
Melihat perubahan pada sosok yang sesaat sebelumnya hendak dia serang, Rajendra makin penasaran diulang nya pertanyaan yang belum sempat dijawab,
" Siapa engkau sebenarnya? "
" Nama hamba Riswana, hamba adalah ruh penjaga hutan " jawab sosok itu memperkenalkan diri.
"Penjaga hutan?, Lalu kenapa engkau menyerang orang yang masuk ke bukit ini?" Tanya Rajendra lagi, masih dalam posisi pedang di tangannya.
" Ampun tuan, bukan hamba yang menyerang mereka tapi merekalah yang mencoba menyerang dan menangkap hamba " jawab Riswana mencoba menjelaskan.
Rajendra terdiam mencoba berpikir dan mengamati, merasa tak ada lagi ancaman dari Riswana diapun memasukan pedang dalam sarungnya.
" Menangkapmu? Jelaskan maksudmu? " Tanya Rajendra belum paham maksud Riswana, karena apa yang dia katakan tidak seperti cerita yang didengar dari orang-orang desa Maruya.
" Akan coba hamba ceritakan semuanya pada anda tuan " Kata Riswana lantas menceritakan sebuah kebenaran mitos,
Dahulu kala ketika manusia saling berperang memperebutkan kekuasaan. Keadaan dunia begitu kacau, banyak hutan yang dibakar, udara pekat tercemar oleh asap, air sungai dan tanah terkotori oleh darah dan mayat. Melihat banyaknya kerusakan yang ditimbulkan oleh manusia membuat dewa-dewa merasa miris dengan keadaan dunia, maka mereka memberikan ruh kepada hutan, air, api, tanah dan udara.
Dari itu terciptalah Riswana ruh hutan, Nadinari ruh air, Agnigara ruh api, Darani ruh tanah dan Bayurajata ruh udara. Penjelmaan dari masing masing ruh pun berbeda Riswana berupa serigala putih, Nadira berwujud ular hijau, Agnigara menjadi harimau emas, Darani berupa rubah merah dan Bayurajata jelmaan elang perak.
Para dewa memerintahkan kelimanya untuk menjaga keseimbangan alam, untuk sesaat mereka berlima berhasil mengurangi kerusakan- kerusakan alam yang ditimbulkan manusia. Namun lambat laun para penguasa yang kuat menyadari kehadiran mereka dan mulai memburu kelimanya untuk menguasai salah satu dari mereka untuk kepentingan sendiri. Maka perlombaan perburuan pun dimulai, karena jika bisa menangkap salah satu dari mereka artinya penguasa itu bisa mengendalikan kekuatan mereka.
Dunia pun semakin kacau saat kekuatan ruh penjaga disalah gunakan oleh beberapa penguasa yang berhasil menangkap mereka. Dewa-dewa yang mulai menyadari ketamakan manusia pun menjadi murka, para dewa kemudian mengutus dewa perang untuk mengatasi kekacauan di dunia. Dewa itu turun ke dunia dalam wujud sebuah pedang dan pedang itu adalah pedang Petir pedang yang saat ini Rajendra bawa.
Bersama seorang Raja yang bijaksana bernama Mahesa, dewa perang yang menjelma dalam wujud pedang pun berhasil mengalahkan para penguasa yang menguasai ruh penjaga satu per satu.
__ADS_1
Kedamaian pun tercipta dan dengan perintah para Dewa ruh penjaga itu memutuskan harus dikurung dan disembunyikan di empat penjuru mata angin kecuali ruh penjaga hutan yang dibebaskan tetap menjaga hutan dengan segala rahasia yang dia ketahui.
Rajendra mendengarkan semua cerita itu dengan seksama dalam hatinya dia sempat berpikir apakah mungkin maksud gurunya dulu yang menyuruhnya untuk mengelana ke seluruh penjuru negeri bertujuan agar dirinya bisa menemukan para ruh penjaga itu.
" Lalu kenapa kaki mu dibelenggu? " Tanya Rajendra penasaran.
" Rupa-rupanya saat ini beberapa penguasa yang kuat telah mengetahui rahasia yang hamba bawa, suatu ketika hamba pernah tertangkap oleh seorang pendekar yang kuat dan memaksa hamba untuk memberitahu keberadaan ke empat ruh penjaga lain yang disembunyikan " jelas Riswana.
" Apa kamu tahu siapa namanya? "
" Ampun tuan, hamba tidak tahu karena sebelum hamba menceritakan semuanya hamba telah berhasil meloloskan diri ketika perang besar kala itu terjadi " jawab Riswana sambil menangkupkan kedua tanganya.
" Jika cerita mu benar apakah orang yang menjadi kepala desa di desa Maruya itu jahat? " Tanya Rajendra mulai khawatir dengan keadaan muridnya.
" Hamba tidak dapat memastikannya tuan, mungkin saja ada orang lain yang sengaja memanfaatkannya "
" Ijinkan hamba ikut " kata Riswana memohon.
" Untuk apa? " Tanya Rajendra belum paham maksud " ikut " pada kata Riswana.
" Anda adalah pemilik pedang Petir, dan sudah menjadi kewajiban saya untuk mengabdi pada pemiliknya " jelas Riswana.
Rajendra yang mulai paham pun mengiyakan permintaan itu.
" Baiklah, kalau begitu akan ku bebaskan engkau dari belenggu di kakimu itu " kata Rajendra mendekati Riswana dan berlutut tangannya memegang belenggu di kaki Riswana mencoba menghancurkan rantai itu. Dengan kekuatan yang dia miliki hal itu tentu mudah saja dilakukan, ketika rantai itu berhasil dihancurkan wajah Riswana tak dapat menyembunyikan kebahagian.
" Terima kasih tuan " kata Riswana haru kemudian dia lanjutkan kata-katanya "kita harus bergegas tuan " seketika Riswana menghilang.
__ADS_1
Tak ingin memikirkan lebih lama lagi Rajendra pun berlari keluar bukit menuju desa Maruya, dalam hatinya dia berharap muridnya akan baik-baik saja. Memikirkan keselamatan muridnya membuatnya mempercepat laju larinya, sampai akhirnya dia telah sampai ke ujung jalan ke luar bukit.
Larinya terhenti kini yang dia lihat di depannya adalah Ranu dan kepala desa Maruya yang sudah diikat dan ditawan oleh orang-orang yang menjemputnya di kedai kemarin. Sepertinya mereka memang telah merencanakan semuanya, satu orang maju selangkah dan mengatakan,
" Rupanya kau berhasil selamat, serahkan dirimu atau akan ku bunuh mereka " ancam seseorang yang sepertinya pimpinan kelompok itu.
" Siapakah engkau dan apa mau mu? " jawab Rajendra tegas tak gentar dengan ancaman.
" Namaku Ragnala dan aku sudah lama mencari mu ! " jawab orang itu bangga memperkenalkan diri.
" Lantas apa mau mu? " Jawab Rajendra cepat karena tak ingin berlama-lama menghadapi keangkuhan orang yang kini sedang dihadapinya.
" Aku mau menukarkan engkau dengan 100 keping emas, engkau tentunya Rajendra orang yang sempat membuat gempar beberapa waktu yang lalu " kata Ragnala memperjelas tujuannya.
Rupanya Ragnala telah lama tinggal di desa Maruya, merasa perburuan hadiah sayembara dengan menangkap Rajendra terasa percuma dengan berkelana tak tahu arah. dirinya kemudian merencanakan sebuah jebakan, dialah yang selama ini menyebarkan isu tentang mitos bukit serigala, dengan isu yang dia sebar itu para pendekar akan datang ke desa Maruya dan berharap Rajendra menjadi salah satunya. Dan tanpa sengaja Rajendra memang datang ke desa itu, kesempatan yang telah lama Ragnala nantikan.
Memperhitungkan jika mungkin saja musuhnya lebih kuat maka Ragnala membuat tipu muslihat agar Rajendra bisa pergi ke bukit itu, jika pun dia bisa kembali setidaknya Ragnala sekarang punya tawanan.
" Cepat serahkan dirimu atau ku bunuh dia " kata Ragnala sambil mengarahkan pedangnya ke leher Ranu.
Wajah Ranu pun sudah terlihat pucat ketakutan, Rajendra hanya diam seperti sedang berpikir atau mencoba memperhitungkan apa yang akan dia perbuat. Saat itu tiba-tiba dia dengarkan sebuah bisikan suara " Biarkan hamba yang membereskan mereka tuan ". Rupanya suara itu dari Riswana yang masih dalam wujud tak kasat mata. Senang karena bantuan terbaik telah datang Rajendra pun maju dan berkata,
" Keangkuhan rupanya telah membutakan matamu, engkau terlalu meremehkan ku " seru Rajendra pada Ragnala.
Belum habis kata-kata yang Rajendra ucapkan, nampak kabut yang langsung menerjang kearah Ragnala, dia tampak terpental jauh dan tak sadarkan diri. Belum sempat mengetahui apa yang terjadi, orang-orang Ragnala pun satu per satu diterjang oleh kabut yang tak lain adalah sosok Riswana. Mereka semua telah berhasil di bereskan dengan begitu cepat, Darya dan Ranu yang tak paham apa yang terjadi hanya bisa tertegun keheranan.
" Kalian baik-baik saja? " tanya Rajendra yang ternyata sudah ada di dekat mereka sedang berupaya melepaskan ikatan yang menawan mereka, ucapan Rajendra membuyarkan keheranan mereka.
__ADS_1
" Ya kami baik- baik saja " jawab ke duanya hampir bersamaan.