Pendekar Pedang Biru

Pendekar Pedang Biru
Pasukan Siluman


__ADS_3

Kabar tentang rencana pembalasan Wanara pada bangsa manusia menyebar begitu cepat diantara para siluman. Berita tentang adanya sosok yang telah mampu menguasai dua ajian hitam pun semakin menarik minat banyak siluman untuk datang bersekutu.


Saat ini didepan kerajaan siluman telah terbaris ratusan bahkan mungkin ribuan bangsa siluman, dengan wujud dan ukuran yang beraneka rupa terlihat cukup untuk menebarkan ancaman bagi manusia di dunia. Beberapa siluman yang mungkin dianggap pemimpin oleh yang lain tampak di depan menghadap Wanara dan Shengkara,


"Anda bisa lihat sendiri" salah satu pemimpin siluman mulai berkata pada Wanara dan Shengkara "Kami semua langsung berkumpul disini ketika mendengar kabar tentang rencana yang kalian sebarkan, tapi rencana anda terlalu mendadak. Kalian sendiri tentunya tahu jika keadaan sekarang ini tidak memungkinkan kita untuk melakukan pergerakan secara sembrono".


Pemimpin siluman lain melanjutkan "Kalian sendiri bukankah sudah pernah mencicipi pahit nya sebuah kekalahan? Lalu apa yang membuat kalian berdua yakin jika rencana kali ini akan berjalan dengan hasil sesuai rencana?".


Sambil bicara bergantian beberapa pemimpin siluman itu tampak mengemukakan keraguan dan keberatan mereka pada rencana Wanara.


"Kalian tentu tahu kamu tak mungkin memulai serangan pembalasan tanpa sebuah rencana yang matang. Kali ini kita juga mempunyai sebuah kartu pentung untuk memimpin pergerakan kita, seseorang yang kini memiliki kesaktian yang tak terkira. Kalian nanti akan melihat sendiri seberapa hebat pemimpin kita kali ini" Jawab Wanara dengan nada meyakinkan.


"Apa benar semua yang kau katakan itu?" Sela siluman yang masih merasa ragu.


"Tak lama lagi aku akan membawa orang itu kesini dan engkau akan merasakan sendiri aura kekuatan yang dia miliki, kali ini kesempatan kita untuk merebut dunia dari bangsa manusia cukup besar. Bersama kita akan mewujudkan sebuah impian lama, strategi kita tak akan kukatakan disini, kita tak akan memberitahu rencana pada pasukan siluman setidaknya sampai kita berhasil mendesak musuh" Dengan tangkas Shengkara menghindari keluhan pemimpin-pemimpin siluman yang belum yakin itu.


"Lalu siapakah orang yang kalian andalkan itu?" Tanya pemimpin siluman yang berbadan paling besar.


"Namanya Patih Pramana" Jawab Shengkara dengan membanggakan nama yang disebutnya.


Ketika mendengar nama itu tampaknya cukup membuat para pemimpin siluman terdiam, nama Patih Pramana rupanya sudah cukup dikenali oleh mereka. Sepak terjang nya sebagai manusia yang dengan cepat mendapatkan sebuah ketenaran di dunia persilatan sudah lama dipantau bangsa siluman. Cerita tentang dengan mudahnya Patih Pramana mengalahkan Wanara sang penguasa hutan Wanamawa juga sudah menjadi isu di negeri siluman. Apalagi jika benar orang tersebut telah berhasil menguasai dua Ajian yang menjadi mitos di negeri siluman tentunya kini sosok itu benar-benar memiliki kesaktian yang begitu tinggi.

__ADS_1


"Jadi kapan kalian akan membawanya kesini?"


"Tak lama lagi kami akan menjemputnya, tunggulah disini sebentar" Jawab Wanara sambil melirik ke arah Shengkara memberi isyarat ajakan untuk pergi menjemput Patih Pramana.


Shengkara yang paham dengan isyarat yang diberikan Wanara segera pergi mengikuti Wanara. Keduanya kemudian menghilang dari hadapan pemimpin-pemimpin siluman dan pasukan dibelakangnya.


Patih Pramana tampak masih tenggelam dalam lamunannya ketika Wanara dan Shengkara tiba-tiba muncul di dekatnya,


"Tuan!" Kata Wanara yang melihat Patih Pramana tampak sedang termenung.


Panggilan Wanara segera saja membuyarkan lamunan sang Patih, sambil mengarahkan pandangannya pada kedua siluman yang baru saja datang Patih Pramana segera mengajukan pertanyaan, "Apa kalian sudah berhasil mengumpulkan pasukan yang kalian janjikan?".


"Kami kesini memang ingin memberitahukan hal itu pada anda, sekarang mari kita melihat pasukan itu. Mereka sudah menunggu anda" Jawab Shengkara.


"Dan dimanakah mereka sekarang?" Tanya Patih Pramana sedikit bingung dengan tempat yang akan mereka tuju. Jika benar yang dikatakan keduanya tentang pasukan siluman yang telah berkumpul tentunya sudah membuat kehebohan di dunia ini.


"Kita akan ke negeri siluman" Wanara menjelaskan tujuannya.


Jawaban itu kini menjadi masuk akal bagi Patih Pramana. Tanpa banyak tanya lagi dirinya pun segera mengikuti ajakan kedua siluman itu. Karena pernah diajak ke negeri siluman tanpa diberitahu Patih Pramana segera membalikan badannya dan memejamkan mata. Kedua siluman pun segera memegang pundak Patih Pramana, ketiganya seketika lenyap dari gunung Basanta.


Tak perlu waktu lama ketiganya pun telah sampai ke negeri siluman, ketiganya muncul tepat dihadapan ratusan siluman yang telah terkumpul. Patih Pramana merasa cukup takjub dengan banyaknya siluman yang berhasil dikumpulkan Wanara dan Shengkara.

__ADS_1


"Inilah pasukan yang akan menjadi prajurit-prajurit anda untuk merebut kekuasaan di negeri anda tuan" Kata Wanara menunjukan kumpulan siluman yang berkumpul di hadapan mereka.


"Aku tak menyangka jumlah mereka sebanyak ini, namun apakah mereka dapat diandalkan?" Tanya Patih Pramana yang meragukan cara tempur siluman-siluman yang terlihat primitif itu.


"Tak perlu diragukan, mereka tentunya tak akan mengecewakan anda" Kata Shengkara mencoba meyakinkan Sang Patih.


Patih Pramana pun kemudian melakukan pertemuan singkat untuk mengatakan strateginya dengan pemimpin-pemimpin siluman. Malam ini juga mereka akan segera melakukan rencana itu, ketika akhirnya rencana telah diputuskan mereka pun segera berdiri dihadapan pasukan siluman.


Dengan suara lantang dan penuh wibawa Patih Pramana pun mengucapkan sebuah perintah dihadapan pasukan siluman "Malam ini... kita akan melakukan serangan di kerajaan Shaminari. Aku akan memimpin kalian untuk mewujudkan mimpi menguasai seluruh negeri ini, persiapkan diri kalian baik-baik. Kegagalan bukanlah hasil yang akan kita dapatkan..!!"


Perintah Patih Pramana disambut oleh gemuruh teriakan dan raungan dari pasukan siluman, menimbulkan sebuah kegaduhan, menciptakan suasana bising yang menakutkan. Suara yang membawa ancaman, suara yang menebarkan aura ketakutan, suara yang kiranya akan membuat manusia yang mendengar akan menciutkan nyalinya.


...*************...


Warna hijau sawah-sawah terlihat menghampar di sekitar benteng kota Angkara, semenjak ditetapkannya kota itu menjadi pusat pemerintahan kerajaan Shaminari terlihat jelas jika pembangunan tembok benteng yang mengelilingi kota itu tampak diperkuat. Pemeriksaan untuk masuk ke kota itu pun tak mudah, gerbang benteng selalu dijaga dengan ketat. Orang-orang yang tak mempunyai tujuan jelas tak dibiarkan bebas masuk ke kota itu. Pos-pos penjagaan selalu siaga diatas dinding benteng, siap mengawasi keadaan sekitar dan memastikan setiap tanda yang mengartikan sebuah bahaya.


Keadaan didalam kota pun diatur sedemikian rupa, unsur kesemrawutan sama sekali tak terlihat. Persediaan air dan pangan pun tampak memadai, penduduk tampak rukun tak terlihat sama sekali perasaan iri antara petani dan pedagang. Kumpulan prajurit selalu melakukan patroli setiap saat memastikan keamanan keadaan dalam kota.


Segala sesuatu yang terlihat di dalam kota Angkara sepenuhnya telah diatur oleh seorang Raja yang bertahta di kerajaan yang berdiri kokoh di tengah kota Angkara.


Tak ada satupun penduduk yang saat ini menyadari akan datangnya sebuah bencana. Bahkan Raja Prabaswara pun sama sekali tak mendapatkan sebuah firasat buruk. Sinar Matahari mulai membentuk bayangan miring, menandakan senja akan segera hadir. Tak ada yang tahu apa yang terjadi jika cahaya matahari telah lenyap, tak ada sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2