
Ayas menatap dalam manik indah Kama, sama sekali tak dia duga jika Kama akan melontarkan pertanyaan semacam itu. Setelah sempat sibuk sendiri beberapa saat lalu, Ayas justru dibuat terkejut dengan sikap sang suami di akhir malam ini.
"Apa benar-benar perlu aku jawab, Mas?"
Dia memang terkadang naif, tapi bukan berarti dia bodoh untuk mengerti apa yang dia rasakan. Bicara tentang cinta, Ayas tidak sepolos itu dan sedikit banyak dia paham apa maunya dan hendak harus bagaimana.
Sejak Kama menikahinya, Ayas telah menjatuhkan pilihan pada Kama bahkan melepas cincin tunangan bersama Marzuki tanpa diminta. Awalnya mungkin tanpa perasaan, jujur saja Ayas terpaksa, tapi lama kelamaan dia merasakan kenyamanan yang berbeda dan tak pernah Ayas rasakan sebelumnya.
Sulit untuk Ayas utarakan, tapi dia juga bingung hendak mengungkapkannya bagaimana, di sisi lain wanita itu justru dipertemukan dengan pria yang benar-benar butuh akan validasi terkait perasaan pasangannya.
"Perlu, aku ingin mendengar jawabanmu," ucapnya seraya terus menatap Ayas penuh harap, andai jawabannya masih sama seperti dulu, jujur saja dia tidak siap.
"Eeum_"
"Kalau jawabannya masih sama seperti waktu itu, lebih baik jangan."
Dia hanya menerima jawaban iya malam ini, jika hanya meminta waktu atau semacamnya, sungguh Kama tak mau. Ayas tersenyum tipis lantaran Kama sampai memejamkan mata kala menunggu pengakuannya.
"Aku sudah menyerahkan diriku sepenuhnya, bagaimana mungkin tidak cinta."
Mata Kama sontak terbuka lebar-lebar, jawaban Ayas berhasil membuat pandangannya seakan terang benderang. "Jadi?"
"Ada," jawab Ayas singkat, entah kenapa sejak dulu memang dia sangat sulit untuk mengutarakan perasaan.
__ADS_1
Sialnya, hal itu justru terlihat menggemaskan bagi Kama hingga pria itu memanfaatkan kesempatan untuk mengejeknya. "Ada? Apanya yang ada?"
"Ya cintanya ...." Ayas menjawab kecil sekali, hampir berbisik seraya berusaha menghindari tatapan Kama.
"Apa? Telingaku tidak bisa mendengar suaramu, bilang yang jelas coba."
"Ih, kenapa jadi budeg sih? Ada, Mas ada."
"Ya apanya yang ada, ngomong jelas-jelas ... kalau tidak, sampai subuh kita begini terus mau?"
Ayas menghela napas panjang, dia yakin Kama paham, tapi memang sengaja mempermainkannya. Terbukti dengan Kama yang sejak tadi tertawa kecil tanpa henti. "Cintanya ... aku tidak bisa mengatakan seberapa dalamnya, tapi yang kutahu mencintai suami adalah kewajiban," jawab Ayas ambil aman.
Dia tahu setelah dia menjawab Kama akan kembali bertanya seberapa besar dan dalamnya, pasti. Walau memang tidak sekarang, tapi besar kemungkinan nantinya akan Kama tanya lagi.
"Kewajiban?"
"Jadi hanya sebatas kewajiban? Bukan semata-mata tumbuh karena memang cinta, Yas?"
Jawaban Ayas sudah sangat bijak sebenarnya, tapi hal itu justru membuat Kama salah kaprah dalam mengartikan kalimatnya. Raut wajahnya seketika berubah, padahal tadi sudah berbinar, tapi begitu mendengar kata kewajiban, senyumnya pudar seketika.
"Bukan begitu ... salah-satu alasannya memang itu. Lambat laun aku memang harus mencintai kamu, tapi aku tidak menduga akan secepat ini berpaling dari mas Juki."
Satu detik lalu cemberut, beberapa detik kemudian senyumnya mengembang dan kembali bergeser hingga keduanya benar-benar tak berjarak. Ayas bingung, sudah sedekat itu ternyata masih kurang dekat juga, bahkan, mereka sudah sebantal saat ini.
__ADS_1
"Kamu tidak menyesal gagal menikah dengannya akibat menikah denganku?"
Bagaimana mungkin Ayas bisa menyesal, pertanyaan Kama terlalu konyol, bahkan jika bisa dia tidak ingin mengenal Marzuki sepanjang hidupnya, tidak sama sekali.
Justru, yang seharusnya bertanya adalah Ayas, apa mungkin Kama tidak menyesal menikahi wanita sepertinya? Padahal, Kama mampu mendapatkan wanita yang lebih baik, cantik dan terpandang dibanding dirinya.
Jika hanya sebatas obat untuk kesembuhan penyakitnya, agaknya tidak bisa dijadikan alasan, pikir Ayas. Sungguh Ayas penasaran, walau tahu Kama mungkin tak suka dia bertanya demikian, Ayas tetap melontarkan pertanyaan semacam itu.
"Kenapa pertanyaanmu begitu? Bukankah kamu sudah dengar penjelasanku waktu itu?"
"Siapa tahu ... coba bayangkan, andai mas berhasil sembuh dan tidak menikah denganku, kemungkinan mas bisa cari wanita yang lebih baik ... iya, 'kan?"
Belum ada jawaban, Ayas yang terus saja menduga-duga mendadak serius akan hal ini. "Iya, 'kan, Ma_ astaga, kapan tidurnya?"
Entah kapan, yang jelas ketika Ayas menoleh mata Kama sudah tertutup rapat. Deru napasnya terdengar teratur, mendadakan jika dia memang sudah benar-benar tidur.
Tanpa sadar, senyum Ayas mengembang setelah cukup lama memandangi wajah tampan bak pahatan yang nyaris sempurna itu. Ayas kagum, jujur dia akui ketampanan Kama memang membuatnya mabuk kepayang. Perlahan, dia yang tadinya hanya memandang kini berani menelusuri wajah tampan Kama dengan jemari lentiknya.
"Ganteng banget ya, Tuhan ... dia kesambet apa ya sampai milih aku jadi jadohnya."
"Tuhan yang pilih, Yas, mas hanya menjalani takdir," jawab Kama tetap dengan mata terlelap hingga Ayas bergegas menarik selimut hingga menutupi wajahnya, demi Tuhan rasanya malu sekali. "Jadi dari tadi dia belum tidur? Kok bisa ada ngorok-ngoroknya dikit kalau belum?"
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -