Pendekar Pedang Biru

Pendekar Pedang Biru
Ramuan Pembangkit


__ADS_3

Sesaat sebelum fajar merekah keadaan di Gunung Basanta masih cukup gelap, dalam remang cahaya bintang tampak dua sosok sedang duduk di atas batu saling berhadapan.


"Sudah setengah hari lebih Patih Pramana menghabiskan waktunya di negeri siluman, terakhir kali aku melihatnya dirinya tampak masih kesulitan untuk bisa membiasakan dirinya. Bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya salah satu sosok yang ternyata adalah Wanara. Sosok lain yang ditanya tentu saja Shengkara.


"Sekarang dia mulai bisa menguasai dirinya, terlihat jika saat ini Patih Pramana jauh lebih tenang dalam pertapaannya". Jawab Shengkara yang baru saja pergi untuk melihat keadaan Patih Pramana di negeri Siluman.


"Benarkah?"


"Ya, aku sendiri tak menyangka dia mampu menguasai dirinya secepat ini" Shengkara tampak kagum dengan kekuatan dan tekad yang dimiliki Patih Pramana, "Lalu apa kita masih akan meneruskan rencana yang kau buat?" Shengkara mencoba bertanya pada Wanara.


"Tentu saja, bukankah ini saat-saat yang telah kita tunggu selama ini?" Wanara menatap ke arah langit, seperti sedang mengenang sesuatu.


Wanara sedang mengingat kejadian di masa lalu, dirinya yang saat itu menjadi salah satu dari Panglima yang memimpin pasukan siluman. Waktu itu adalah perang ketika Raja siluman dan Prajurit Sastrika ingin menghancurkan peradaban manusia. Hampir saja rencana Raja siluman berhasil jika saja Ratu suku Carani tidak mencegah amukan Prajurit Sastrika. Wanara kemudian melihat sendiri kejadian saat Raja Siluman berhasil dikalahkan dan dibunuh oleh Ratu suku Carani. Dirinya tak bisa berbuat banyak karena tahu kekuatan yang dia miliki tak akan bisa untuk melawan Ratu suku Carani yang berhasil mengalahkan Rajanya.


Wanara hanya bisa sembunyi dan mengendap-endap untuk melihat apa yang akan dilakukan Ratu suku Carani pada Prajurit Sastrika. Dalam persembunyiannya akhirnya dia melihat jika Ratu suku Carani tampak membawa Prajurit Sastrika sepertinya ingin menyembunyikan keberadaannya. Dengan hati-hati dirinya kemudian mengikuti Ratu suku Carani sampai ke sebuah gua, ketika Prajurit Sastrika sudah dibawa masuk kedalam gua itu, Sang Ratu kemudian menghancurkan pintu masuk gua itu. Gua itu pun tertutup runtuhan batu dan tanah, menghilangkan jejak keberadaan Prajurit Sastrika. Dari mahkluk-mahkluk yang masih hidup hingga saat ini, hanya Wanara lah yang mengetahui tempat keberadaan Prajurit Sastrika.


"Apa yang kau pikirkan?" Seru Shengkara ketika melihat Wanara terdiam cukup lama.


Ucapan Shengkara segera saja membuyarkan lamunan Wanara "Ah tidak, aku hanya mencoba mengingat tempat yang nanti akan kita tuju" Jawab Wanara sedikit tergagap.

__ADS_1


"Apa menurutmu rencanamu akan berhasil?, Bagaiman jika Patih Pramana menolak ajakan mu?" Tanya Shengkara sambil mengerutkan dahinya.


"Aku akan menghasutnya, kecil kemungkinan seseorang yang memiliki watak seperti Patih Pramana akan menolak sebuah kekuasaan" Kata Wanara penuh dengan keyakinan.


"Dari ceritamu, Prajurit Sastrika begitu mengerikan apakah engkau tak takut jika pada akhirnya kita juga hanya akan menjadi salah satu korban dari kehancuran yang akan diciptakannya?" Shengkara mencoba menanyakan kekhawatirannya.


"Jangan khawatir, aku tentu saja sudah punya rencana yang lain. Ikutlah denganku, sudah saatnya aku melakukan langkah untuk memulai rencanaku itu". Kata Wanara sambil mengajak Shengkara untuk pergi ke kerajaan siluman.


Tak perlu waktu lama keduanya kini telah sampai di sebuah kerajaan di negeri siluman, atau lebih tepatnya sisa kerajaan siluman karena sekarang tempat itu tak lagi semegah ketika masih mempunyai seorang Raja yang memimpin. Saat Raja siluman yang terakhir telah di bunuh Ratu suku Carani, hingga sekarang belum ada yang mampu untuk menggantikan tempatnya. Jikapun ada satu siluman yang pernah mencoba mengikrarkan diri sebagai Raja Siluman, keberadaannya sama sekali tak mampu menyatukan seluruh siluman yang ada di dunia. Tak ada lagi saat ini siluman yang dianggap mempunyai kesaktian yang tinggi, hingga sampai diakui sebagai yang terkuat oleh siluman-siluman lain.


Salah satu diantara Wanara dan Shengkara sebenarnya dianggap sebagai siluman yang pantas untuk memimpin bangsa siluman. Tapi keduanya sama sekali tak berminat, mereka tak suka tampil di depan mereka lebih suka bermain di belakang layar, merencanakan sesuatu dan menghasut adalah keahlian mereka. Bagi keduanya menjadi Raja siluman hanya akan membuat mereka di buru oleh orang-orang, atau bahkan oleh bangsa siluman sendiri. Tentu saja hal seperti itu sudah mereka perhitungkan, jika harus memilih mereka berdua lebih senang menjadi penasehat kerajaan.


Shengkara merasa terkejut dengan apa yang telah dilakukan Wanara,


"Ruangan apa disana?, aku tak pernah tahu jika di kerajaan ini ada ruangan rahasia"


"Ikut saja, didalam sana adalah tempat dimana Raja terdahulu menyimpan benda-benda pusaka nya". Jawab Wanara yang sudah berjalan masuk keruangan rahasia.


Shengkara pun mengikuti Wanara masuk, pintu rahasia itu pun segera menutup kembali. Dapat Shengkara lihat jika di ruangan yang dia masuki sekarang terpajang berjejer puluhan senjata dan benda-benda aneh yang tak pernah dia lihat.

__ADS_1


"Untuk apa kau masuk kesini" tanya Shengkara.


Wanara tampak tersenyum, "Lihat saja dan perhatikan apa yang aku buat" Jawabnya penuh misteri.


Shengkara pun kemudian memperhatikan setiap hal yang dilakukan Wanara, dapat dilihatnya jika saat ini Wanara tampak sibuk memilih beberapa benda yang ada di ruangan rahasia. Semua benda itu kemudian dimasukan ke dalam sebuah periuk di tengah ruangan.


"Benda-benda ini dulunya yang pernah di pegang atau dipakai oleh Raja siluman" Wanara menjelaskan sambil memasukan semacam cairan ke dalam periuk bersama benda dan senjata di dalamnya.


Shengkara kini tahu jika Wanara sedang membuat semacam ramuan, tapi ramuan apakah yang akan dibuatnya Shengkara sama sekali tidak mengetahuinya. Dirinya kini dapat melihat jika Wanara sedang merapalkan sebuah mantra, kemudian mengeluarkan benda dari kantungnya, benda itu berbentuk bulat seperti mutiara dan berwarna hitam.


Ketika mutiara hitam itu dimasukan, perlahan dari periuk keluar asap, cairan didalamnya juga tampak mulai panas. Semakin lama tampak mulai mendidih dan semakin panas hingga meleburkan segala benda dan senjata yang ada didalamnya.


Shengkara memperhatikan segala yang dilakukan Wanara dengan takjub. Ketika akhirnya asap mulai menghilang dan cairan dalam periuk mulai mendingin dan menyusut, Wanara kemudian menuangkan cairan yang dibuatnya kedalam sebuah kendi kecil yang sudah dipersiapkannya.


"Inilah rencana yang aku buat, semoga ramuan ini berhasil" Kata Wanara ketika telah selesai melakukan pekerjaannya.


"Ramuan apakah itu? Dan apa yang akan kau perbuat dengan Ramuan itu?" Tanya Shengkara dengan penuh penasaran.


"Ini adalah ramuan pembangkit, aku akan memberikan ramuan ini pada Patih Pramana ketika dia telah menyelesaikan pertapaannya" Kata Wanara disertai sebuah senyuman licik di ujung bibirnya.

__ADS_1


Shengkara kini paham dengan rencana Wanara, dirinya pun tampak ikut mengembangkan senyum di bibirnya. Saling menatap keduanya kemudian tampak tertawa bersamaan.


__ADS_2