Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 21 - Ini Istriku


__ADS_3

Kejadian kemarin tak membuat Ayas merasa malu. Dia tidak ingin membenarkan pandangan orang-orang itu karena dirinya sama sekali tidak bersalah. Berbeda dengan Dania yang memang melakukan kesalahan, secara jelas melanggar norma yang ada.


Sementara dia? Kama bahkan belum pernah menjamahnya. Lantas apa yang perlu Ayas takuti hingga harus mengurung diri di rumah? Hanya karena fitnah tak berdasar jelas tidak akan membuat Ayas sudi untuk terus ditatap hina.


Pagi-pagi sekali, bahkan hujan baru reda, Ayas tampak santai saja belanja sayuran ke warung yang biasa. Sedikit pun tidak ada keraguan Ayas untuk melangkah, tidak peduli seberapa banyak orang yang tengah menggunjingkannya.


"Gimana, Yas malam pertamanya? Lancar?"


Candaan lumrah untuk seseorang yang baru menikah. Namun, bagi Ayas hal itu justru berbeda. Belum sempat Ayas menjawab, seseorang yang lain sudah lebih dulu menimpali dan jawabannya sungguh teramat menyakitkan hati.


"Malam pertama apanya, Mbak Ela? Malam kesekian mungkin iya."


"Haha bisa saja Mbak Nunung, masa langsung disebut gitu di samping orangnya ... nggak sopan ih, depannya dong kalau berani."


Kembali gelak tawa beberapa orang itu bersahutan, seakan lucu sekali. Padahal, umur mereka bahkan dua kali lipat dari Ayas, bisa-bisanya memperlakukan anak kecil seperti itu sebagai bahan olokan.


Ayas tidak memberikan reaksi apa-apa, dia terlihat santai memilih beberapa jagung di sana. Tidak apa, sejak dulu memang sudah biasa menjadi bahan gunjingan, statusnya sebagai adik dari Dania benar-benar bak malapetaka.


Gaya pacaran Dania yang begitu bebas hingga berakhir penggrebekan di rumahnya beberapa tahun lalu benar-benar merusak nama baik keluarganya. Kini, entah apa dosanya hingga Ayas juga turut merasakan hal yang sama, bahkan lebih sakit lagi karena dia sama sekali tidak merasa bersalah.


"Eh ngomong-ngomong suaminya ganteng loh, wajar saja Juki kalah saing."


Seakan tak habis yang mereka bicarakan, setelah topik pertama tidak Ayas tanggapi kini mereka beralih ke topik lain dengan harapan akan berhasil menyerang mental Ayas.


"Iya sih, ganteng ... tapi kan nggak jelas dia siapa? Kalau Juki jelas, lagian kalau sama Ayas jatuhnya Juki yang rugi. Kalian tahu, 'kan anak Bu Dewi sekarang sukses di kota!!" seru wanita berambut gersang dan bibir merah menyala yang merupakan pemimpin ghibah tersebut.


"Benar juga, nanti juga kalau Juki makin terkenal bisa dipastikan dia akan dapat yang lebih baik dan lebih cantik, aku yakin itu."


Ayas hanya tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. Bukti jika Marzuki mau menang sendiri, sedikit saja dia tidak menyebut siapa yang berada di balik prosesnya hingga perlahan muncul di televisi dan menatapnya bak manusia paling tersakiti.


Jika Ayas ingin, bisa saja dia mengungkapkan fakta yang sebenarnya. Hanya saja, sekalipun dia berkoar-koar tidak mungkin akan ada yang percaya ucapannya.


Saat ini yang bisa dia lakukan hanya diam, biarlah waktu menjawab semua. Tidak perlu susah, dalam sekejab Ayas bisa saja meminta Kama menghancurkan karir Marzuki, hanya saja Ayas tidak sejahat itu.

__ADS_1


Setelah dipastikan semua yang dia butuhkan lengkap, Ayas bermaksud untuk membayar dan pulang segera. "Berapa Bu Atun?"


"Sama hutang kakak kamu sekalian ya, Yas? Kemarin nggak tega nagihnya." Atun, pemilik warung serba ada itu adalah satu-satunya yang tidak tertarik dengan pembicaraan mereka.


Entah karena demi menjaga agar Ayas tidak pindah ke warung yang lain, atau memang hati nuraninya berbeda hingga bersikap wajar sekalipun tahu apa yang terjadi pada Ayas.


Tak punya pilihan lain, Ayas kembali membuka dompetnya. Total belanjaan saja belum dihitung, sementara dia hanya membawa selembar uang seratus ribu sisa ongkosnya.


"Berapa totalnya, Bu?"


"178, Yas."


Benar saja, uangnya kurang akibat hutang Dania yang ikut terhitung dan harus menjadi tanggung jawabnya. Kebiasaan sejak lama dan entah apa yang menjadi alasan Dania kali ini hingga sampai berhutang segala.


Ayas kebingungan, dan tiga wanita yang tampak menatapnya di sana mulai berbisik. Sudah tentu takut dipinjam, Ayas gelagapan dan mulai meminta agar belanjaannya dikurangi saja.


"Yang mana mau dikurangi, Yas?" tanya Bu Atun dan Ayas menimbang keputusan, dia sudah melakukan pengiritan dan yang dia beli juga untuk Kama semua.


"Eum jagungnya nggak us_"


.


.


Tak hanya Bu Atun, kali ini Ayas juga dibuat terkejut dengan kehadiran Kama yang masih mengenakan baju tidur dan jaket tebalnya. Tiga wanita bermulut pedas yang sejak tadi menggunjingkannya juga ikut terdiam, agaknya terpesona dengan penampilan Kama yang memang sebening itu, terlebih lagi dilihat dari dekat.


"Mas? Kok tahu aku di sini?"


"Feeling," jawab Kama tersenyum tipis dan membawa barang belanjaan istrinya.


Keduanya berlalu meninggalkan tempat itu tanpa merasa bersalah, karena faktanya memang tidak. Bahkan, Kama tidak malu menyapa lebih dulu orang-orang yang berpapasan dengannya. Sok akrab kalau kata Ayas, tapi menurut Kama hal semacam itu sangatlah penting.


"Kamu ramah juga ya aslinya," puji Ayas secara tak langsung, sama sekali tidak dia duga jika Kama akan seramah itu sebelumnya.

__ADS_1


Kama tidak menjawab, dia hanya tersenyum simpul sembari mengekor kemanapun Ayas pergi. Mulai dari memisahkan sayuran hingga mencucinya ke belakang Kama ikut layaknya anak kecil dalam pengawasan ibunya.


Hingga, Ayas memintanya untuk duduk dan menunggu lantaran air untuk menyeduh teh hangat baru saja akan mendidih. Sikap Ayas seolah tidak berubah, mungkin karena terbiasa beberapa waktu di merawat Kama sebagai majikannya.


"Mau teh atau kopi?"


"Tidak dua-duanya," jawab Kama cepat, saat ini dia tidak ingin dilayani semacam itu.


Sejak terbangun, kepalanya terasa sedikit sakit dan hal itu tidak kuasa dia tahan lebih lama. Pria itu nekat mencari Ayas agar pulang lebih cepat, entah kurang tidur atau pengaruh udara semalam hingga Kama mendadak masuk angin keesokan harinya.


"Kalau sakit kepala kenapa pakai jemput aku segala, Mas? Kan bisa tunggu."


"Kamu lam_aaarrgghh pelan-pelan, Yas, sakit!!"


Tidak ada cara lain, begitu Kama mengeluh sakit kepala dan tubuhnya meriang, Ayas segera menggunakan metode pengobatan yang sudah dia percayai sejak zaman nenek moyang, apalagi kalau bukan kerokan.


Kama mungkin tersiksa, karena sama sekali tidak pernah hingga untuk menyelesaikan segaris saja lamanya luar biasa. Pagi-pagi begini kamarnya sudah dipenuhi dengan dessahan dan rintihan Kama yang menahan rasa sakit hingga Ayas sengaja membuka pintu agar kakaknya bisa melihat dengan jelas apa yang mereka lakukan.


Cukup lama dia disiksa pagi ini, keringat mengucur di kening dan tubuhnya dengan napas yang terengah-tengah. Belum selesai di sana, Ayas memijat pelipisnya begitu lembut sebagai sentuhan terakhirnya.


Kama tak berhenti memandanginya, dari bawah begini wajah Ayas terlihat lebih imut. Sungguh tidak mungkin dia sia-siakan hingga perlahan pria itu mengulurkan tangan dan mengusap pelan wajah sang istri.


"Ini istriku, 'kan?" Dia bermonolog, matanya menatap nanar dengan senyum yang perlahan mengembang, sekeetika Ayas memerah dan berusaha mengalihkan pandangan.


"Yas sudah selesai atau bel_ astaga maaf!! Mbak nggak lihat kok sumpah." Dania yang sempat masuk mendadak keluar lagi hingga Ayas panik dan meminta Kama untuk duduk seketika.


Mereka terlena, dan pemandangan yang tadi terlihat memang cukup untuk menimbulkan kesalahpahaman. "Sudah, Mbak, kenapa?"


"Bu Dewi mau bicara sama kamu, Yas, dia nunggu di depan."


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2