Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 75 - Awasi Dia


__ADS_3

"20 juta?"


Kama mengangguk, memang benar adanya dia memberikan uang sejumlah yang disebutkan Zidan untuk Marzuki beberapa saat lalu. Kama pikir, dengan sejumlah uang itu kerugian Marzuki pasca dirinya diterpa isu miring akan sedikit tertutupi.


Memang tidak akan sebegitu menutupi, mengingat penghasilan Marzuki belum setinggi bayangan orang-orang di luar sana, sementara sejauh yang Kama ketahui beberapa pihak menuntut ganti rugi dari skandal yang menimpanya hingga pria itu terjebak kesulitan.


Kama hanya berusaha berbuat baik, walau semua kehancuran juga adalah ulah dirinya sendiri. Hal itulah yang membuat Zidan mengerutkan dahi, dia merasa Kama kali ini berbeda dan seolah bukan dirinya.


"Untuk apa? Kasihan atau ...."


"Mungkin," jawab Kama menghela napas panjang. Jujur saja dia akui, dia juga bingung apa yang sebenarnya dirasakan kini.


Zidan menarik sudut bibir, sejak kapan bosnya memiliki hati nurani. Padahal, apa yang Marzuki alami tidak seberapa, pria itu belum mati langkah dan hanya Kama buat tak berharga di dunia hiburan saja.


Fisiknya masih baik-baik saja, tidak ada yang kurang dan Kama juga tidak membuatnya mendekam di balik jeruji besi. Anehnya, Kama seolah merasa bersalah setelah menghukum Marzuki dengan cara yang dapat dikatakan ringan menurut Zidan.


"Ah begitu." Hanya itu respon Zidan, tidak ada kata lain yang dia lontarkan karena memang pertanyaannya kali ini semata-mata untuk menjawab rasa penasaran.


Kama yang mendapati respon Marzuki seperti itu jelas saja sebal dibuatnya. Tatapan tajam kembali melayang ke arah Zidan sebelum dia melontarkan sebuah pertanyaan yang membuat asistennya gelagapan. "Jadi kau bertanya hanya karena penasaran?"

__ADS_1


"Tidak juga," sahut Zidan cepat, padahal memang iya begitu adanya. "Saya sedang berpikir ... ternyata Nona berperan besar dalam hidup Anda."


Ucapan Zidan tak salah, memang benar adanya apa yang kini terjadi tak lepas dari peran Laras sebagai istri Kama. Agaknya, kehadiran wanita itu membuat hati Kama sedikit manusiawi, begitulah pikirnya.


Kama akui itu, baru setelah menikahi Ayas dia sadar jika selama ini memang tidak pernah pakai hati. Sebelumnya Kama mana peduli tentang imbas dari yang dia lakukan, tapi setelah Ayas bicara hati Kama lebih terbuka dan memang benar langkah yang dia ambil tidaklah tepat.


"Lalu bagaimana?"


"Apanya yang bagaimana?" Entah pikiran Kama yang sedang tak fokus, atau memang pertanyaan Zidan yang tidak jelas hingga Kama bingung sendiri.


"Masalah ini, apa sudah selesai?"


Kama menggigit bibirnya, dia ingin menganggap selesai, tapi entah kenapa ada sesuatu yang mengganjal. "Anggap saja selesai, laki-laki itu akan menjalani hidup baru di kampung halaman ibunya ... aku tidak benar-benar mematikan langkahnya, 'kan?"


Kama mengangguk, untuk kali ini dia sependapat dengan Zidan. Sudah cukup memikirkan masalah Marzuki, hampir satu jam lamanya pria itu menguasai pikirkan Kama. Bahkan, janji temunya bersama salah-satu rekan bisnis hampir saja terlupakan, beruntung saja Kama memeriksa jam di layar ponselnya.


"Astaga, Zidan!! Kenapa kau tidak bilang? Sudah tahu rekan bisnis kita kali ini emosian!!" Disertai dengan gebrakan meja yang membuat Zidan terperanjat, Kama berteriak lantaran panik.


Zidan yang sudah beberapa kali mengingatnya bosnya sejak tadi hanya menghela napas panjang. Entah dimana letak salahnya, padahal seingat Zidan ketika dia bicara Kama iya-iya saja.

__ADS_1


Tanpa menunggu penjelasan dari asistennya, Kama beranjak dari kursi dan bersiap untuk menghampiri salah-satu pebisnis paling berpengaruh di negeri ini. Hanya karena Marzuki dia hampir melupakan tokoh penting ini, diiringi Zidan di belakanng, mereka masih terlihat begitu gagah walau dalam keadaan panik sebenarnya.


Namun, ketika tiba di lobby, Kama berhenti mendadak hingga Zidan menabrak punggungnya secara tak sengaja. Musnah sudah wibawa Zidan sebagai asisten penuh pesona akibat kejadian konyol ini.


Kama tidak marah, dia berbalik hingga Zidan mundur selangkah. "Kirim orang untuk mengawasi laki-laki itu."


Masih tentang Marzuki ternyata, Kama memang belum tenang dan merasa ada yang tidak beres, tapi entah apa. "Baik, Pak, segera saya laksanakan."


Detik itu Kama memberikan perintah, detik itu juga Zidan bertindak. "Nanti saja, sekarang pikirkan caranya 5 menit kita sudah bertemu Zean!!"


"5 menit? Saya hitung dul_"


"Ck, lama!!"


Kama kembali melangkah cepat, masuk mobil dan mengambil alih tugas Zidan. "Pak, tidak salah?"


"Diamlah, jika mengandalkanmu kita sampainya tahun depan," ucap Kama sebelum melaju dan Zidan sontak berpegangan lantaran tahu pria di sisinya ini memang kerap membuatnya merasa segera menghadap ilahi.


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2