
Sinar lembut matahari pagi mulai menerangi sebuah desa di kaki gunung, sepagi itu keadaan di desa Sentani sudah terlihat sibuk. Hampir semua penduduknya terlihat sedang bergotong royong melakukan sebuah pembangunan. Atas perintah langsung dari Prabu Widyatmaka penduduk desa rupanya sedang membangun tembok benteng yang akan mengelilingi desa mereka.
Malam sebelumnya Prabu Widyatmaka mendapatkan sebuah mimpi yang buruk, dalam mimpi yang seolah menunjukan masa depan itu Prabu Widyatmaka melihat kehancuran negeri dan pembantaian manusia yang dilakukan oleh sosok yang misterius. Sosok yang berwarna gelap itu memimpin bangsa siluman dan menghancurkan satu per satu peradaban manusia dengan latar belakang api yang membakar sebuah desa,mimpi itu terlihat begitu nyata.
Dirinya terbangun oleh suara petir yang menggelegar dalam keadaan penuh dengan keringat dingin, sebuah firasat buruk pun seketika bergemuruh dalam hatinya. "Apa arti mimpiku? dan perasaan apa yang aku rasakan saat ini?" Kata hati Prabu Widyatmaka.
Dalam keadaan penuh kekalutan dirinya kemudian memanggil para punggawanya dan mengumpulkan nya di aula rumah,
"Kalian tahu kenapa dalam waktu malam seperti ini ku panggil ke sini?" Kata Prabu Widyatmaka di hadapan para punggawanya.
"Ampun baginda kami tidak tahu" Jawab Patih Lasmana mewakili jawaban semua orang yang ada di aula. Meskipun tak mengucapkan sang Patih sudah merasa jika telah terjadi hal yang tidak baik, dirinya memang merasakan sebuah firasat buruk tapi karena tak dapat menemukan penjelasan tentang perasaannya sang Patih pun memilih untuk diam.
"Aku mengalami sebuah mimpi yang buruk, mimpi itu terlalu terlihat nyata untuk dikatakan sebagai mimpi biasa. Aku punya firasat jika kita akan segera menghadapi musuh yang akan membawa kehancuran bagi negeri dan umat manusia" Kata Sang Prabu menjelaskan pada para punggawanya.
Sebagai seorang Raja yang pernah memimpin suatu kerajaan Prabu Widyatmaka tentunya sudah terbiasa menghadapi peperangan dan pemberontakan, harusnya dirinya tidak mudah merasa khawatir tentang musuhnya. Namun sepertinya dirinya kini sedang merasa takut sekaligus khawatir, bukan karena dirinya takut akan gugur menghadapi musuh kali ini. Tapi lebih kepada apa yang akan kemudian terjadi jika seseorang yang begitu kejam dan jahat menjadi penguasa di atas bumi ini. Jika hal itu tak ada yang bisa mencegah maka sebuah tanda yang tak salah lagi jika kehancuran dunia akan segera terjadi.
__ADS_1
"Aku tidak tahu kapan semua itu mungkin akan terjadi, tapi sebaiknya secepatnya kita melakukan persiapan, aku perintahkan pada kalian untuk mencari sebanyak-banyak nya orang yang masih setia padaku dan bawalah mereka kemari, kemudian bangunlah sebuah dinding mengelilingi desa. Kita akan memerlukan sebuah benteng yang kuat" Perintah Prabu Widyatmaka kepada semua orang yang hadir di aula.
Semua yang mendengar titah Sang Prabu saling pandang kemudian dengan cepat mereka menjawab secara bersama,
"Baik Baginda!"
Titah sang Prabu telah diucapkan dan semua orang kini sedang melaksanakannya, Patih Lasmana bersama beberapa orang sedang mencoba untuk mencari keberadaan bekas prajurit kerajaan. Diluar desa memang masih banyak orang-orang yang mengagumi Prabu Widyatmaka, maka jika mendengar panggilan titah darinya kemungkinan orang-orang akan datang dengan senang hati. Sedang kan di desa, Adipati Pradana memimpin langsung proses pembangunan benteng. Karena kecerdasan yang dia punya maka dirinya jugalah yang diberi tugas oleh Sang Prabu untuk merancang benteng sedemikian rupa agar kokoh dan kuat menahan serangan.
Dari halaman rumahnya Prabu Widyatmaka melihat kearah orang-orang yang sedang melaksanakan perintahnya, meski dia yakin jika firasat mimpinya itu merupakan sebuah petunjuk tapi dalam hatinya dia berharap jika firasatnya salah.
...********...
Sementara di kerajaan Shaminari Raja Prabaswara tampak duduk termenung dalam singgasananya, sudah pasti dirinya juga sudah merasakan kekuatan dari aura jahat yang begitu besar. Dirinya tentu tahu benar jika aura itu berasal dari Patih nya, kini setelah mengetahui kekuatan yang sudah didapat Patih Pramana perasaannya pun menjadi sedikit khawatir. Dalam batas tertentu memang sang Patih terlihat loyal dan patuh padanya, namun tak dapat dipungkiri jika dengan semakin besar kekuatan ilmu yang dikuasai sang Patih tidak menutup kemungkinan ambisi untuk menjadi penguasa negeri akan diinginkannya.
Raja Prabaswara kini seakan menyesal telah menceritakan legenda pedang hitam dan menyuruh Patih pramana untuk mencarinya. Dirinya merasa telah memelihara seekor anak singa yang kini telah tumbuh menjadi singa dewasa yang buas, yang siap menerkamnya kapan saja ketika singa itu merasa lapar.
__ADS_1
"Mungkin tidak seharusnya aku menceritakan kepadanya tentang legenda pedang hitam" Keluh Sang Raja dalam hatinya.
Melihat kemuraman pada wajah rajanya penasehat kerajaan Raden Rembaka merasa harus menanyakan penyebabnya,
"Ampun baginda jika hamba lancang, tapi hamba merasa jika saat ini paduka sedang memikirkan sesuatu dan bolehkah hamba tau sesuatu yang bisa membuat baginda semuram saat ini?" Tanya Rembaka pada sang Raja.
Raja Prabaswara kemudian tersadar dalam lamunannya dan segera mengarahkan pandanganya pada penasehatnya, setelah menghela nafas sang Raja kemudian berucap "Sepertinya aku telah membuat kesalahan dengan menyuruh Patih Pramana melaksanakan perintahku, entah kenapa sekarang aku merasa jika dirinya merupakan ancaman terbesar untuk kerajaan ini"
"Ampun baginda, meskipun jika Patih Pramana akan datang memberontak prajurit-prajurit yang kita miliki tentu masih sanggup untuk menghentikannya, anda tentunya tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya" Jawab sang penasehat yang sama sekali tidak tahu seberapa hebat ancaman yang saat ini Rajanya rasakan.
Sang Raja hanya memaksakan untuk tersenyum pada penasehatnya, dirinya merasa sulit untuk menjelaskan pada penasehatnya tentang perintah yang dia berikan pada Patih Pramana. Raja Prabaswara juga tak ingin menceritakan tentang kekuatan pemilik pedang hitam. Namun sang Raja pun sebenarnya belum tahu jika kelak orang yang bisa menciptakan pedang hitam akan mampu menguasai negeri siluman. Dan siapa yang bisa tahu kehancuran seperti apa yang akan dihadapi dunia ini, jika kelak Patih Pramana yang punya ambisi besar itu bisa menciptakan pedang hitam.
Dalam penyesalan yang kini dirasakan Raja Prabaswara, dirinya hanya bisa berharap jika apa yang ditakutkannya tidak akan menjadi nyata. Sang Raja bahkan sekarang berharap jika kelak akan ada yang bisa menghentikan Patih Pramana ketika sang Patih mulai berusaha menguasai seluruh negeri. Mau tidak mau Raja Prabaswara kini harus mulai bersiap untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Dirinya kemudian memerintahkan penasehatnya agar menyampaikan kepada panglima-panglima kerajaan untuk bersiaga apabila Patih Pramana terlihat kembali ke kerajaan.
Dua Raja yang dulu berseteru kini dihadapkan pada satu musuh yang sama, musuh yang tidak hanya menginginkan kekuasaan tapi kemungkinan mempunyai ambisi untuk menghancurkan umat manusia di negeri ini.
__ADS_1