
Hari demi hari dilewati Rajendra bersama muridnya di desa kecil itu, begitu banyak yang dapat dia ajarkan pada muridnya itu hingga tak terasa sudah lebih dari dua bulan dia tinggal disana. Pagi itu langit nampak mendung, memang ketika itu sudah mulai masuk musim hujan. Ranu yang kala itu sudah bersemangat menerima pelatihan dari gurunya terlihat sedang bersiap mengambil posisi di halaman belakang rumahnya.
Ketika dilihatnya sang guru tak juga datang menghampirinya dan malah duduk di kursi bambu sambil memperhatikan ke langit Ranu pun merasa tak sabar lagi dan segera berteriak "Mari guru saya sudah siap berlatih hari ini..?" Suaranya penuh dengan semangat.
"Tidak, hari ini aku tidak akan melatih mu, hari ini kita akan libur latihan" Jawab Rajendra sambil melambaikan tangan menyuruh murid nya mendekat.
"Tapi kenapa?" Kata Ranu penuh kecewa dan berjalan limbung ke arah guru nya.
"Jika kau terlalu sibuk berlatih dirimu tak akan melihat perubahan di sekitarmu, bagaimana kalau hari ini kita bersantai, kau bisa lakukan apa yang kau sukai aku juga mau istirahat" Kata Rajendra mencoba menjelaskan pada muridnya yang nampak masing murung itu.
"Sana pergilah bermain, atau barangkali kau berniat menangkap ikan" Ucap Rajendra meneruskan, sambil merebahkan dirinya di atas bangku bambu itu Rajendra pun nampak mulai menutup matanya.
"Ya baiklah" Berkata Ranu sambil berjalan ke arah bukit disekitar desanya.
Ketika akhirnya Ranu sampai ke kaki bukit dia mengambil sebilah kayu dan memukul-mukul kan ke batang sebuah pohon. Pikirannya sepertinya sedang merasa kesal tapi bukan karena hari ini dia tidak berlatih, tapi karena dia ingat kata kata gurunya ketika melatihnya, gurunya selalu mengatakan "fokus". Entah sudah berapa banyak kata itu keluar dari mulut gurunya ketika melatihnya, tapi belum juga bisa dia melakukanya. Tiap kali mereka berhadapan dalam latihan, serangan-serangan jurus yang dia tujukan pada gurunya tak pernah dapat mengenainya, namun ketika gurunya yang melakukan serangan balik belum pernah dia bisa menghindarinya, dan ketika hal itu terjadi gurunya selalu mengucapkan "fokus.. fokuslah pada mata lawan mu".
__ADS_1
"Apa yang salah dengan ku" Batin Ranu merasa kesal pada dirinya sendiri. Dia sadar ketika dia beradu tatapan dengan gurunya, pandanganya selalu goyah terlalu mengerikan baginya melihat sorotan tajam tatapan mata gurunya. Itulah mungkin alasan kenapa dirinya selalu tak bisa fokus? Bagaiman caranya agar aku bisa memiliki tatapan seperti itu? pertanyaan-pertanyaan itu selalu mendengung dalam hatinya, dan belum juga terjawab olehnya sampai sekarang.
Pikiran Ranu seketika buyar ketika dia mendengar suara keributan dan minta tolong di kejauhan, penuh rasa penasaran dia pun berjalan mengendap-endap mencari tahu asal suara dan ingin juga dia tahu apa yang sedang terjadi. Seketika matanya terbelalak, jantungnya seakan terhenti, seolah dirinya tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.
Ranu menyembunyikan dirinya dibalik semak-semak dalam hatinya dia berkata "mereka kembali.." , mereka yang dimaksud Ranu adalah gerombolan penjahat yang dulu pernah datang membawa kehancuran di desa kecilnya. "Aku harus memberi tahu guru" Katanya berbisik pada diri nya sendiri. Dia pun merangkak pergi dan berjalan mengendap berusaha agar tidak ketahuan.
Ketika dia akan lari karena merasa aman, dirinya kaget karena telah dihadang seseorang dari salah satu gerombolan penjahat-penjahat itu, lebih kaget lagi saat dia melihat penjahat yang menghadangnya adalah orang yang telah membunuh ke dua orang tuanya. Wajah orang yang ada didepannya itu tak akan terlupakan oleh Ranu terlebih bekas luka yang terbentuk sangat aneh di pipi kanan penjahat itu, tanda yang selalu dia ingat sebagai ciri-ciri orang yang selalu ingin dia balas.
"Mau kemana kau bocah !?" Teriak penjahat itu pada Ranu, disertai mengancam dengan golok yang dibawanya. Wajah penjahat itu begitu bengis, wajah yang seolah dirancang untuk tak bisa tersenyum. Nada ancaman disertai wajah bengis itu kiranya akan membekukan darah siapa saja yang diancam, memang untuk sesaat Ranu seolah tak bisa bergerak. Tapi detik berikutnya dia berhasil menguasai dirinya, diliputi amarah yang telah dia pendam selama ini.
Tebasan golok penjahat itu terlalu kencang sehingga ketika tak mengenai sasaran tubuh penjahat itu menjadi limbung ke depan, belum lagi sempat penjahat itu menyeimbangkan dirinya, Ranu sudah melayangkan pukulan dengan kayu yang dibawanya dari tadi. Pukulan telak di kepala penjahat itu menimbulkan bunyi pletak yang sangat keras, hingga tak dapat dipastikan apakah suara itu berasal dari kayu yang patah atau tengkorak kepala yang pecah. Karena tubuh penjahat itu seketika sudah tumbang dengan mata tetap terbuka dan terlihat liur bercampur darah keluar dari mulutnya.
Kejadian itu sepertinya terlihat oleh beberapa kawanan penjahat dari kejauhan. Kawanan itu segera berlari dan berteriak memburu Ranu, merasa terancam Ranu pun berlari berusaha menghindar. Tapi langkahnya yang kecil tentu saja bukan tandingan para penjahat yang telah terbiasa hidup dengan berburu itu. Maka tak perlu waktu lama mereka telah berhasil menyusul Ranu dan kini sedang mengepungnya.
"Apa yang tadi kau lakukan bocah!?" Teriak salah satu dari penjahat itu.
__ADS_1
"Bunuh saja dia !!" Teriak yang lain.
Merasa tak dapat lagi meloloskan diri Ranu hanya bisa pasrah dengan mencoba tetap melawan. Serentak penjahat itu menyerang Ranu dengan berbagai macam senjata yang mereka bawa. Ranu ketakutan, dia bingung, dia hanya bisa menutup mata menantikan kematian yang mungkin akan segera datang , dalam hatinya dia sempat berkata "Ayah, ibu , Ranu akan menyusul kalian".
Merasa serangan yang dinantikan tak kunjung datang Ranu pun penasaran dan membuka matanya perlahan. Ketika telah membuka mata sepenuhnya dia seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya empat orang yang tadi mengepungnya semua telah mati, Ranu kemudian sadar ada sosok di belakangnya, ketika dia menoleh dia melihat gurunya telah berdiri dengan tenang.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya gurunya tanpa melihat ke arah Ranu. Pandangan Rajendra terfokus ke depan melihat sisa gerombolan penjahat yang masih melakukan perampokan di desa itu.
"Ya guru" jawab Ranu pelan merasa terharu dirinya telah diselamatkan.
"Sekarang kamu bersembunyilah, sepertinya masih ada yang harus ku lakukan" Perintah Rajendra pada Ranu.
Belum sempat Ranu menjawab, gurunya sudah melesat ke arah kawanan penjahat yang masih tersisa. Ranu pun segera bergegas bersembunyi di belakang sebuah rumah yang berada di dekatnya. Dari tempatnya bersembunyi dia dapat melihat mayat- mayat penjahat yang tadi mengepungnya, setelah diamati dari tubuh mayat-mayat itu sama sekali tak terdapat luka benda tajam, tapi dari raut muka mayat yang matanya terbelalak dan mulut yang menganga itu mencerminkan kesakitan yang sangat sesaat sebelum ajal tiba.
"Apa yang telah guru lakukan pada mereka?" Tanya Ranu dalam hati. Sesaat kemudian dia duduk dan bersandar pada salah satu dinding rumah tempatnya bersembunyi, dia menatap ke arah langit dan menangis terharu terucap pelan dari mulutnya ;
__ADS_1
"Ayah, ibu aku telah berhasil membalaskan dendam kalian.." perasaan lega pun merasuki dirinya seiring air matanya yang telah berhenti menetes.