Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 30 - Nggak Dicicil


__ADS_3

Jika biasanya pengantin baru akan berbunga-bunga usai melakukan malam pertama, Kama justru berbeda. Sejak tahu bahwa istrinya kedatangan tamu bulanan, tidak ada binar kebahagiaan di wajah pria itu.


Hidup segan mati tak mau, Kama lemas dan tidak semangat melakukan segalanya. Jangankan kerja, mengangkat telepon saja dia malas. Sejak tadi dia hanya menatap nanar tanpa arah, sandwich yang Ida sajikan seolah tak menarik, Kama hanya makan satu gigit dan dia letakkan begitu saja hingga Ayas bingung suaminya kenapa.


"Kamu kenapa, Mas? Kok lemes?"


Aneh sekali, padahal yang seharusnya lemas adalah Ayas. Bagaimana tidak? Sebelum sarapan dia sudah mencuci seprai dan juga selimut yang ukurannya tidak biasa.


Bukan hanya itu, dia juga harus membersihkan kembali tempat tidur agar bisa kembali digunakan nanti malam. Parahnya lagi, semua itu Ayas lakukan dengan menahan sakit yang luar biasa menyiksa, tapi dia tidak selemas Kama.


Kama memang membantu, ya walau hanya bantu doa dan teriak-teriak manggil Ida lantaran tak tega melihat istrinya mencuci sebanyak itu. Mengingat apa yang Kama lakukan, agak aneh saja jika hal itu menguras tenaganya.


"Mau sarapan yang lain?"


Ayas menawarkan nasi goreng yang ada di piringnya, menu sarapan favorit bersama Ida. Kama menatapnya tanpa minat, tapi tetap memuka mulutnya padahal Ayas tidak ada niat untuk menyuapinya.


Terpaksa, mau tidak mau Ayas memenuhi kode dari Kama. Tanpa diminta, apalagi memaksa istrinya menurut begitu saja hanya dengan Kama membuka mulutnya. Padahal, dari yang Ayas ketahui pria itu menghindari karbohidrat yang bersumber dari nasi sejak beberapa tahun lalu.


Anehnya, pagi ini dia mau-mau saja bahkan tanpa sadar nas goreng milik Ayas sisa setengah. "Enak, siapa yang masak?" tanya Kama di sela makannnya, dia pernah merasakan, tapi mungkin tidak seenak ini.


Siapa lagi jika bukan istrinya sendiri, masakan Ayas pas di lidahnya. Terlebih lagi jika makannya disuapi seperti ini. Mungkin bagi beberapa orang Kama terdengar sedikit aneh, tapi memang hingga dewasa dia masih kerap disuapi oleh bi Rosma, dan hal itu membuatnya terbiasa hingga tak malu meminta sang istri melakukan hal yang sama.


Namun, melihat suaminya yang lahap Ayas justru mendadak tidak makan, padahal dia juga baru beberapa suap di awal. Jika tahu Kama akan suka, maka sudah tentu dia akan membuat dengan porsi yang lebih banyak.


"Kamu kenapa nggak makan juga? Jijik karena sendoknya bekas mulutku?"


"Bu-bukan begitu, ini aku makan."


Ayas hanya khawatir Kama tidak kenyang, sementara Kama justru salah sangka hingga Ayas mematahkan keraguannya detik itu juga. Sarapan kali ini bukan hanya menu yang berbeda, tapi suasananya juga.

__ADS_1


Perhatian kecil Ayas sedikit mengurangi kekesalan Kama, walau memang tidak sembuh sepenuhnya. Namun, dengan sikap manis yang Ayas tunjukkan, niatnya yang tadi hanya ingin bermalas-malasan agaknya mulai berkurang.


.


.


Usai sarapan, dia mulai bersiap untuk berangkat kerja walau hitungannya sudah terlambat. Maklum saja, sejak tadi dia sibuk sendiri membantu istrinya mencuci, bahkan turut andil membantu menjemur walau kehadirannya di sana tidak terlalu penting juga.


Ayas termasuk wanita yang mampu belajar dengan cepat. Ditambah lagi, Dania selalu memperingatkan apa yang harus Ayas lakukan sebagai istri. Begitu mendengar Kama akan berangkat kerja, dia segera bergegas menyiapkan yang Kama perlukan.


Tidak hanya sekadar menyiapkan, tapi Ayas juga membantu sang suami mengenakan pakaiannya. Tugas-tugas ini sebenarnya tak jauh berbeda dengan tugas sebelum menjadi istri Kama, hanya saja caranya sudah sedikit berbeda.


Cara pamitnya juga tak lagi sama, Ayas bahkan tak segan mencium punggung tangan Kama sebelum pria itu pergi. Sebuah hal tak biasa yang membuat Kama berdesir, dia memandangi Ayas cukup lama sebelum kemudian mendaratkan kecupan di keningnya.


"Baik-baik ya ... jangan dipaksain kalau tidak kuat, kamu istirahat saja," tutur Kama begitu lembut.


Walau dia tidak tahu rasanya, tapi mengingat Kalila yang kerap mengamuk persis siluman kera jika sedang datang bulan, sedikit banyak dia tahu penderitaan seorang perempuan.


Tidak ada jawaban lain, Ayas mengiyakan seraya mengulas senyum manisnya. Kama mulai berlalu menjauh dan perlahan menghilang dari pandangan Ayas.


"Ehem, kamu berhutang padaku, Yas."


"Hutang apa, Mbak?" tanya Ayas kini menoleh, sudah tentu yang memanggilnya adalah Ida.


"Penjelasanlah, kamu belum cerita gimana kejadiannya? Kok bisa nik_"


"Ayaaaas!!"


Baru saja hendak dimulai, tapi sesi curhat mereka terganggu lantaran Kama yang tiba-tiba kembali entah apa alasannya. "Kenapa, Mas? Ada yang ketinggalan?"

__ADS_1


Kama mengangguk, senyumnya terbit begitu tipis seraya mengikis jarak. Tanpa aba-aba meraih tengkuk leher Ayas dan meraup bibir sang istri tanpa peduli ada Ida yang mendadak beku menatap pemandangan semacam itu di depan matanya.


"Bibirku kering," ucap Kama usai melepas pagutannya, tidak lupa dia mengusap bibir Ayas yang tampak basah itu dengan ibu jari hingga Ayas seketika merasa tidak lagi punya muka.


Tak jauh berbeda dengan Ayas, Ida juga turut merasakan malu hingga dia mengalihkan pandangan seraya mengusap lehernya. "Sejak kapan bibir kering obatnya itu," gumam Ida yang ternyata bisa terdengar jelas di telinga Kama.


"Bilang apa barusan?"


"Ah? Ti-tidak, Tuan, kapan selimutnya kering kalau mendung begini ... gitu maksud saya."


"Mendung? Aku bahkan tidak melihat awan pagi ini," pungkas Kama sebelum berlalu pergi, tak lupa dia menyempatkan diri untuk mengusap puncak kepala sang istri lebih dulu.


Ayas hanya mengullum senyum, kali ini Ida terlihat ciut dan begitu lucu di matanya. "Senyum-senyum, kamu nggak diapa-apain, 'kan Yas?"


"Hah? Maksudnya gimana, Mbak?"


"Ya aneh saja, kenapa bisa tiba-tiba kamu mau jadi istrinya ... jangan bilang dicicil dulu? Iya?" tebak Ida yang membuat Ayas semakin bingung saja, dia berpikir keras sebelum menjawab dan tetap tidak dia temukan maknanya.


"Cicil? Enggak kok, Mas Kama kasih maharnya uang tunai, nggak dicicil."


"Bu-bukan maharnya yang kumaksud, Larasati!!"


"Terus apa?"


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2