu mendapatkan banyak berkah dari dewa-dewa. Kedengkian yang semakin lama berubah menjadi rasa benci, kebencian yang akhirnya membuat Wanara dan Shengkara pernah mencoba menghancurkan peradaban manusia di dunia.
Patih Pramana memandang kosong ke arah gelap, sepertinya dirinya sedang berusaha mengumpulkan keyakinan.
"Jadi ketika sehari aku bertapa disana, artinya di alam ini aku telah pergi selama seratus hari?" Tanyanya kemudian.
"Kira-kira begitulah tuan" Jawab Wanara mengiyakan kesimpulan sang Patih.
Tentu saja masalah waktu bukanlah hal yang saat ini Patih Pramana khawatirkan, tapi cara untuk mampu membuat dirinya dapat bertahan di negeri siluman lah yang cukup membuatnya ragu. Tapi menyerah bukanlah sesuatu yang menjadi ciri Patih Pramana, darahnya kini malah semakin bergejolak seolah sesuatu dalam dirinya mendorongnya untuk terus maju.
"Akan kulakukan, diriku tadi terlalu menganggap remeh ujian itu. Kini aku telah siap sepenuhnya" katanya setelah mendapatkan semangat kembali dalam dirinya.
Shengkara dan Wanara saling memandang, kemudian kembali bertukar senyum. Merasa puas dengan jawaban sang Patih.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang Persiapkan diri anda baik-baik" Kata Shengkara menyuruh Patih Pramana mengambil posisi duduk bersila. Kemudian keduanya juga mengambil posisi yang sama di belakang sang Patih, mereka memegang pundak Patih Pramana. Mulut keduanya tampak merapalkan sebuah mantra, dan sesaat kemudian tubuh ke tiganya menghilang.
Usaha pertama Shengkara dan Wanara untuk mencoba menghancurkan peradaban manusia memang telah gagal. Tapi kini mereka mempunyai sebuah rencana baru. Rencana yang kiranya akan menimbulkan sebuah kehancuran bagi manusia. Satu rencana jahat, yang saat ini hanya mereka berdua saja yang tahu.