
"Mas?"
Begitu terbangun, Kama sudah kembali terbaring di tempat tidur. Tidak hanya ditemani sang istri, tapi di sana juga ada seorang wanita paruh baya yang Kama duga sebagai tetangga sebelah. Pria itu tak segera menjawab panggilan Ayas, melainkan menatap dirinya yang kini tampak berbeda.
Entah berapa lama Kama tak sadarkan diri, tapi pakaiannya kini telah berganti. Tak hanya itu, Kama juga merasakan panas di area sekitar hidung dan atas bibirnya lantaran sang istri mencoba mengoleskan minyak kayu putih di sana.
"Maaf, Mas, habisnya kamu nggak bangun-bangun dari tadi."
Tanpa menjawab, Kama hanya mengangguk pelan dan diam tanpa kata. Sikap suaminya yang terlihat begitu berbeda jelas Ayas rasakan, bahkan wanita itu sampai bingung kenapa Kama bersikap demikian.
Hanya saja, saat ini masih ada Bukde Ratih dan tak mungkin Ayas bertanya secara langsung. Lagi pula, dia belum sempat mengenalkan Kama pada tetangga sebelah rumahnya, sebatas basa-basi biasa dan Kama juga merespon dengan baik layaknya bicara pada orang yang lebih tua.
Tak berselang lama, wanita itu pamit pulang dan Ayas berniat untuk mengantarnya pulang karena memang tadinya dia yang meminta untuk datang. Namun, baru saja hendak beranjak Kama meraih pergelangan tangan Ayas sebagai larangan lantaran tak ingin ditinggal sang istri.
"Mas, sebentar saj_"
"No, kamu jangan pergi juga."
"Deket, Mas, rumahnya di sebelah ... boleh ya?"
"Nggak, biar Bobby atau yang lain saja ... kamu tetap di sini."
Ayas hanya menghela napas panjang, setelah cukup lama diam, sekalinya sadarkan diri sang suami kembali menyebalkan. Beruntungnya Bukde Ratih agaknya paham, tampang anak mama dalam diri Kama begitu kentara hingga dia hanya tersenyum menyaksikan kehangatan pasangan itu. "Bukde pulang sendiri saja, Laras ... kamu sama suami kamu saja."
"Tapi_"
"Sudah, jangan khawatir, lagian dekat ini."
Ayas merasa tak enak hati, dia masih menyempatkan diri untuk mengantar Bukde Ratih sampai ke ambang pintu. Setelah itu, dia kembali pada Kama yang kini terus menatap ke arahnya. Padahal, Ayas amat yakin sang suami hanya mabuk perjalanan, tapi yang kini dia lihat Kama seolah tengah terpedaya tipu daya iblis hingga kehilangan kesadaran.
Perlahan, Ayas mendekat dan turut naik ke atas tempat tidur. Tatapannya juga tak beralih dari Kama yang terlihat sangat aneh malam ini. Walau sudah berkali-kali Ayas lakukan, wanita itu kembali memastikan suhu tubuh Kama.
"Tidak panas ... kepalanya masih sakit?" tanya Ayas lembut, sebagaimana caranya memperlakukan orang sakit.
__ADS_1
"Masih, tapi tidak parah," jawab Kama dengan suara lesunya, nyaris tak bertenaga.
"Mau makan?"
Kama menggeleng, dia memang lapar di tengah perjalanan, tapi kali ini rasa lapar itu benar-benar hilang dan dia tidak memiliki keinginan lain, selain memeluk istrinya dengan tenang.
"Eum minum?"
"Tidak juga."
"Terus Mas maunya apa?"
"Mau kamu," jawabnya tersenyum tipis, nyaris tak terlihat karena memang dia tidak sedang bercanda.
Sebaliknya, Ayas yang terbiasa dengan sikap sang suami sejak menikah justru mengartikan lain. Wanita itu sontak mencubit perut Kama lantaran menduga Kama masih bercanda saat seperti ini hingga sebal rasanya.
"Kenapa dicubit?"
"Becanda mulu, mas kapan seriusnya sih," kesal Ayas seraya mencebikkan bibir, sementara Kama hanya menatap manik indah Ayas begitu lekat, seolah tak pernah bertemu setelah sekian lama.
Beberapa detik terdiam, Ayas tampak berpikir sebelum bertindak "Mau aku?"
Kama mengangguk, Ayas yang begitu cepat tanggap sontak berniat membuka bajunya hingga Kama tertawa kecil dibuatnya. "Kamu mau ngapain?" tanya Kama menatap gemas wajah lucu sang istri, sementara Ayas yang merasa bingung dimana letak salahnya jelas mengerutkan dahi.
"Katanya mau aku, kok mas ketawa?"
"Bukan mau itu, peluk saja."
Sedikit memalukan, tapi Ayas berusaha bersikap biasa saja dan memeluk erat tubuh sang suami. Jika hanya berpelukan saja jelas kecil bagi Ayas, dengan senang hati dia melakukannya.
Berbeda dari biasanya, Kama memang hanya memeluk tanpa melakukan apa-apa. Tidak ada tangan Kama yang jahil atau lainnya, sungguh hanya pelukan hingga Ayas merasa dia memang perlu bertanya.
"Mas."
__ADS_1
"Iya, kenapa?"
"Kamu kenapa? Tidak betah di sini ya?"
"Betah, aku suka di sini ... udaranya sejuk, sunyi, tenang dan ju_" Suara Kama terhenti kala mendengar gonggongan anjing dari jarak yang tak begitu jauh. "Berisik ternyata," lanjut Kama lagi hingga Ayas tertawa pelan dibuatnya.
"Paling cuma bentar, nanti juga tenang lagi."
"Benarkah?"
"He'em, biasanya ada sesuatu yang mencurigakan, Mas."
"Tapi rame banget, Yas? Seperti mau berburu."
"Orang-orang di sini banyak pelihara anjink sebagai bentuk antisipasi dari bahaya, Mas," jelas Ayas mulai menguap, di saat Kama terjaga dia yang justru mengantuk luar biasa.
"Oh maling gitu ya?"
"Iya, setelah kematian ayahku orang-orang di desa ini jadi lebih waspada ... dan pelihara anjing sangat berguna," seloroh Ayas seraya melukis di dada Kama dengan jemarinya.
Perasaan Kama kembali tak baik, dia tak lagi menanggapi Ayas, terlebih lagi saat sang istri menghentikan gerakannya seraya menghela napas panjang. "Sayangnya dulu ayahku tidak kepikiran, coba kalau pelihara empat atau lima ekor, pasti pembunuh ayahku sudah dicabik-cabik, iya, 'kan, Mas?" tanya Ayas mendongak dan Kama sontak terpaku mendengar ucapan sang istri.
"Hm, harusnya begitu," sahut Kama menatap nanar tanpa arah. "Eum, Mas boleh tanya sesuatu?"
"Boleh, tanya apa?"
"Andai suatu saat kamu dipertemukan dengan orang yang membunuh ayahmu, apa yang kamu katakan?" tanya Kama nekat, dia menggigit bibir dan benar-benar menunggu jawaban Ayas.
Begitu mendapat pertanyaan Kama, Ayas menatap tajam sang suami "Pertanggung jawabkan perbuatanmu, Tuan. Jangan hanya karena kaya, lalu semudah itu menghilang dan merekayasa segalanya seolah tidak terjadi apa-apa," tegas Ayas penuh penekanan yang membuat Kama seketika meremang.
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -
Hai, setelah dua hari nggak up, Kama Kembali💃 Yang kangen mohon absen sini, Author butuh vitamin.