
Siang itu seperti hari biasanya di musim panas, matahari bersinar begitu terik melecut kan panasnya ke bumi. Sedikit sekali diwaktu seperti itu orang yang mau keluar rumah jika tak karena sebuah urusan yang penting.
Di ujung selatan negeri terdapat satu dataran tinggi yang dikelilingi pegunungan. Tepat di tengah dataran terdapat sebuah desa kecil, desa yang penduduknya sebagian besar bertani itu terlihat asri seperti keadaan desa lainya.
Sesuatu yang terlihat membuat desa itu berbeda adalah adanya sebuah bangunan yang cukup besar di bagian belakang desa, bangunan yang hampir menjorok kedalam hutan itu tampak megah, ukuranya terlalu besar untuk disebut sebuah rumah tapi sedikit lebih kecil untuk disebut sebuah puri. Bangunan itu dikelilingi pagar dan gerbang masuk, terlalu mewah untuk ditempati oleh seorang petani biasa.
Didepan bangunan itu terdapat bangunan yang lebih kecil yang sepertinya sebuah balai, di dalam balai itu terlihat ada beberapa orang yang sedang berkumpul, seseorang nampak duduk dan yang mengitari di depannya. Orang lain kemungkinan hanya akan melihat mereka hanya orang-orang yang sedang bercengkrama biasa saja, tapi orang di desa itu masih mengenali jika sosok yang saat itu sedang duduk menjadi pusat setengah lingkaran orang yang berkumpul itu adalah Raja terdahulu, Prabu Widyatmaka.
Semenjak kekalahan dalam perang yang terjadi beberapa waktu lalu, dirinya terusir dari istananya dan memilih mengundurkan diri ke desa tempat tinggal leluhurnya dibawanya seluruh keluarganya dan beberapa orang yang menjadi kepercayaannya, sebagian prajurit memutuskan untuk tetap setia dan mengawal Rajanya meski sudah tak lagi berkuasa, prajurit-prajurit yang loyal itu membaur dengan penduduk asli dan menetap di desa tersebut desa yang dikenal dengan nama Sentani.
Meski hanya memakai pakaian yang sederhana, tanpa jubah kebesaran dan mahkota yang dikenakan tetap saja aura kewibawaan terpancar dalam diri Prabu Widyatmaka. Orang-orang yang saat ini mengelilinginya pun bukan orang sembarangan, sosok kekar yang berjenggot tebal di sebelah kiri sang raja adalah Patih Lasmana, tak ada kiranya orang di negeri ini yang tak mengenal atau setidaknya mendengar kisah tentang keberanian dan kehebatan sang Patih. Disebelah kanan Prabu Widyatmaka adalah Adipati Pradana, Nama yang dikenal orang sebagai seseorang yang diberkahi kecerdasan dan kebijaksanaan yang tinggi dialah sosok yang menjadi penasehat kerajaan Bhawana semasa Raja Widyatmaka masih memimpin kerajaan itu.
Mereka nampak sedang terlibat dalam sebuah percakapan yang serius..
"Apa baginda sudah dengar tentang desas desus yang saat ini merebak di tengah penduduk?" Tanya Patih Lasmana menyela sang Raja yang sedang bercakap dengan penasehatnya.
"Apa maksudmu tentang pemuda dan ramalan kuno itu?" Jawab Raja Widyatmaka balik bertanya sambil meluruskan duduk nya menghadap sang Patih. Sesaat dia memandang Penasehatnya dan berkata.
"Bagaimana menurutmu?"
__ADS_1
Adipati Pradana sesaat terdiam sepertinya sedang berpikir dia pandangi wajah-wajah disekitarnya kemudian dia pandangi wajah sang Raja dan berkata.. "Ampun Baginda, dari apa yang saya tahu tentang Ramalan kuno itu, dan bila apa yang saya dengar tentang pemuda itu benar adanya maka kemungkinan isu itu bisa menjadi kenyataan"
"Lalu jika apa yang kamu katakan itu benar dimanakah dia sekarang wahai adipati Pradana?"
"Sulit kiranya memastikan keberadaannya, namun jika memang sosok pemuda itu adalah orang dalam Ramalan cepat atau lambat baginda akan dipertemukan dengannya"
"Ampun Baginda, Apakah perlu salah satu dari kami mencarinya?" Sela Patih Lasmana lagi.
Sang Raja menoleh ke arah Patih nya, kemudian menatap penasehatnya seolah mencari jawaban "Sepertinya tidak perlu, ucapan Adipati Lasmana saya kira ada benarnya, dan kiranya engkau sudah tahu nama pemuda itu Patih ku?"
"Saya kira namanya Rajendra baginda" Jawab sang Patih mantap.
********************
Ditempat lain di dalam sebuah gua yang berada ditengah hutan belantara Rajendra sudah berhasil menyelesaikan semua latihannya. Hasil dari semua ujian dan semua ilmu yang diajarkan pada Guru Mahesa sangat terlihat dari perubahan besar pada Fisik dan batin Rajendra. Tubuhnya lebih luwes dan tatapan matanya lebih tajam namun sorotan matanya bersinar tenang, menandakan sifat kasar pada dirinya telah habis tergerus oleh tempaan yang gurunya lakukan. Rajendra kini nampak sedang bersimpuh didepan gurunya dirinya baru saja melewati ujian terakhir yang disyaratkan gurunya.
Mahesa memandangi Rajendra, sang guru sedang mencoba membandingkan Rajendra yang sekarang bersimpuh didepanya dengan sosok pemuda yang terasa buas saat pertama bertemu dahulu. Setelah merasa puas dengan perubahan yang terjadi pada Rajendra, Mahesa berkata,
"Sekarang kamu sudah pantas memiliki pedang ini, apa kamu ingat saat dulu pertama kali dirimu memegangnya, cahayanya hilang ditangan mu kan?, Sekarang cobalah kamu genggam" sambil menyodorkan pedang itu Mahesa terlihat menajamkan pandanganya seolah ada sesuatu yang sedang diharapkan akan dilihatnya.
__ADS_1
Rajendra mendekat, dia ambil pedang itu dari tangan gurunya, saat digenggamnya pedang itu dengan kedua tangan didepan wajahnya seketika pedang itu mulai bercahaya awalnya cahaya itu berwarna putih perlahan warna itu memerah lalu memudar berganti menjadi warna biru terang, cahaya itu semakin terang seolah seluruh tubuh Rajendra diselimuti cahaya itu. Cahaya biru pedang itu berangsur menghilang seolah terserap seluruhnya kedalam tubuh Rajendra.
Mahesa merasa senang melihat warna cahaya yang muncul dari pedang itu, tanpa Rajendra tahu memang warna biru itulah yang sang guru harapkan akan muncul. Mahesa paham benar dengan pedang itu, pedang itu seolah memilih pemiliknya dan warna yang muncul dari pedang Petir itu menggambarkan kekuatan yang bisa didapatkan pemiliknya, warna putih adalah yang paling kecil, warna merah memberikan kekuatan yang lebih besar dan warna biru adalah warna yang akan memberikan seluruh kesaktian pedang Petir pada pemiliknya. Mahesa merasa puas melihat cahaya biru itu, dirinya merasa senang karena tahu tugasnya telah usai.
"Kamu berhasil murid ku, tugasku sudah usai" Kata Mahesa.
"Apa maksud guru?" Rajendra bertanya seolah menangkap gelagat gurunya akan pergi.
"Telah lama aku menanti melihat cahaya biru dari pedang Petir, dan hari ini kau telah menunjukannya padaku, artinya tugasku di dunia ini telah selesai.." Ucap Mahesa menjelaskan.
Belum sempat Rajendra memahami sepenuhnya kata-kata gurunya tiba-tiba petir terdengar menyambar-nyambar. Gurunya nampak berjalan keluar dari goa, Rajendra berjalan mengikutinya "Tunggu guru apa maksud guru, guru mau kemana?"
Tanpa menjawab pertanyaan muridnya sang guru terus berjalan keluar, ketika sampai di luar Rajendra kaget karena langit ternyata berwarna gelap, ada pusaran awan yang membentuk sebuah bulatan penuh. Kilat-kilat itu berasal dari pusaran awan itu. Rajendra lebih bingung ketika gurunya berjalan lurus menyongsong langsung ke arah pusaran itu. Sesaat Mahesa berbalik dia ucapkan kata perpisahan untuk Rajendra.
"Murid ku aku harus pergi, Pedang itu kini milikmu ada kekuatan besar yang sekarang kau miliki gunakanlah itu dengan bijaksana, dirimu masih muda pergilah engkau mengelana keseluruh penjuru negeri, pelajarilah dunia ini dan bawalah kedamaian di negeri ini".
Seketika kilat seolah menyambar tubuh mahesa tubuhnya menghilang seiring langit yang kembali terang dan awan hitam yang berpusar itu lenyap. Rajendra tidak tahu jika Gurunya, Guru Mahesa adalah sosok Raja yang diceritakan dalam Legenda Pedang Petir, Jiwanya menjelma jadi sosok tua yang turun ke bumi untuk mewariskan pedang itu pada Rajendra.
Rajendra hanya terdiam memandang tempat dimana gurunya menghilang seolah berharap sosok tua yang menyenangkan itu akan muncul lagi. Dia menunduk, Dicamkan baik baik tiap kata yang diucapkan gurunya dan dirinya bertekad akan mewujudkan perintah gurunya.
__ADS_1