Pendekar Pedang Biru

Pendekar Pedang Biru
Pahlawan tak Dikenal


__ADS_3

Lesatan cahaya biru itu datang untuk yang kedua kalinya, kali ini membelah agak jauh dari dinding benteng. Tanpa perlu aba-aba, para prajurit yang berdiri diatas dinding benteng mendongakkan kepalanya untuk mencari tahu dari mana sumber cahaya itu berasal. Sekali lagi pemikiran para prajurit itu dibuat tak percaya dengan apa yang mereka saksikan sendiri.


Dalam pandangan mereka, kini dapat terlihat dengan jelas sosok yang berdiri dengan gagah di atas seekor burung elang raksasa. Sosok manusia itu terlihat memegang sebuah pedang yang berpijar kebiruan. Belum sempat akal para prajurit dapat mencerna apa yang mata mereka lihat, ternyata di samping elang itu terlihat sosok manusia yang berbadan besar dan berwujud seekor singa yang mengambang di udara.


Meski sedikit terlambat Rajendra bersama Bayurajata dan Agnigara saat ini telah datang untuk menghadapi pasukan siluman. Mereka tak dapat sampai lebih cepat karena saat kedatangannya untuk masuk ke kota Angkara beberapa hari yang lalu ditolak oleh para prajurit penjagaan. Mereka kemudian terpaksa pergi dan mencari tempat menginap di desa sekitar Ibu kota kerajaan. Nyala api yang membuat keadaan malam menjadi terang lah yang menjadi pertanda dan akhirnya membuat mereka datang ke tempat itu.


Agnigara segera melesat turun dan membuat bumi berdebam ketika dirinya telah sampai ke tanah. Sementara Rajendra menyuruh Bayurajata untuk membawanya terbang mendekati beberapa siluman yang telah memanjat dinding benteng. Dengan gerakan terbang yang luwes elang perak itu pun menukik dan membawa Rajendra untuk menebas siluman-siluman yang tampak memanjat dinding satu per satu. Dengan mudah Rajendra pun membuat tubuh-tubuh siluman itu terbelah dan jatuh ke tanah.


Sementara Agnigara terlihat mengamuk menghadapi siluman-siluman yang telah menyambutnya di bawah, dengan auman yang keras diapun segera menjatuhkan pukulan-pukulan yang berat ke siluman yang mencoba datang menantangnya. Tubuh siluman yang terhantam pukulan dari Agnigara seketika hancur sebagian lagi tampak berlubang dan terbakar. Bayurajata segera menyusul untuk turun dan memberantas para siluman yang ada dibawah, saat hampir sampai ke tanah Rajendra segera melompat sementara Bayurajata segera berubah ke wujud Aslinya tepat setelah Rajendra melompat.

__ADS_1


Agnigara berada di sisi kiri dan hampir menghabisi sebagian siluman yang mengepungnya. Bayurajata berada disisi kanan tampak mulai maju dan mencabik tubuh para siluman dengan senjata semacam besi berbentuk cakar ditangannya. Sedangkan Rajendra berada di tengah antara kedua Atmik menebaskan pedangnya tanpa kenal ampun, tebasan-tebasan pedang yang dia lesatkan tampak membuat cahaya-cahaya berwarna kebiruan yang terus membelah tubuh para siluman yang terkena.


Pertempuran yang semula dianggap akan dimenangkan dengan mudah oleh bangsa siluman kini sepertinya berbalik keadaannya. Hanya karena kehadiran tiga sosok yang tak diperhitungkan, pasukan siluman kini menjadi porak poranda. Siluman yang terdekat dengan Rajendra terhuyung ke belakang dan mendorong mundur siluman-siluman di belakangnya, menghentikan langkah rombongan yang sedang datang. Untuk sesaat pasukan siluman seolah menggelepar tanpa daya, tubuh mereka saling bertabrakan dan kaki saling berkait. Tapi dalam sebuah gerombolan, kebanyakan mahkluk memang tak akan mudah menyerah.


Walaupun gentar oleh kecepatan dan kesaktian ke tiga sosok musuh yang sedang dihadapinya, siluman-siluman itu segera dapat memperoleh kembali keyakinan mereka. Sambil meraung dan memekik, mereka mulai maju ke depan. Sekali lagi mereka yakin bahwa tak ada satu mahkluk pun yang dapat menandingi kekuatan pasukan mereka semua. Tanpa perlu sebuah perintah pasukan siluman itu kembali menerjang ke tiga musuh yang menghalangi tujuan mereka.


Entah rasa bingung atau barangkali rasa takut yang mulai menghinggapi pikiran para siluman kini gerakan mereka terhenti, bahkan sebagian terlihat mulai berjalan mundur dengan perlahan. Menyadari jika para siluman mulai kehilangan tekad dan semangatnya, Rajendra mengambil kesempatan itu untuk mulai maju menyerang. Dengan tujuan memukul mundur pasukan siluman, ketiganya terus melancarkan serangan pada para siluman yang berada di daerah jangkauannya.


Wajah para prajurit di atas dinding benteng tak dapat menyembunyikan rasa takjubnya melihat pemandangan yang mereka saksikan. Dengan perasaan campur aduk antara kengerian melihat pembantaian dan rasa kagum karena dengan mudahnya ke tiga sosok pahlawan tak dikenal itu dapat membunuh para pemberontak yang sebelumnya mereka pikir tak dapat dikalahkan. Bagaimana bisa mahkluk-mahkluk buas yang sebelumnya tak mempan oleh panah dan api, saat ini telah tercerai berai hanya oleh tiga sosok yang bahkan tak mereka kenali.

__ADS_1


Jauh dibelakang pasukan siluman, dengan wajah kaku para pemimpin pasukan siluman tampak memperhatikan dengan jelas para pasukannya telah berhasil dipukul mundur. Meski mereka tak melihat dengan jelas sosok-sosok yang telah membantai pasukannya, namun mereka dapat merasakan aura kekuatan besar yang dikeluarkan oleh ke tiganya. Sementara para pemimpin siluman mulai merasakan pertanda kekalahan, Wanara dan Patih Pramana justru merasakan kegembiraan dalam hatinya namun jelas dengan alasan yang berbeda.


Wanara merasa senang karena dugaannya akan menghadapi musuh yang kuat ternyata tidak salah, "Akhirnya muncul juga" Katanya dalam hati. Dengan adanya musuh yang kuat dirinya merasa rencananya telah berhasil, karena memang itulah tujuan sebenarnya memulai pemberontakan ini yakni menempatkan Patih Pramana agar dapat mengerahkan seluruh kesaktiannya. Harapannya cuma satu Patih Pramana akan merasa terpojok dan akhirnya akan menciptakan pedang Hitam yang legendaris.


Sedangkan rasa senang yang dirasakan Patih Pramana adalah karena dirinya kini terbakar semangat yang menggelora. Sudah lama dirinya menantikan sosok musuh yang setara dengannya atau bahkan lebih kuat darinya. Karena selama ini dirinya selalu dapat dengan mudah mengalahkan semua lawannya. Dilingkupi sebuah rasa penasaran dan kegembiraan sorot matanya tampak tajam menatap ke arah Rajendra. Tentu saja dirinya juga telah merasakan besarnya aura kesaktian dari calon lawannya, meskipun dia tidak tahu tentangnya tapi dari pedang yang dibawanya Patih Pramana menyimpulkan jika orang yang diperhatikannya adalah Pendekar Pedang Biru yang sering diceritakan dalam ramalan.


"Akhirnya aku bisa membuktikan siapa mahkluk yang terkuat di dunia ini" Kata Patih Pramana dalam hati. Dengan perlahan dirinya mulai berjalan kearah medan pertempuran, seperti ngengat yang tertarik oleh sebuah cahaya. Dengan langkah pelan namun mantap dirinya berjalan dengan tegap dan terlihat gagah, bahkan dirinya dengan beringas memukul dan membunuh para siluman yang tampak berlari mundur ketakutan.


"Pengecut !!" teriaknya, sambil menjatuhkan sebuah pukulan yang membuat siluman yang lari mundur ke arahnya langsung roboh dan lebur ketanah.

__ADS_1


__ADS_2