
Berawal dari ide Kama yang memanfaatkan film semi sebagai sarana untuk membuat mata istrinya terbuka, pria itu menyesali keputusannya. Bukan tanpa alasan, tapi kata ulang ternyata tidak hanya sekali Ayas katakan. Tapi berkali-kali hingga Kama kewalahan, persis bak balita yang mulai kecanduan menonton coco lemon atau semacamnya.
Kama mungkin berdosa, tanpa dia sadari jika sebenarnya telah menodai otak suci sang istri. Hendak dihentikan juga telanjur, dan ketika Kama memaksanya selesai, Ayas selalu punya alasan untuk membantah Kama. "Sayang sudahlah, mau berapa kali lagi?"
"Bentar, Mas ... aku paling tidak suka kalau lagi belajar diganggu."
Kama menghela napas panjang, ya salah dia memang yang mengatakan jika otak ayas kosong. Setelah melihat sang istri, Kama memahami jika Ayas adalah tipe pelajar dengan rasa ingin tahu yang tinggi dan tidak main-main dalam menyerap ilmunya.
Jika ilmunya bukan seperti ini tidak masalah, yang jadi masalah adalah Kama ikut panas dingin, sementara istrinya terlihat biasa saja dan berusaha memahami seakan yang dia pelajari memang penting sekali.
"Jam pelajaran sudah habis, sini hp-nya."
"Ih bentar, besok-besok aku tidak mau lihat lagi jadi cukup kali ini."
Kama memejamkan mata dan memijat pangkal hidungnya. Entah akan berapa lama lagi Ayas menontonnya, yang jelas Kama kini sedikit gerah. "Tapi, serius aku mau tanya," celetuk Kama di sela-sela fokusnya Ayas.
"Tanya apa, Mas? Aku dengar kok."
Sungguh Kama penasaran, dia ingin tahu dan benar-benar membuktikan sesuatu tentang Ayas. "Apa kamu benar-benar baru pertama kali melihat ini?"
"Iya."
"Impossible." Kama menggeleng pelan, bibirnya spontan saja bicara demikian. "Terus hp-mu apa gunanya?" tambah Kama kemudian.
"Hp? Yang pasti aku gunakan untuk hal penting dan baik ... belajar salah-satunya, dan juga kata pak Bo'im, nonton pornho itu dosa!! Otaknya jadi rusak," jawab Ayas santai yang membuat Kama tersedak ludah.
"Pak Bo'im siapa?"
"Guru Agamaku." Kama mengangguk mengerti, ya dapat diterima dan memang faktanya demikian.
"Ehm, lalu kalau tahu itu dosa kenapa kamu mau? Berulang kali lagi?" Sama-sama mematahkan mental, Kama juga balik menyerang sang istri.
"Aku mau lihat ini karena mas yang suruh ... jika tidak nanti istri yang otaknya kosong ini berdosa karena tidak mampu menyenangkan suami seperti kata kak Dania."
__ADS_1
Deg
Dia berucap sangat santai, tapi Kama terhenyak dan merasa bersalah, dadanya sesak seketika. Entah kenapa dia yakin ada makna tersirat dalam ucapan sang istri, agaknya lidah Kama terlalu berbisa hingga dia tidak sadar melukai perasaan istrinya.
"Laras? Ap-apa maksudmu?"
"Hah? Tidak, kan mas tadi yang bilang begitu," jawab Ayas justru semakin membuat hati Kama tak karu-karuan.
Tak ingin lebih lama merasa sesak lebih lama, Kama meminta ponselnya tanpa peduli penolakan Ayas. Tak lupa, dia juga menghentikan film tersebut dan menjauhkan ponselnya segera.
Ucapan Ayas begitu menusuk hingga Kama merasa tertampar dan sadar jika dia terlalu banyak menuntut. Masih tanpa suara, Kama menarik Ayas dalam peluknya seraya mengusap pundak sang istri berkali-kali.
"Maaf, seharusnya aku tidak begini."
Begitu lembut Kama bicara, dia tulus melontarkan kata maaf pada sang istri. Sementara di sisi lain, Ayas yang diperlakukan semacam itu mendadak bingung apa sebabnya.
"Mas kenapa? Aku salah lagi?"
Kama tidak terima pertanyaan lagi, dia hanya ingin tidur hingga semakin mengeratkan pelukannya. Namun, di sisi lain Ayas yang tadi sempat mengantuk dan dipaksa harus menonton dulu akhirnya kehilangan rasa kantuk itu.
.
.
Cukup lama keduanya terdiam, Kama yang kini terpejam terlihat seperti tidur sungguhan. Sementara Ayas hanya memandangi wajah tampan sang suami seraya berpikir keras. "Mas, sudah tidur ya?"
"Belum, kenapa?"
"Kamu mau aku bayar yang tadi?" tanya Ayas terang-terangan, mata Kama membulat sempurna dan dia paham kemana arahnya.
"Yang tadi apa?" Kembali berlagak seakan tidak tahu segalanya, tapi otaknya sudah bisa menyimpulkan apa maksud Ayas.
"Yang di kamar mandi, Mas ... aku sudah menyerap ilmunya, nih otakku tidak kosong lagi dijamin deh."
__ADS_1
Kama tersenyum tipis, walau sempat panas dingin, tapi ucapan sang istri beberapa saat lalu membuatnya percikan gairahnya reda saja. Terlebih lagi, melihat mata bening Ayas yang mungkin telah kotor semenjak mengenalnya, jujur saja Kama hanya merasa bersalah.
"Tidurlah, besok kita pulang ... nanti kamu kecapekan."
"Aku serius, Mas, kali ini tidak akan_"
"Shuut, aku ngantuk ... cepat tidur," titah Kama tak terbantahkan, sungguh dia hanya ingin malam ini berakhir segera, itu saja. "Ehm, sebelum tidur lupakan yang tadi, singkirkan dari pikiranmu, mengerti?"
"Hihi udah terekam jelas, mana bisa dibuang begitu saja?" Ayas memperlihatkan gigi rapihnya yang membuat Kama gusar seketika.
"Sial, jadi di otakmu sekarang ada yang lain? Boleh ditonton tapi jangan diingat, kamu hanya perlu ingat punyaku saja," tutur Kama baru menyadari jika dirinya sudah melakukan kesalahan besar saat ini.
"Sudah pasti, mana mungkin aku lupa kalau yang itu."
"Oh iya?"
"Iya, kenapa mukanya begitu?"
"Kalau memang ingat, coba sebutkan ciri-cirinya?"
Ayas terdiam, dia memerah, tapi juga tampak berpikir. "Ehm ... kurang lebih sama kayak yang di video, tapi lebih kecil dik_"
"Heh!! Sembarangan, kecil-kecil," protes Kama tak terima hingga Ayas tergelak seketika. "Maksudku lebih kecil punya dia!! Asal motong ih, dengerin dulu makanya."
"Oh? Kirain," sahut Kama tertawa sumbang, "Kamu ngomongnya setengah-setengah."
"Lah? Setengah apanya? Emang belum selesai, tapi mas yang motong pembicaraanku."
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1