Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 55 - Salah Minum Obat


__ADS_3

Sebuah peringatan yang disampaikan sang mama pada istrinya jelas tidak mungkin Kama abaikan. Begitu mendengarnya, Kama bergegas mengurus administrasi pernikahan dan juga turut merencanakan resepsi yang akan dia gelar dua bulan lagi.


Hal itu telah dia sampaikan pada keluarga besarnya, termasuk oma dan opanya yang juga terkejut bukan main begitu mendengar pengakuan Kama. Bukan tanpa alasan dia merencanakan resepsi tersebut tidak digelar dalam waktu dekat.


Namun, misinya untuk membuat Marzuki terlena dengan pencapaian dan hancur ketika berada dipuncak tidak akan berubah. Bahkan, Zidan sampai bingung kenapa harus dengan cara itu padahal Kama bisa menghancurkan Marzuki saat ini juga.


"Sudahlah, kita memang tidak sepaham untuk hal ini ... urus saja yang penting, Zidan."


"Sudah, semua sudah selesai termasuk dengan designer yang Anda minta."


"Baguslah, kau sudah pastikan semua sesuai keinginanku, 'kan?"


"Tentu saja ... rincian biayanya sudah saya perlihatkan jika Anda lupa," ucap Zidan kemudian.


Begitu banyak permintaannya untuk menggelar resepsi pernikahan. Zidan bahkan bingung yang mana yang harus dia dahulukan karena Kama begitu banyak permintaan.


Sementara dirinya? Jelas setelah memberikan perintah pergi begitu saja dengan alasan banyak yang harus dia pantau. Dia yang merangkap sebagai produser seolah dijadikan senjata hingga membuat Kama bak pria paling sibuk sedunia.


Jika bukan karena statusnya sebagai putra Gian, besar kemungkinan posisinya sudah lengser sejak awal tahun. Zidan tidak mengerti kenapa Kama sampai sesibuk itu, terutama setelah menikah dan Marzuki debut sebagai aktor yang dia naungi.


Setelah beberapa hari kursinya terkadang hanya di isi beberapa jam, baru kali ini Kama yang duduk diam dan tidak banyak tingkah. Rapat dan semua agenda juga dia lakukan tanpa protes dan mengeluh lelah seperti biasa, yang jelas Kama memperlihatkan pada dunia jika dia baik-baik saja.


Bahkan, kali ini Kama tak keberatan pulang malam. Padahal biasanya dia buru-buru pulang dengan alasan istri, istri dan istri. Entah kenapa malam ini justru berbeda, mungkin merindukan Zidan atau kursi kekuasaannya.


"Ehm aku percaya padamu, yang urus pembayarannya juga tetap dirimu," ucap Kama kemudian menatap Zidan yang hanya menarik napas dalam-dalam.

__ADS_1


"Kau kenapa? Lelah?"


"Lumayan, saya kurang tidur beberapa hari ini," tutur Zidan kemudian, dan tentu saja Kama yang tidak sadar jika penyebab Zidan sesibuk itu akan melontarkan kalimat menyebalkan yang sebaiknya disimpan saja.


"Salahmu, kenapa juga tidak tidur, padahal masih sendiri tapi persis ngurus bayi," seloroh Kama kini mengalihkan perhatian pada gawainya.


Zidan yang merasa percuma memberikan kode semacam itu memilih diam dan menunggu perintah Kama selanjutnya. Sementara di sisi lain, sebenarnya yang dibahas sudah selesai, tapi Kama malas jika harus sendiri di ruangan kerjanya karena memang sudah gelap.


Sudah pasti tujuannya untuk bicara panjang lebar bersama Zidan, hendak pulang juga tidak mungkin hingga dia memutuskan untuk membicarakan hal tersebut setuntas-tuntasnya.


Kama juga tengah berusaha menguji Ayas sebenarnya, tepatnya mencari perhatian dan menunggu pesan dari sang istri yang meminta untuk pulang. Namun, sudah hampir jam sembilan, pesan yang Kama harapkan belum juga terlihat.


"Zidan."


"Iya, Pak, ada lagi yang perlu saya lakukan?"


"Entahlah, saya juga tidak mengerti tentang wanita ... karena, sejauh yang saya ketahui wanita memang sulit dipahami."


"Iya juga, kenapa juga aku bertanya padamu," ucap Kama yang membuat Zidan mendadak meyesal menjawab pertanyaannya.


Beberapa saat menunggu, Kama mulai menyerah dan bermaksud menyimpan teleponnya. Namun, di saat harapannya hampir punah mendadak nama sang istri muncul di layar ponsel yang membuat Kama berbinar seketika.


"Hallo, Sayang." Cepat sekali dia tanggap, bahkan nadanya baru terdengar dan hal itu menegaskan jika dia memang sengaja menunggu.


Zidan yang menangkap kelakuan bosnya hanya menggeleng pelan, maklum saja sejak dahulu tidak pernah berhubungan dengan siapapun hingga ketika punya istri dia sesenang ini. "Meriang? Coba kamu cari obat di sudut meja samping P3K, kalau tidak salah ada."

__ADS_1


Dari jawabannya dapat disimpukan jika Ayas menghubungi hanya untuk menanyakan tentang obat, bukan karena memintanya pulang, sungguh kasihan, batin Zidan. Cukup lama pria itu bicara, dia juga terdengar menenangkan Ayas dan memintanya untuk mengenakan selimut tebal.


Mungkin bagi Zidan patut diledek, tapi bagi Kama istrinya yang mengadu karena meriang ini adalah sebuah pencapaian terbesar. Dia bahagia tentu saja, senyumnya mengembang dan tidak mengizinkan Ayas mematikan ponselnya segera.


"Sudah diminum, 'kan?"


"Sudah dari tadi, Mas ... i-ni obat apa ya? Kok badanku jadi panas beneran?"


"Baguslah, berarti obatnya sudah mulai bekerja kalau panas."


"Bukan panas, tapi gimana ya? Gerraaah, Mash." Kama menajamkan pendengarannya, bahkan dia meminta Zidan untuk diam, padahal sejak tadi asistennya sudah diam.


"Gerah? Kamu tadi obat yang mana?"


"Yang putih, kata mas yang putih."


Firasat Kama mulai tidak baik, dia meminta Ayas untuk mengirimkan foto dari obat yang dimaksud. Tanpa memutuskan sambungan telepon, Kama dibuat menganga begitu menerima pesan terbaru dari Ayas.


"Yas? It-itu ... gawat, aku pulang!! Jangan keluar kamar!!" sentak Kama membuat Zidan bingung, pria itu juga segera beranjal dan tampak hendak berlalu pergi.


"Ada apa, Pak?"


"Istriku salah minum obat, aku harus pulang." Kama terlihat begitu panik, dan Zidan merasa dia tidak mungkin diam saja. "Obat? Apa nona dalam bahaya? Apa tidak sebaiknya aku ikut saja?"


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2