Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 48 - Berdua Saja


__ADS_3

"Sudahlah, kenapa kamu jadi penasaran tentang kakaknya? Aku hanya memintamu bertanya tentang Anya, bukan siluman labi-labi itu, Sayang, tolonglah."


"Siluman labi-labi? Ada ya?"


Tadinya, Kama memang meminta agar Ayas bertanya, tapi hanya seputar Anya saja, tidak tentang kakaknya, apalagi siluman labi-labi yang baru saja Kama sebut. Sialnya, ketika sudah memiliki keberanian untuk bertanya sampai hal tak berbobot juga Ayas tanyakan hingga Kama menghela napas panjang.


"Berbobot sekali pertanyaanmu, apa tidak ada yang lebih konyol dari itu, Laras?"


Merasa dirinya tidak salah jelas Ayas membela diri dan tak ingin terpojok sendir. "Mas sendiri tadi yang bilang, tanya selagi diizinkan agar tidak gelisah sendiri ... giliran aku banyak tanya salah juga, jadi aku harusnya gimana?"


"Hanya tentang Anya, bukan yang lain."


"Tapi kan itu satu kesatuan, wajar kan aku tanya ... salah sendiri kenapa tidak diceritain lengkap-lengkap, atau kalau memang malas ditanya harusnya tidak perlu disebut bagian Anya punya kakak posesif itu."


Pertama kali Kama saksikan, istrinya menjawab dan tidak mau kalah. Kama marah? Jelas tidak, dia justru menyukai istrinya yang mulai berani memperlihatkan jati diri sesungguhnya.


Tidak hanya sekadar diam dan penurut, Kama juga butuh Ayas yang banyak bicara sebenarnya. Bukan tanpa alasan kenapa dia bisa sesenang ini, tapi memang sebelum menikah dia kerap perhatikan, interaksi Ayas bersama Ida tidak sekaku padanya.


Istrinya ceria dan juga banyak bicara, hal itu yang sejak kemarin-kemarin Kama tunggu. Jelas saja ketika Ayas menunjukkan sikapnya, pria itu tergelak hingga sang istri kembali menunjukkan taringnya. "Ketawa bukannya mikir," gumam Ayas dan terdengar samar di telinga Kama.


"Kamu lucu, mubazir kalau tidak diketawain," timpal Kama santai sekali, padahal tidak ada yang lucu bagi istrinya.


Pergi dengan hati gamang, pulang dengan sedikit perdebatan kecil yang justru membuat kedekatan mereka kian intens. Ayas tidak sadar itu, tapi Kama sadar sekali jika mereka seolah kian dekat satu sama lain.


"Ehm, kita pulangnya nanti saja ya?"


"Mau kemana lagi memangnya? Mas jangan macam-macam ya," ancam Ayas melayangkan tatapan tajam ke arah sang suami, kejadian kemarin sudah cukup jadi pengalaman dan dia tidak mau terjebak lagi.


"Haha tidak, pikiranmu jelek sekali."

__ADS_1


Kama menangkap tatapan curiga di sana, agaknya sang istri memang trauma akibat kejadian kemarin. Padahal, dia hanya tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, karena itu Kama sengaja mengulur waktu, jika di rumah mereka tidak akan leluasa untuk berduaan, begitulah kira-kira.


Berbeda dengan kemarin, tujuan Kama bukan lagi tempat hiburan di Jakarta, tapi merambat ke luar kota. Tanpa terencana, Kama hanya mengikuti kata hati dan memang sejak dahulu terbiasa pergi dengan kendaraan pribadi.


Sekalian kencan, Kama hanya ingin lebih dekat bersama istrinya, itu saja. Beberapa jam perjalanan seolah tak masalah, anggap saja pacaran setelah menikah.


.


.


Sekian banyak tempat, pilihan hati Kama jatuh pada salah-satu danau yang merupakan objek wisata di provinsi Jawa Barat karena menurutnya tempat itu memang tiada obat. Sementara Ayas yang belum pernah pergi ke tempat itu jelas saya bahagia. "Kamu serius? Kita sudah pergi sejauh ini?" tanya Ayas bingung seraya mengucek matanya.


Sama sekali dia tidak sadar, karena memang satu jam terakhir dia tertidur lantaran lelah di perjalanan. Begitu terbangun dan Kama menuntunnya ke tempat ini, Ayas tidak mampu mengutarakan kebahagiaannya dengan kata-kata.


"Ih sumpah? Mas kenapa tidak bilang dari tadi!!"


Dia salah tingkah, awalnya sudah berburuk sangka karena yang ada dalam otak Ayas sang suami liciknya luar biasa. Bahkan, dia sempat menduga bahwa kali ini Kama akan membawanya ke hotel dan diminta melakukan hal yang tidak-tidak setelahnya.


"Suka?" Hanya itu pertanyaan Kama begitu menanggapi kesenangan istrinya, bahkan senyum Ayas lebih lepas dibandingkan ketika dia membelikan ponsel baru dan tas untuk Ayas kala itu.


"Ehm suka, kita agak lama di sini boleh kan?"


Kama mengulas senyum, pertanyaannya lucu sekali, padahal tanpa diminta juga memang tujuan Kama seperti itu. "Boleh."


"Aku kesana boleh?"


"Hm, lakukan semaumu asal jangan loncat ke danaunya," jawab Kama tertawa kecil.


Begitu mendapat izin, Ayas benar-benar melakukan semua sesukanya. Kama memang tidak menemaninya berlari kesana kemari, karena itu dia hanya memantau sang istri dari kejauhan. Melihatnya sore ini Kama mengerti jika istrinya memang masih sangat amat perlu dimanja dan mengerti.

__ADS_1


Dia merasa seakan tengah mengajak adik atau keponakan, seakan mengasuh tepatnya. Sudah lama dia tidak merasakan hal semacam ini, terakhir ketika menemani adiknya sebelum menikah, setelahnya tidak lagi.


.


.


Cukup lama Ayas menikmati waktunya sendiri, hingga kakinya terasa lemas dan memilih duduk di sisi Kama yang memang menunggunya sejak tadi. Perbedaan usia tidak dapat dibohongi, agaknya Kama mulai malas bergerak dan tidak seaktif Ayas ketika menikmati keindahan semesta di hadapannya.


"Capek?"


"Iya, aku tadi kesana, kesana ... terus kesana juga, dan rata-rata orang pacaran semua." Dia mengadu, dan Kama hanya mengullum senyum pasca mendengar celotehannya.


Tidakkah Ayas sadari, bahwa dia juga datang bersama pasangan, bukan sendiri. "Terus kenapa kalau mereka pacaran?" tanya Kama merangkul pundak sang istri.


"Ganggu pemandangan, mana tadi minta fotoin sama aku ... mereka tidak ada kasihannya," kesal Ayas makin menjadi, masih tak sadar jika di sisinya ada suami.


"Kenapa harus kasihan?"


"Iya gimana? Aku sendirian jalan kesana kemari sementara mereka berduaan."


Kama tergelak, memang benar adanya begitu, tapi sama sekali Kama tidak menduga istrinya akan kesal karena hal itu. "Aku suami kamu loh, bisa-bisanya tidak dianggap ... dipandang dari sudut pandang siapapun kamu yang menang."


"Iya sih, tapi percuma sama suami kalau dari tadi duduk doang, istrinya dibiarin jalan sendirian ... Eum, apa kamu mulai diserang rematik? Makanya jadi tidak kuat jalan, iya 'kan?"


"What? Ap-apa kamu bilang?!!"


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2