
Pantang bersatu, sekalipun sudah punya dunia masing-masing, keduanya tetap tidak berubah. Hal itu sudah begitu dimaklumi, bahkan Gian dan Zura juga santai saja. Selagi tidak mengganggu ternak warga, mereka tidak akan bersuara, begitulah prinsip hidup keluarga Dirgantara.
"Sudah biarkan saja, Lila ... kalau mau nunggu Laras dewasa Kama nanti mau setua apa?"
"Benar kata mama, lagi pula jika bukan Laras mau siapa lagi? Kamu lupa jika kakakmu tidak seperti pria normal lainnya?" tambah Papa Gian yang membuat Kama mengurungkan niatnya untuk sarapan.
Mendadak naffsu makannya hilang, sandwich yang begitu menggiurkan sama sekali tidak menarik di mata Kama kali ini. Entah siapa yang memulai, agaknya rahasia yang ditutup rapat-rapat selama ini sudah tersebar tanpa dia ketahui.
"Ah iya, aku lupa ... Eum tapi Laras terima apapun keadaannya, 'kan?" Pertanyaannya terbalik, sudah pasti Ayas mengiyakan pertanyaan Kalila walau terdengar aneh baginya. "Syukurlah, terima kasih banyak sudah menerima Kama apa adanya."
Ayas terkejut karena keluarga Kama justru berterima kasih dan seolah lupa dengan kejadian semalam. Dia yang tadinya tampak gugup perlahan bisa sedikit lebih tenang karena memang tidak semengerikan yang dia duga.
Bukan hanya Kalila yang berterima kasih, tapi mertuanya juga demikian. Terlebih lagi Mama Zura yang sampai mengusap pundaknya begitu lembut hingga Ayas merasa kehadirannya begitu dihargai. "Benar, kamu tahu Laras? Mama hampir putus asa ... tapi ternyata takdir berkata lain," tutur Mama Zura yang kemudian dibenarkan suaminya.
Tidak dapat dipungkiri, Gian yang sempat mati langkah karena memikirkan perihal jodoh Kama jelas saja menghela napas lega. Walau terkesan tak peduli dan sedikit tak percaya akan ucapan Mbah Joko, diam-diam Papa Gian juga mencari sosok wanita yang mungkin bisa menyembuhkan penyakit Kama.
Namun, dia juga bingung harus bagaimana karena beberapa di antara mereka memilih menyerah ketika Gian minta untuk mendekati Kama. Hampir semua mengadu jika ditolak mentah-mentah, sisanya ditolak dengan sedikit hinaan yang Kama lontarkan lantaran dia anggap murahan.
Kabar baik dari Haidar beberapa waktu lalu benar-benar sebuah anugerah bagi Gian dan sang istri. Walau belum pasti statusnya, tapi tanda-tanda jika Kama sudah mendapatkan tambatan hatinya sangat membuat mereka lega.
Jelas saja begitu mendengarkan penjelasan Kama tadi malam keduanya sebahagia itu. Terlebih lagi, jika dilihat dari penampilannya, Ayas adalah anak baik-baik. Mama Zura bahkan tidak berhenti memandanginya lantaran tadi malam memang tidak terlalu jelas.
__ADS_1
"Cantik ya, Pa ... Mama jadi berasa punya anak gadis lagi," puji sang mertua terdengar tulus, Ayas yang mendapat perlakuan semacam itu seketika memerah dibuatnya.
"Cantiklah, siapa dulu yang cari dukunnya."
Beberapa saat lalu sudah adu mulut, tapi anehnya Kalila masih memiliki keberanian untuk melontarkan sebuah kalimat yang menuai keributan. Padahal, Yudha yang merupakan peran utama dibalik kesembuhan Kama sejak tadi diam saja, tapi karena ucapan Kalila, pria itu kembali kena getahnya.
Kama tidak ingin marah, dia hanya menghela napas kasar kala menatap wajah Yudha. Sebenarnya bisa saja dia permasalahkan mulut bocor adik iparnya, tapi berhubung di hadapan Ayas, Kama berusaha untuk tidak begitu galak lantaran khawatir istrinya justru trauma nanti.
"Ah iya juga, Yudha ya yang cari?"
"Iya, Ma ... kalau tidak salah pakde temennya gitu deh."
"Ehm, tapi Mbah Joko cuma kasih masukan, tentang Kama yang bertemu Laras aku rasa bukan kekuasaan dukun lagi, Sayang."
Entah sedang mencari muka atau memang begitu isi hati Yudha, tapi ucapan pria itu berhasil membuat Kama merasa sedikit elegan. Jujur saja, jika dibahas tentang dukun terus menerus, Kama stres sebenarnya.
"Ah benar, juga ... bisa diceritakan bagaimana kalian ketemu? Semalam Kama sudah cerita, sekarang dari Laras mungkin?"
Sejak tadi Ayas hanya jadi pendengar, tapi kali ini dia dimintai keterangan, kebetulan memang sudah selesai makan hingga tidak ada alasan untuk memilih bungkam.
Pertanyaan semacam itu tidaklah sulit, Ayas tidak merasa keberatan sekalipun harus menjelaskan apa yang terjadi. Dia mulai bercerita sesuai versinya dan agak lebih lengkap dibanding Kama. Tanpa dia tutupi sama sekali, Ayas bahkan menceritakan kronologi dia terbang ke Jakarta untuk pertama kali hingga firasat Kama mulai tidak enak.
__ADS_1
"Tunggu, jadi kamu ke Jakarta untuk kerja awalnya?"
"Iya, kerja."
Bagian itu memang tidak Kama utarakan, dia hanya mengatakan jika sengaja mengejar gadis yang dia kenal di kampung dan berakhir dinikahkan, itu saja. Sungguh, dia benar-benar lupa menyusun skenario agar Ayas mampu menghadapi keluarganya.
Kalila menatap Ayas bingung, jika dibilang hendak jadi pembantu, rasanya tidak mungkin karena sudah ada Ida dan juga beberapa orang lainnya di rumah sang mama. "Kerjanya apa kalau boleh tahu?"
"Pengasuh."
"Hah? Pengasuh siapa? Apa kamu cari pengasuh untuk anak kita, Sayang?" Kalila salah paham, begitu juga dengan Mama Zura yang pagi ini justru dibuat bingung dengan pengakuan menantunya.
"Bukan pengasuh tuan kecil, tapi pengasuhnya mas Kama," jawab Ayas tanpa ragu sedikitpun hingga Kama menutup wajahnya dengan telapak tangan.
Rasanya percuma semalam disembunyikan lantaran khawatir Ayas jujur, tapi pada akhirnya dia jujur juga. "Pengasuh Kama? Kamu disuruh apa saja sama dia?" tanya Kalila semakin menjadi hingga Kama kian gusar dan khawatir istrinya tetap jujur kali ini. "Tolong jangan jujur, Yas, sampai kamu jujur bisa habis nyawaku di tangan mama."
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1