Pendekar Pedang Biru

Pendekar Pedang Biru
Awal Kehancuran


__ADS_3

Hujan yang turun di malam sebelumnya menyisakan air di lubang bekas pertempuran, menciptakan genangan-genangan air di sekitar benteng kerajaan Shaminari. Waktu itu keadaan belum cukup terang fajar baru akan menyingsing. Seekor burung terlihat terbang saat hendak minum dari air yang menggenang, burung itu sepertinya merasakan sebuah getaran pada tanah. Karena terlihat air dalam genangan itu nampak bergetar berkali-kali.


Para prajurit yang sedang berjaga di beberapa titik di benteng pun lama-lama mulai menyadari getaran yang datang berkali-kali. Beberapa prajurit tampak mengamati air dalam gelas yang ikut bergetar, beberapa yang lain yang berada dia atas benteng mengamati getaran genangan air di bawah mereka.


Seolah ada benda berat yang jatuh dari atas langit berkali-kali. Orang-orang mulai merasakan kebingungan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Para prajurit pun bersiaga, secara naluri mereka semua menatap ke arah luar benteng.


...*********...


Hari sebelumnya ketika sudah lewat tengah malam Patih Pramana telah mengumpulkan seluruh Prajurit Sastrika. Terdapat sedikit keraguan pada dirinya mencari cara untuk membawa Prajurit Sastrika untuk menyerang benteng kerajaan Shaminari.


"Apakah kalian tak dapat membawa mereka semua menuju dekat benteng?" Tanya Patih Pramana pada Wanara dan Shengkara.


"Jika harus sekaligus semua Prajurit Sastrika tentu saja kami tidak mampu, meskipun kami bisa membawa mereka satu per satu tapi itu akan makan waktu yang lama dan tentu saja akan menguras tenaga yang kami miliki" Jawab Wanara memberi penjelasan.


Patih Pramana segera memahami ucapan Wanara, sudah tentu jika hal itu tetap dilakukan terasa sangat tidak efektif. Lalu terpikir di benaknya jika mungkin saja Prajurit Sastrika memiliki kemampuan untuk dapat bergerak dengan cepat, maka dengan pemikiran itu dirinya akan mencoba menuntun mereka semua untuk pergi ke benteng kerajaan Shaminari.


"Arah manakah yang harus ku lalui untuk pergi ke benteng Shaminari?" Tanya Patih Pramana pada kedua siluman sambil menatap mereka bergantian.


Wanara dan Shengkara yang tidak paham maksud sang Patih hanya menunjuk ke arah benteng itu berada, "Arah sana tak mungkin salah lagi".


Setelah menatap jauh ke arah yang ditunjuk oleh Wanara, Patih Pramana pun segera bersiap untuk pergi ke benteng kerajaan. Sambil mengambil sikap untuk meloncat Patih Pramana berteriak dengan lantang pada seluruh Prajurit Sastrika "Ikuti aku!".

__ADS_1


Dengan sebuah tolakan Patih Pramana melompat, begitu tinggi lompatan itu hingga seolah sebuah bukit pun mampu dilewati dalam sekali lompat. Semua Prajurit Sastrika mulai tampak bergerak mengikuti lompatan Patih Pramana, tak terduga mereka semua ternyata juga mampu mengimbangi lompatan sang Patih.


Wanara dan Shengkara tentu saja terkejut dengan apa yang mereka lihat, sungguh diluar dugaan jika ternyata Patih Pramana merencanakan cara itu untuk menuntut Prajurit Sastrika untuk pergi ke benteng kerajaan Shaminari. Patih Pramana yang menoleh dan melihat jika Prajurit Sastrika berhasil melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukannya tampak tersenyum puas "dugaan ku tak salah" katanya dalam hati.


Maka dimulailah perjalanan mereka menuju benteng kerajaan Shaminari. Tanah selalu berdebam, bumi seakan hendak runtuh setiap kali mereka turun dan menapak tanah. Segala sesuatu terlihat rusak ketika menjadi tempat mereka mendarat, setiap kali para Prajurit Sastrika menapak ke tanah mereka akan segera melompat lagi. Dengan cara itu mereka seolah telah menghancurkan semua yang sudah mereka lewati.


Patih Pramana dan Prajurit Sastrika pun saat ini sudah hampir sampai ke tujuan mereka. Getaran di tanah yang mereka sebabkan kini sudah dirasakan oleh seluruh Prajurit yang berjaga di benteng kerajaan, atau bahkan mungkin sudah dirasakan oleh semua orang di kota Ankara.


...********** ...


Rajendra terbangun dari tidurnya karena merasakan getaran yang datang terus menerus, mengira jika dirinya hanya bermimpi Rajendra berusaha duduk dan mencoba merasakannya lagi. Karena masih juga merasakan dirinya menjadi yakin jika hal itu bukanlah mimpi, dengan cepat dirinya segera keluar dan mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Diluar ternyata para Atmik telah berkumpul dan memandang jauh ke dinding benteng.


"Kami sendiri juga belum tahu" Jawab Bayurajata mendahului yang lain.


Prajurit yang berjaga di atas benteng akhirnya melihat jawaban atas pertanyaan yang ada di dalam hati semua orang. Satu sosok yang tak lain adalah Patih Pramana telah mendarat tak jauh dari dinding benteng, kemudian diikuti oleh ratusan sosok-sosok lain yang juga mendarat di sekitarnya. Suara berdebam terdengar berkali-kali ketika satu persatu Prajurit Sastrika mulai mendarat, menggetarkan dinding benteng kerajaan Shaminari.


Ratusan pasukan berkuda yang telah bersiaga seketika membentuk formasi menyerang, mereka sadar jika serangan yang sudah dinantikan kini telah datang. Panglima dari pasukan berkuda itu pun telah menuntun pasukannya untuk keluar benteng, dengan bersenjata tombak dan pedang mereka tampak siap untuk menghempaskan pasukan musuh.


Meskipun kedatangan dan sosok Prajurit Sastrika yang terlihat memukau, namun karena jumlah mereka yang tak terlalu banyak sepertinya membuat prajurit kerajaan sedikit meremehkan kekuatan yang dimiliki Prajurit Sastrika.

__ADS_1


Melihat jumlah pasukan musuh yang kalah jauh dengan pasukan berkuda yang dipimpinnya Panglima kerajaan tampak sedikit lebih percaya diri dan bersemangat. Sambil mengendalikan kudanya Panglima itu berjalan didepan pasukannya sambil menyuruh pasukan berkuda nya untuk bersiap membentuk formasi dan bersiap untuk menyerang.


Sambil mengacungkan pedang yang dibawanya tinggi-tinggi Panglima itu pun segera meneriakkan perintah "Serang!!" Suara yang terdengar sangat keras dan jelas itu seolah mengisyaratkan jika perang baru saja dimulai.


Seluruh pasukan berkuda yang memahami jika perintah telah diberikan segera memacu kudanya, dengan tombak dan pedang yang diacungkan ke depan pasukan itu berteriak penuh ancaman. Dalam diri masing-masing pasukan berkuda itu, dipenuhi oleh keyakinan akan segera memenangkan perang dengan mudah. Melihat jumlah pasukan berkuda yang saat ini sedang menyerbu kiranya tak akan ada yang dapat membendungnya. Bahkan pasukan berkuda yang saat ini dikerahkan lebih besar dari pasukan yang dulu berhasil memenangkan perang dan merebut kekuasaan atas negeri ini.


Patih Pramana yang menyadari jika serangan hampir datang segera memerintahkan Prajurit Sastrika "Hadapi mereka!" Katanya dengan tenang.


Prajurit Sastrika pun segera bergerak maju melewati tubuh Patih Pramana, melihat jika pasukan berkuda sudah dekat mereka segera membentuk formasi sudut segitiga. Tanpa keraguan mereka diam dalam formasi itu menunggu terjangan pasukan berkuda.


Panglima pasukan berkuda melihat musuh membentuk formasi yang biasa dibentuk pasukan yang lebih kecil. Sambil menyunggingkan senyum sinis, dirinya merasa jika perang telah dimenangkannya. Panglima itu berpikir jika dirinya sudah berkali-kali menghancurkan formasi seperti itu, dan tentu saja kali ini dirinya akan berhasil melakukannya lagi.


Dibutakan oleh kesombongan pasukan berkuda itu menerjang begitu saja formasi yang dibentuk Prajurit Sastrika. Panglima pasukan berkuda mengira jika sudut formasi akan segera porak poranda ketika diterjang oleh ratusan pasukan berkuda yang dipimpinnya. Ketika sudut formasi itu telah rusak maka mudah saja bagian belakang pasukan berkuda untuk menerobos masuk dan menghancurkan mereka semua.


Namun sesuatu yang tak diperhitungkan oleh Panglima pasukan berkuda baru saja terjadi, sudut formasi itu sama sekali tak hancur, bahkan tak bergeming sedikitpun. Keadaan menjadi kacau ketika pasukan berkuda yang berada dibelakang terus memacu maju kudanya karena mengira pasukan yang didepan sudah menghancurkan formasi musuh.


Pasukan berkuda yang berada didepan pun menjadi terhimpit diantara formasi yang diciptakan Prajurit Sastrika dan pasukan berkuda yang terus bergerak maju. Dalam kekacauan itu akhirnya terdengar suara rintihan "Berhenti, hentikan laju kalian"


Dalam keputus asaan banyak pasukan berkuda yang akhirnya tewas terinjak-injak kuda pasukannya sendiri. Belum lagi semua pasukan berkuda menyadari kesalahannya, Prajurit Sastrika mulai melancarkan serangannya, beberapa yang tidak berada dalam formasi telah meloncat dari arah belakang. Serangan yang datang tak terduga itu jelas menghancurkan dan memporak porandakan pasukan berkuda dengan cepat.


Ketika berada di udara Prajurit Sastrika melancarkan gelombang pukulan yang menimbulkan ledakan dan melontarkan pasukan berkuda yang berada di sekitar tempat serangan. Saat mereka mendarat pasukan berkuda tampak terinjak dan roboh, tak perlu waktu lama serangan tanpa henti yang dilakukan Prajurit Sastrika telah berhasil mengalahkan semua pasukan berkuda.

__ADS_1


Pasukan berkuda yang digadang-gadang sebagai pasukan terkuat yang dimiliki Kerajaan Shaminari, kini seolah tak berdaya menghadapi Prajurit Sastrika. Pasukan yang biasanya selalu dapat memenangkan perang, saat ini sudah disapu bersih dalam satu serangan saja. Semua yang sedang terjadi sepertinya mengisyaratkan sebuah pertanda dari awal kehancuran kerajaan Shaminari.


__ADS_2