
Zidan pikir, fokus Kama hanya terpecah ketika di kantor saja. Nyatanya, hingga bertemu dengan pria yang katanya emosian, dia juga tetap sama. Sudah beberapa kali pembicaraan mereka terhenti lantaran Kama yang uring-uringan hingga Zean, yang tak lain mantan bos adik iparnya itu menyerah.
"Kau kenapa? Apa cara sekretarisku bicara membosankan? Apa perlu sambil kayang?"
"Ti-tidak, Ze, lanjutkan saja ... tadi sampai mana?"
Sebelum bertemu Kama khawatir sekali membuat rekan bisnisnya ini marah. Bahkan, Zidan sampai mabuk perjalanan dibuatnya. Namun, begitu tiba di hadapan Zean, pria itu justru seakan menyia-nyiakan kesempatan dan kembali berulah di hadapannya.
"Sudah tiga kali, aku rasa lidah sekretarisku sudah linu ... kita tunda saja, kau sangat tidak fokus sepertinya."
Tak ada kata lain, Kama meminta maaf atas hal tersebut. Sungguh dia merasa tak enak hati, padahal mendapatkan kesempatan bekerja sama dengan pria itu sangatlah sulit. Terlebih lagi direktur utama MN Group sekaligus owner ZS beauty itu sangatlah sibuk, tapi dia dengan senang hati bersedia menunggu Kama hari ini.
"Tidak masalah, besok bisa kita diskusikan lagi."
Kama tidak ingin kembali merayu, jika Zean sudah berbicara demikian maka sudah dipastikan tidak bisa ditawar lagi. Hendak dia paksakan juga percuma, Kama memang tidak fokus dan baru kali ini dia sampai resah setelah mengambil keputusan.
Padahal, sejak tadi juga Zidan sudah meyakinkan bahwa tindakannya tidak salah dan tidak perlu disesali sedalam itu. Selepas menemui Zean, pria itu berlalu pergi dan tujuannya kali ini bukan kantor, melainkan apartement Rizal.
Titik terendah dalam hidup Kama ialah mendatangi temannya, jika tidak Rizal, maka Samuel. Hanya saja, saat ini Samuel tengah sibuk di rumah sakit. Terpaksa, mau tidak mau dia harus mendatangi Rizal yang kerjanya cukup santai dan tidak sesibuk Samuel.
"Tumben, ada maunya ya?"
Ya, maksud kedatangannya tertebak. Salah-satu tabiat Kama yang sedikit menyebalkan ialah datang ketika susah, dan lupa jika tengah bahagia. Rizal menatapnya ogah-ogahan, pria itu terus saja fokus dengan motor butut milik salah-satu pelanggannya yang sejak kemarin belum benar juga.
Kendati demikian, walau sudah mendapat pertanyaan semacam itu seorang Kama tidak akan pernah mengerti dengan kata tersinggung. Dia santai saja dan mulai meraih sebatang rokok milik Rizal yang kemudian dirampas sebegitu cepatnya.
__ADS_1
"Jangan macem-macem, lo nggak boleh ngerokok lagi, Kama."
Kama lupa, kepalanya seberat itu sampai tidak ingat apa yang boleh dan tidak boleh dalam hidupnya. "Sekali aja, kepala gue sakit, Zal."
"Nggak ada, jangan lupa lu udah berapa kali hampir koit ... gaya-gayaan ngerokok."
Hanya senyum tipis dia perlihatkan, tak begitu banyak reaksi yang Kama perlihatkan kali ini. "Gue hampir mati karena kecelakaan, nggak ada hubungannya sama rokok ... udah sini."
Sudah dilarang dan dia memaksa, Rizal yang paham jika Kama sudah bertingkah maka artinya banyak masalah, terpaksa pria itu memberikan izin untuknya. "Tiga hisapan, selesai kasih gue."
"Bekas mulut gue nggak jijik lo?"
"Haha santai, cewek bekas lo aja gue mau," jawab Rizal terkekeh yang membuat Kama terbatuk, seketika dia menatap Zidan yang tampak bingung di antara mereka. "Jangan ngaco, Zal, Zidan mikirnya beneran gue senakal itu."
Dia marah? Jangan ditanya, bahkan jika bisa Rizal akan Kama telan bulat-bulat. "Sialan lo, bini gue nanya gue jawab apa, Nyet?!"
"Lebay!! Kalau liat yang begitu bini lo ga bakal marah, cewek biasanya sensi sama noda lipstik, santai aja lah."
"Bukan masalah itu, tapi yang nyuci Ayas!! Lo nyusahin bini gue ya!!" bentak Kama sembari terus menghissap zat nikotin yang sejenak melegakan pikirannya itu.
"Bini kok disuruh nyuci, pembantu lo kemana?"
"Ayas yang maunya begitu, kalau mau protes sama bini gue jangan sama gue," balas Kama yang agaknya sangat menikmati sebatang rokok yang dia minta paksa itu.
Dia sudah membantah aturan Rizal, hingga ketika dirampas Kama hanya bisa berdecak pelan. Pria itu menghempaskan tubuhnya di atas sofa tua dan berdebu itu, merokok ternyata tidak membuatnya tenang sama sekali.
__ADS_1
Melihat Kama yang begitu kusut, Rizal kini bertanya pada asisten Kama yang sejak tadi menjadi saksi pembicaraan mereka. "Bos lo kenapa? Aneh banget."
Zidan hanya mengedikkan bahunya, pria itu tak begitu dekat dengan kedua teman Kama, terutama Rizal. "Jangan tanya dia, gue kemari karena mau cerita," timpal Kama tanpa diminta, pria itu menatap kembali mengalihkan perhatiannya.
"Oh, kenapa memangnya? Ada masalah?"
"Hm, dan ini serius."
"Wih apatuh? Bini lo minta cere?"
"Buset mulutnya!! Perlu gue sekolahin lidah lo?" tanya Kama mendelik tajam, jika tahu Rizal akan bersikap demikian, agaknya dia lebih memilih menunggu Samuel saja.
Seperti biasa, Rizal hanya tergelak melihat perubahan diri Kama. Selama ini Kama tidak pernah sebegitunya, jelas tidak salah andai Rizal berpikir penyebabnya memang Ayas, istrinya.
"Terus apa?"
"Gue takut."
"Hm? Takut?"
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1