Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 23 - Kami


__ADS_3

lagi dan lagi, Ayas terjebak oleh pertanyaannya sendiri. Berharap Kama akan menunda, tapi justru dipercepat hingga keesokan harinya. Bukan sekadar bicara, tapi ajakan Kama memang sungguhan.


Sejak malam hari Ayas sudah bersiap, karena tujuannya kali ini bukan lagi hanya untuk kerja, maka tentu barang yang dia bawa akan lebih banyak. Bahkan, Dania sampai harus merelakan koper miliknya agar barang Ayas bisa dibawa semua.


Seolah tidak lagi bercita-cita untuk kembali, Ayas mengatakan jika dia akan ikut suami. Disaksikan tetangga kiri kanan yang tampak penasaran, Ayas berlalu meninggalkan tanah kelahirannya.


Tanah yang kini sudah tidak lagi ramah memandangnya, tidak ada kedamaian dan semua orang tetap memandangnya sebagai noda. Tak sedikit dari mereka yang justru bersyukur Ayas pergi lebih cepat tanpa diminta, sungguh tidak berhati sekali tetangganya.


Keputusan Ayas tidak bisa Dania cegah, bagaimanapun juga memang keputusan itu sudah paling baik. Selain itu, Kama juga meminta izin kakak iparnya baik-baik, dengan niat ingin membangun rumah tangga dan membawa Ayas ke Jakarta.


Dua Milyar yang dulu Kama berikan sebagai hadiah untuk ibunya, segera diserahkan pada Dania. Setidaknya, jika ekonomi mereka sudah membaik, maka akan sedikit membungkam mulut siapapun yang telah mencelanya.


Kerelaan Ayas untuk ikut pulang ke Jakarta jelas menjadi hadiah terbaik yang Kama terima. Niat hati menyusul lantaran tahu Ayas berduka, pulangnya justru dengan status yang sudah berbeda.


Sedikit pun Kama tak mengira, jika jalannya mendapatkan Ayas akan semudah ini. Tidak perlu susah-susah mengejar atau menunggu Ayas sadar, wanita itu sudah resmi menjadi miliknya.


Sepanjang perjalanan istrinya lebih banyak tidur, mungkin lelah lantaran semalam berkemas dan membersihkan kamar ibunya cukup lama. Tak henti-hentinya Kama memandangi Ayas yang terlelap di sisinya, tidak ada keinginan lain selain segera mengenalkan Ayas di hadapan kedua orang tuanya.


Entah bagaimana reaksi mereka, sampai detik ini Kama juga belum bicara apa-apa. Bukan karena sengaja merahasiakan istrinya, tapi memang saat ini kedua orang tuanya sedang menghabiskan waktu bersama kedua cucunya di Jepang.


Kama tidak ingin keduanya justru panik, andai Kama memberitahu tentang apa yang terjadi, baik papa maupun mamanya bisa dipastikan akan pulang saat itu juga. Tak apa sedikit ditunda, lagi pula jika semua sudah terjadi maka tidak akan ada larangan lagi.


Begitu sabar Kama menanti, dia tidak membangunkan Ayas selama perjalanan belum usai. Hingga, ketika tiba di Jakarta barulah pria itu membangunkan istrinya.


"Bangun dulu, nanti di rumah tidur lagi," tutur Kama begitu lembut, mata Ayas yang begitu merah membuatnya seakan tak tega.


Ngantuknya Ayas memang tidak terkira, bahkan setelah keluar dari Bandara dia masih terus menguap sebegitu lebarnya. Lupa di sisinya ada siapa, Ayas sengaja membuka matanya lebar-lebar dengan harapan rasa kantuk itu akan pergi segera.


Namun, bukannya berkurang, semakin dia menguap semakin besar rasa kantuk itu semakin menjadi hingga Kama yang menatapnya sejak tadi hanya menarik senyum tipis. "Kalau nguap itu ditutup, lihat anak itu sampai nangis."


Ayas terkejut, telapak tangan Kama yang kini menutup mulutnya perlahan Ayas singkirkan. Sungguh dia tidak sadar jika penampilannya sampai dipandang menakutkan oleh beberapa orang di sana.

__ADS_1


Tak lama berselang, jemputan yang dimaksud kini datang. Pandangan pertama asisten Kama terlihat berbeda pada Ayas, sontak hal itu membuat Ayas melepaskan tangan yang sejak tadi Kama genggam.


Bisa dipastikan dia menatap lama ke arah Ayas karena tengah menyimpulkan sesuatu. Sialnya, Ayas yang tak siap dengan segala keadaan memilih jaga jarak hingga Kama menatapnya tak suka.


"Kamu kenapa?"


"Aku baik-baik saja, cuma keringetan, Pak."


Dia mencoba bersandiwara, dan panggilan itu sukses membuat Kama menatap tajam ke arahnya. Kesal lantaran Ayas berusaha menyembunyikan statusnya secara sengaja, Kama menarik pinggang wanita itu agar lebih dekat hingga Zidan - asisten pribadinya seketika menganga.


"Ayo Sayang, kamu ngantuk, 'kan?"


Niat hati berbohong agar hubungan mereka tidak tercium, Kama justru mengumbarnya hingga Zidan terdiam seketika. Pria itu menundukkan pandangan dan segera memasukan koper Ayas, entah kejutan apa yang akan bosnya berikan, tapi yang jelas saat ini Zidan menarik kesimpulan bosnya sangat-sangat normal.


Tak hanya berhenti di Bandara, sepanjang perjalanan Kama juga menunjukkan bahwa dirinya dan Ayas memang memiliki hubungan spesial. Zidan yang tengah fokus mengemudi di depan mencoba mencuri pandang dari pantulan kaca kecil di atasnya.


"Papa gimana? Belum pulang?"


Kama menghela napas panjang, jika kemarin-kemarin dia bersyukur mamanya tak pulang, kali ini tidak. Keadaan sudah berbeda, Ayas bukan lagi sesuatu yang harus dia rahasiakan, dan tujuan utama dia pulang cepat ialah untuk mempertemukan sang istri pada keluarganya.


.


.


Hari ini Ayas masih selamat, gugupnya tertunda. Namun, begitu masuk tetap saja suasananya berbeda. Ayas melangkah lebih dulu sementara Kama harus mendorong kopernya, sedikit tak enak hati jujur saja.


"Ayas!!"


Suara melengking dari arah dapur seketika mengejutkan Ayas, sudah pasti Ida yang datang dan sontak memberikan pelukan hangat untuknya. Sebagaimana yang Ida ketahui, Ayas pulang karena sang ibu mengalami tragedi yang berakhir merenggut nyawanya.


Sebagai seseorang yang pernah merasakan hal sama, Ida mengerti sedalam apa luka Ayas. Dia memberikan pelukan, perhatian dan seketika lupa tentang sang majikan.

__ADS_1


"Kamu mau Mbak bikinin apa? Mbak baru belajar bikin bolu gulung, pasti kamu suka."


Ayas mengulas senyum, perhatian Ida sejenak membuat matanya membasah. Sayang, saat ini Ayas tidak ingin apa-apa, dia hanya lelah dan butuh istirahat saja. "Aku capek, Mbak, mau tidur sebentar."


"Ya sudah, ayo tidur ... kebetulan Mbak udah ganti kasur yang lebih besar biar kita leluasa tidurnya."


Bukan hanya Ida yang lupa soal Kama, tapi Ayas juga lupa hingga dia iya-iya saja dan ikut Ida menuju kamar belakang. Baru saja hendak membuka pintu, suara menggelegar Kama terdengar hingga cerita Ida terpotong karena ulahnya.


"Astaga, aku lupa ... haduh, kamu nggak ingetin kalau majikan smos itu sama kamu, Yas."


"Ya gimana? Aku juga lupa, Mbak."


Keduanya berbisik, Kama semakin dekat dengan satu koper si tangannya, sementara Zidan sudah lebih dulu ke lantai dua membawa koper yang lain. Sama seperti hari sebelumnya, Ayas dan Ida seolah tidak jera menjadi sasaran kemarahan Kama.


"Kenapa ke sini?"


"Mau tidur," jawab Ayas pelan, dia tahu salah, tapi jujur saja memang lupa.


"Kamarmu di atas, cepat naik."


"Woah jadi kamar kami pindah, Tuan? Asyik!!" Ayas yang dimaksud, tapi Ida yang justru bersemangat bahkan bertepuk tangan usai mendengar ucapan Kama.


"Kami berdua ... kamu tetap di sini," ucap Kama seketika menghentikan gerakan Ida, wanita itu terdiam dan kini menatap majikan dan teman sekamarnya bergantian. "Ka-kami? Maksudnya gimana? Tuan jangan bercanda ya, saya tidak akan tinggal diam ... siap-siap kelakuan Anda saya laporkan pada Nyonya!!"


"Laporkan saja, tidak takut," pungkas Kama menjulurkan lidah dan menarik tangan Ayas sebelum kemudian berlalu pergi bersama sang istri. "Gawat, anak kecil itu sudah berani membawa gadis ke kamarnya?"


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2