
"Gratis, tapi janji jangan disalahgunakan."
Hampir satu bulan berlalu pasca Kama mendatangi kediaman Rizal, ucapannya masih saja terngiang di benak Kama. Saat itu Kama tak memikirkan hal tersebut, dia juga sangat yakin kala mengambil keputusan.
Namun, ketika benda itu sudah berada dalam genggaman, Kama mendadak ragu. Jelas saja hal tersebut tertangkap oleh mata Rizal, melihat reaksi sahabatnya yang sedikit berbeda, pria itu memilih menarik kembali benda terlarang yang tak seharusnya dimiliki sembarang orang tersebut.
"Kenapa diambil lagi?"
"Muka lo meragukan, firasat gue nggak enak, Kam.
"Udah gue bilangin buat jaga-jaga, santai aja, Zal."
Kama menarik kembali benda yang tadinya sempat membuat hati Kama bergejolak. Dia sempat ragu, tapi hati kecil Kama mengatakan dia sangat memerlukan benda itu, entah kapan bergunanya. "Thanks ya, duitnya udah gue tf ke rekening lo."
"Gue udah bilang gratis, Kam, kenapa mas_"
"Jangan nolak rezeki, lo mungkin nggak butuh saat ini, tapi belum tentu besok pagi."
"Ogah, gue balikin ya!!"
"Kata bini gue, Tuhan nggak suka sama yang nolak rezeki."
Seorang Kama berbicara semacam itu, telinga Rizal mendadak geli dan wajahnya mencebik seketika. "Keselek apa lo jadi alim begitu?" tanya Rizal yang hanya Kama tanggapi dengan senyuman tipis, nyaris tak terlihat.
Kendati masih ingin terus mengejeknya, Rizal memilih berhenti karena tahu pikiran Kama mungkin tidak setenang yang dia duga. Terlebih lagi, selama satu bulan terakhir Kama terus mendesaknya seolah senjata yang dia minta harus ada detik itu juga.
Hendak bertanya, tapi Rizal tahu seorang Kama tidak suka ditanya dan dia akan bercerita andai memang merasa diperlukan. Karena itu, untuk pertemuan kali ini, tidak ada yang bisa Rizal berikan selain tepukan di pundaknya.
"Kalau butuh apa-apa bilang aja, gue masih Rizal yang sama."
__ADS_1
"Hm, gue pulang ya ... enek lihat muka lo lama-lama."
Tepukan yang tadinya pelan mendadak diberi sedikit kekuatan pasca Kama berucap demikian. Dia yang datang, dia juga yang bicara seenak jidatnya, beruntung saja Rizal sudah memahami watak sahabatnya sejak lama.
Seperti biasa, bukannya berpikir, Kama hanya tergelak kemudian meninggalkan Rizal yang menggeleng pelan dibuatnya. Sudah memasuki kepala tiga, dan sifatnya sama sekali tidak berubah sejak awal mengenal.
Semakin jauh Kama meninggalkan Rizal, senyum di wajahnya kian pudar. Hingga, ketika bertemu Zidan yang menunggu di parkiran, wajahnya kembali datar dengan tatapan lurus ke depan. Pertanda ada hal yang membuat Kama gusar, tapi tidak dia ungkapkan sama sekali.
"Ada apa, Pak?"
"Laki-laki itu bagaimana?"
Rasanya baru tadi pagi Zidan melaporkan hasil kerja anak buahnya, tapi dalam waktu yang berdekatan Kama kembali bertanya dan hal itu membuat Zidan hanya menghela napas panjang.
"Masih sama, Marzuki menjalani aktivitas seperti biasa ... tanam ubi, ternak kambing, sesekali potong rum_" Ucapannya terhenti kala Kama melayangkan tatapan tajam yang tak Zidan mengerti apa maksudnya.
Zidan mengangguk mantap, dia tidak mungkin salah dan apa yang dia sampaikan tidak mengada-ngada. Semua bukti juga sudah nyata, terlebih lagi mata-mata yang ditugaskan untuk menyelidiki Marzuki juga memberikan laporan secara terjadwal lengkap dengan bukti foto yang tidak perlu diragukan kebenarannya.
Sejak awal dibuntuti dari Jakarta hingga tiba di kampung halaman ibunya, Marzuki memang tidak pernah melakukan sesuatu yang membuatnya patut dicurigai. Sebagaimana yang Zidan katakan, agaknya pria itu benar-benar memutuskan untuk menjalani hidup barunya di desa.
Tanpa nama Mark dan juga status lamanya, akun sosial media Marzuki juga tidak lagi ditemukan setelah ribuan orang menghujatnya. Juga, selama itu kepergian Marzuki hidup Kama juga baik-baik saja, tapi anehnya pria itu gusar setiap hari tanpa ada alasan yang jelas.
"Apa tidak ada hal lain yang didapatkan orang-orangmu, Zidan?"
"Tidak ada, tarakhir hanya itu, tapi tid_"
Drrt
"Sebentar, ada pesan masuk." Hanya sebuah sebuah pesan singkat, tapi Kama sepeduli itu sampai Zidan harus berhenti sejenak.
__ADS_1
Dari raut wajahnya menunjukkan kekecewaan, pasti dia berharap jika pesan tersebut dari Ayas sebenarnya. "Dari siapa, Pak?"
Kama tak segera menjawab, dia masih membaca pesan singkat dari seseorang yang baru saja mereka bicarakan sejak tadi, tidak lain dan tidak bukan, ialah Marzuki. Seolah membantah keraguan Kama, pria itu menyampaikan sebuah pesan yang membuat Kama merasa sedikit lebih tenang.
Pertama kali dalam hidup, Kama tersenyum hanya karena sebuah pesan dari laki-laki. Bukan karena merindukannya, tapi apa yang disampaikan Marzuki. Sekian lama tidak menghubungi, hari ini Marzuki mengabarkan keadaan terkininya.
"Uang 20 juta dari bapak sudah saya gunakan untuk membeli dua ekor anak sapi ... terima kasih, Pak."
"Ck, apa aku mengizinkanmu membacanya?" Kama berdecak kala Zidan tiba-tiba sudah berada di sampingnya dan kembali membacakan isi pesan Marzuki.
Zidan tersenyum tipis, memang tidak ada perintah, tapi dia penasaran hingga nekat walau tahu akan disemprot atasannya. "Apa Anda bisa tenang sekarang?"
"Lumayan," jawab Kama kemudian kembali memasukkan ponselnya ke saku celana.
Kembali pada tujuan awal, hari ini Kama harus menjemput sang istri untuk fitting baju terakhir mengingat satu minggu lagi resepsi pernikahannya akan digelar. Seharusnya sudah dari dua hari lalu, tapi terlalu banyak yang Kama lakukan hingga terpaksa di hari ini.
"Jadi jemput Nona dulu, Tuan?"
"Menurutmu? Apa bisa fitting bajunya diwakilkan kau saja? Tidak 'kan?"
Padahal Zidan hanya bertanya, tapi jawabannya menyebalkan sekali hingga pria itu memilih diam dan membukakan pintu untuk Kama segera. "Awas saja kalau setelah ini masih salah saya juga."
.
.
- To Be Continued -
Hai, banyak yang salah paham ternyata ... aku yang positif libur itu di Cakra-Meera saja, kalau di Kama diusahakan tetep up walau satu/dua, jangan ditinggalin yaw.
__ADS_1