Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 80 - Gendutan


__ADS_3

Sejak awal firasat Zidan sudah buruk, dia merasa akan terjadi sesuatu yang tidak sesuai rencana dan dia kena getahnya. Benar saja, setelah sempat Kama semprot sebelum menjemput Ayas, kali ini Kama kembali mengomel dan telinga Zidan panas rasanya.


Padahal, yang salah adalah Kama sendiri. Kama lupa jika mereka sempat membahas hal ini tadi pagi. Mengingat dirinya yang selalu sibuk sejak kemarin, Kalila mengambil alih dan mengatakan akan mengantar Ayas dari rumah hingga Kama tidak perlu menjemputnya.


Tiba di lokasi, Kama bergegas dan tampak terburu-buru seolah khawatir ditinggalkan penghulu, padahal yang dia lakukan hanyalah fitting baju. Akan tetapi, mengetahui bahwa Ayas sudah lebih dulu tiba, dia khawatir jika istrinya akan marah.


"Bentar, kok agak sempit ya ...."


Samar terdengar, Kama mulai mendengar suara seseorang yang begitu familiar di telinganya. Pertanda jika dia sudah tiba, jantungnya yang tadi sempat berdebar lantaran ketakutan, kini berganti tak karu-karuan kala menyaksikan pengantinnya di depan sana.


Ayas belum sadar akan kehadiran suaminya, sejak tadi dia terus memandangi bagian dada dan perutnya lantaran Kalila mengatakan jika gaun Ayas terlihat sempit. Padahal, sewaktu fitting pertama dia merasa tidak begitu dan sedikit aneh saja.


Bukan hanya Ayas, tapi designernya juga merasakan keanehan hingga wanita itu mendadak kebingungan. "Sepertinya tidak salah, aku yakin ukurannya benar."


"Ukurannya benar, tapi mungkin berat badannya yang bertambah ... kamu hamil, Yas?" tanya Kalila langsung pada intinya.


"Hah? Enggak." Ayas menggeleng cepat, dia yakin tidak hamil, tapi sejak menikah sedikit berisi karena memang tak begitu banyak yang dia lakukan.


Hari-harinya sebagai istri Kama hanya dihabiskan untuk bersantai semata. Makan, tidur, nonton televisi dan ya, memang begitu rutinitas Ayas. Kama begitu memanjakannya, bahkan tidak diizinkan melakukan tugas-tugas yang menurut Kama bisa Ida lakukan, terutama mencuci dan merapikan pakaian.


Dengan kata lain, Kama hanya meminta Ayas melakukan kewajiban yang tidak bisa digantikan orang lain, itu saja. Jadi, rasanya wajar saja jika berat badannya bertambah setelah menikah.


"Tapi kamu gendutan, Yas, sumpah."


"Bukan gendutan, tapi dulunya terlalu kurus."

__ADS_1


Bukan Ayas yang menjawab, tapi Kama yang kini sudah berdiri tepat di samping istrinya. Sungguh tak teduga dan Ayas bingung sejak kapan suaminya masuk, tapi yang jelas tatapan teduh dan senyum tipis itu berhasil membuatnya gugup seketika.


"Mas? Kapan datang?" Perhatian Ayas sontak teralihkan pada sang suami yang tampak menatapnya begitu lekat, seolah tah pernah bertemu sebelumnya.


"Barusan, pengantinku cantik sekali ... mas jadi pengen bawa pulang," ucap Kama lembut seraya mengecup pipi istrinya tanpa beban yang membuat Kalila mendadak mual detik itu juga.


Maklum saja, dahulu Kama anti dan kerap kali menghinanya manakala Yudha bersikap manis. Beberapa kali Kama menganggapnya sebagai budak cinta dan terlalu berlebihan dalam mengutarakan perasaan cinta, jelas saja ketika dia yang berada di posisi itu, Kalila menganga tak percaya.


"Kamu kenapa, Kalila? Kalau masuk angin pulang sana, ntar ngerepotin."


Seolah tak cukup dibuat terkejut dengan reaksi Kama mengungkapkan kasih sayang, kali ini dia kembali dibuat terkejut lantaran pria itu seolah tak tahu diri, juga tak tahu terima kasih.


Kama sampai mengusirnya lantaran tak ingin direpotkan, padahal Kalila sendiri rela direpotkan dan meninggalkan kedua buah hatinya demi memastikan kakak iparnya tampil mempesona kala resepsi digelar.


Hendak dia permasalahkan, tapi malu pada sang designer hingga Kalila kembali fokus pada gaun Ayas yang tampak sempit di tubuhnya. Kalila akui memang terlihat perubahan di tubuh Ayas, mungkin benar kata Kama dulu terlalu kurus hingga ketika tubuhnya sedikit berisi, justru dianggap gendut.


"Masa? Apa iya, Sayang?"


"Sedikit, tapi masih nyaman kok, Mas."


"Bagian mana yang terlalu sempit, sin_"


Plak


"Mau ngapain?!!"

__ADS_1


Bukan Ayas yang bertindak, melainkan Kalila yang tiba-tiba cemas lantaran Kama hendak menyentuh dada Ayas. Benar-benar tak tahu tempat, Ayas yang juga sadar akan rencana Kama sontak menyilangkan tangan tepat di depan dadanya.


Sadar jika rencananya tertangkap basah oleh kedua wanita itu, Kama hanya mengullum senyum kemudian menggigit bibirnya. Tanpa dijelaskan juga dia paham, gaun itu memang terlihat amat sempit walau Ayas mengatakan masih tetap nyaman.


Tidak mungkin juga Kama diam saja, melihat lekukan tubuh sang istri yang terlalu kentara ketika hendak pergi saja dia marah, apalagi kala resepsi pernikahan nanti. "Ganti dengan yang baru ... tubuhnya bisa sakit kalau dipaksakan pakai gaun ini. Juga, bagian dada dan pundaknya terlalu terbuka, tolong buat sesopan mungkin."


"Ganti? Kama? Are you kidding me? Satu minggu lag_"


"Lakukan sebisamu, kau tahu apa yang harus dilakukan ... sederhana saja tidak masalah, tapi harus mewah."


Baiklah, tidak ada yang bisa menolak perintah Kama. Sesulit apapun perintahnya, tetap harus iya-iya saja walau disertai helaan napas berat yang menandakan selelah apa menghadapi Kama.


Pasca designer itu menyanggupi permintaannya, seperti biasa Kama akan lupa diri dan pulang tanpa peduli pada Kalila yang pada akhirnya terpaksa pulang ikut Zidan lantaran Kama ingin berduaan.


Ya, siapapun sudah terbiasa dengan sikap Kama yang begitu. Sekalipun bertemu Ayas di mall bersama kedua orang tuanya, maka Kama akan tetap meminta Ayas untuk pulang bersamanya.


Kendati demikian, di setiap tindakan Kama sudah pasti ada tujuannya. Seperti hari ini, dia meminta Ayas untuk pulang bersamanya demi memastikan sesuatu.


"Kita mau ngapain, Mas? Kamu sakit atau ada yang dijenguk?" tanya Ayas menatap Kama bingung.


Pria itu mendekat, perlahan mengikis jarak demi melepas seat belt sang istri yang masih tak mengerti apa tujuannya.


"Nanti kamu akan tahu sendiri," ucap Kama pelan disertai kecupan singkat di kening dan usapan lembut di perut Ayas.


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2