
"Mas Kama!!"
"Hah?"
Kama mengerjap pelan, entah sudah berapa lama dia melamun sampai-sampai tidak sadar kapan Ayas mendekat ke arahnya. "Ayo masuk." Ayas tidak mengerti apa yang Kama pikirkan hingga persis manusia kehilangan arah.
Pria itu menghela napas panjang, kepalanya yang tadi sempat sakit kini semakin sakit sekali. Genggaman tangan Ayas bahkan tak sanggup dia balas, Kama terpaku dan berusaha untuk bersikap tenang walau jantungnya tengah berdegub tak karu-karuan.
Tanpa suara, Kama masih mengikuti Ayas memasuki rumah sederhana berdindingkan kayu yang mulai rapuh itu. Semakin lama, langkah Kama kian terasa berat, bahkan sangat amat berat. Wajahnya pucat, Ayas menduga hal itu adalah pengaruh mabuk perjalanan hingga Ayas memintanya untuk beristirahat lebih dulu.
"Kamarnya memang agak kecil, tapi kita masih muat," ungkap Ayas seraya menghidupkan lampu kamar mengingat sang suami memang tidak bisa tidur dalam keadaan gelap.
Tidak ada jawaban yang lolos dari bibir Kama, pria itu masih terus membeku menatap sekeliling kamar hingga membuat Ayas salah paham. "Kamarnya sudah dibersihin sama pakde, Mas, seprainya juga baru kok, nggak akan gatel badannya ... tidurlah."
"Hah? I-iya, Yas, menghadap kemana tidurnya?" Kama terlalu gugup sampai salah dalam bertanya, khawatir istrinya tersinggung pria itu justru melontarkan pertanyaan konyol yang seharusnya tidak perlu dipertanyakan.
Beruntungnya hal itu justru Ayas maklumi, dia tidak menaruh kecurigaan dan tetap mengira jika Kama yang begitu karena memang tak baik-baik saja. "Ya terserah, menghadap ke dinding atau mau menghadap aku juga boleh," ucap wanita itu seraya mengedipkan mata dan membantu Kama melepas jaketnya.
Ayas sudah berani menggoda, jika sedang tidak dalam keadaan ini mungkin Kama akan balik menggodanya, tapi sayang suasana hati Kama tidak mendukung untuk melakukan hal yang sama. "Bisa aja, mulai berani sekarang ya," ucap Kama lesu kemudian menghempaskan tubuhnya di atas ranjang tua yang decitannya cukup membuat telinga Kama ngilu.
Mata keduanya membulat sempurna, sesaat saling memandang sebelum kemudian Ayas tergelak. "Pelan-pelan, Mas, ini ranjangnya sudah tua."
__ADS_1
"Apa tidak bahaya? Kita tidur di bawah saja bagaimana?"
"Jangan, tidur di bawah dingin, Mas. Sudah sana, katanya sakit kepala, aku bikinin teh hangat bentar ya."
Mereka baru tiba dan sama-sama lelah, tapi Ayas begitu tulus melayaninya hingga membut Kama merasa begitu bersalah, sungguh. "Tidak perlu, kamu tidur saja ... lagi pula mau bikin teh gimana? Bukannya rumah ini kosong sejak lama?"
"Minta air hangat di tetangga sebelah, orangnya baik kok."
Kama menggeleng sebagai larangan yang bersifat mutlak, dia hanya ingin Ayas berada di sisinya. Bukan hanya karena sakit kepala yang masih menyiksa, tapi memang tidak ingin ditinggal sendirian saja.
"Kita tidur saja, aku capek sumpah."
Tidak perlu bersumpah, dari sorot matanya saja sudah menjelaskan jika Kama memang lelah. Tak ingin Kama sampai meminta untuk kedua kalinya, Ayas mengangguk segera.
"Sayang mau kemana?"
"Kamar mandi, Mas ... mukaku minyak semua begini mana bisa tidur nyenyak."
Begitu mendengar ucapan Ayas, pria itu sontak beranjak berdiri, dia nekat ikut padahal pandangannya kembali berkunang-kunang ketika melangkah. "Jangan dipaksain, mas di kamar saja nanti aku ambilin air kalau mau cuci muka."
Selembut itu hati Ayas, bagaimana bisa Kama baik-baik saja begitu sadar jika dia adalah penyebab luka terdalam dalam lubuk hati Ayas. Rumah ini menjadi saksi apa yang dia lakukan bersama teman-temannya beberapa tahun lalu.
__ADS_1
Saat dimana Kama putus asa akan penyakitnya. Atas saran dari Rizal, mereka memilih air terjun di tepi desa yang kini Kama pijaki setelah bertahun-tahun dia coba lupakan.
"Iya, Mas? Gitu aja mau ya?"
"Tidak, mas masih mampu jalan, Sayang, jangan repot-repot." Pikiran Kama sejak tadi sudah tak lagi di tempatnya, dia tak fokus bahkan setiap kali Ayas bicara Kama selalu berakhir melamun hingga sang istri harus mengulang ucapannya.
"Yakin mampu?"
Kama mengangguk "Hm, yakin."
Dia berbohong, jujur saja dia sama sekali tidak yakin. Bulu kuduk Kama meremang kala melewati ruang keluarga menuju kamar mandi. Sudah bertahun-tahun, tapi tempat itu tidak berubah dan Kama hapal betul walau kala itu dia dalam pengaruh alkohol.
"Zal ... hampir mati, gimana dong?"
"Serahin sama gue, lo pegangin Kama."
Suara kedua temannya itu terdengar amat nyata di telinga nyata di telinga Kama. Belum terlalu jauh dia mengingat, Kama tumbang dan dunianya mendadak gelap, tanpa Ayas, yang ada di depan matanya hanya hitam "Mimpi kali ini buruk sekali, kumohon bangunkan aku segera ya, Tuhan."
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -
Hai, kemarin lupa bilang yang punya vote lempar Kama yuk💃 Pada hangus kan ya.