Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 56 - Sembuh Total


__ADS_3

Celaka besar, Kama tidak menyangka jika semua ini akan terjadi. Bukan maunya, dia sendiri bahkan sudah lupa tentang obat yang Kalila berikan tepat satu minggu lalu. Bukan karena tidak menghargai atau bagaimana, tapi memang ketika menerimanya Kama sudah ragu dan tidak berniat mencekoki sang istri dengan obat perangssang di malam pertama mereka.


Tidak, tidak sama sekali. Kini, tanpa dia inginkan, obat itu telah masuk dengan sendirinya ke dalam tubuh Laras. Demi Tuhan Kama menyesal, kenapa bisa dia seceroboh itu meletakannya, dan kenapa juga dia tidak bertanya lebih dahulu atau melakukan panggilan video ketika Ayas bertanya tentang obat yang harus dia minum.


Hendak bagaimana dia sekarang? Mana mungkin marah pada Kalila karena kesalahan memang terletak pada dirinya. Kama frustrasi, dirinya tak lagi berpikir hal ini adalah sebuah kesempatan untuk mendapatkan kesenangan, tapi justru sebaliknya.


Istrinya mungkin tengah tersiksa, bahkan bisa jadi berbahaya. Terlebih lagi, Ayas minum satu sementara Kalila hanya menyarankan setengah. Bisa dipastikan bagaimana reaksi obatnya, sudah jelas yang mengonsumsinya seolah akan gila.


"Maafkan aku, Laras."


Berkali-kali Kama melontarkan kata maaf, sama seperti irama degub jantung begitu pula berisiknya langkah kaki Kama. Tidak peduli pertanyaan dari sang mama yang menyambutnya di ruang tamu, Kama berlalu begitu saja karena tujuannya kali ini adalah Ayas.


Tanpa mengetuk lebih dulu, Kama membuka pintu Kamar yang memang tidak dikunci. "Yas_ Sayaaang?"


Baru saja masuk, bahkan bicaranya belum selesai, pria itu dibuat terkejut lantaran sang istri yang tiba-tiba menghambur ke pelukannya. Efeknya tak main-main, beberapa kali Kama memastikan dua kancing piyama Ayas sudah terbuka dan reaksi ketika memeluk begitu berbeda.


"Mas baru pulang?"


Pertama kali Kama melihat pemandangan semacam ini. Ayas biasanya tidak pernah memeluk lebih dulu, bahkan membalas saja enggan, kini justru meyambutnya dengan pelukan yang membuat naluri Kama sebagai pria dewasa tidak dapat dibohongi.


"Maass, akuuu ...."


Terlebih lagi mendengar suara berat Ayas yang tampak menuntut belaian, mana mungkin Kama tahan. Ucapan Kalila benar-benar terbukti, malam ini Kama melihat sendiri bagaimana agresifnya Ayas. "Maaasssh."


Kama sampai menganga begitu Ayas berjinjit dan mulutnya setengah terbuka, tak ingin istrinya kecewa secepat mungkin Kama menunduk dan meraup bibir Ayas begitu lembut. Penuh perasaan dan tetap ingin menuntun Ayas agar tidak terburu-buru.


Sialnya, pengaruh obat yang Kalila berikan membuat Ayas seolah orang yang berbeda dan ciuman manis Kama seolah kurang hingga dia menuntut lebih. Kama yang awalnya tak tega atau semacamnya, sejenak menepis hal itu dan merasa akan lebih baik dia penuhi dibandingkan terus-terusan merasa bersalah.

__ADS_1


Telanjur basah, Kama memilih mandi sekalian. Ayas tidak menerima ciumman manis, tapi yang dia inginkan adalah ciumman panasnya berbalas. Detik berjalan, percikan gairah keduanya kian menggebu. Ayas terbawa pengaruh obat, dan Kama terbawa suasana hingga keduanya berkamuflase layaknya pasangan yang sudah melakukan hal itu berkali-kali.


"Kamu sadar kita sedang apa?"


Ayas mengangguk, matanya memerah dan terus menatap Kama penuh tuntutan. Seolah takut ditinggalkan, wanita itu mengalungkan tangan ke leher sang suami hingga Kama tak kuasa menahan diri untuk tidak menarik pinggang sang istri.


Tidak ada kata malu, tidak lagi ada Ayas yang lugu karena kini dia bahkan berani menelusuri tubuh Kama dengan jemarinya tanpa diminta. Kama menuntunnya perlahan ke tempat tidur, dan selama hal itu terjadi kecupan di bibir tak pernah berhenti.


Tangan kanan Kama juga tidak diam saja, sejak tadi dia sudah memulai membuka semua kancing piyama Ayas hingga ketika tiba di atas ranjang tubuh bagian atas sang istri hanya menyisakan bra saja.


Kama menjauhkan wajahnya sejenak, menatap gundukan yang sempat dia sebut kecil sewaktu pertama kali melihat Ayas dalam keadaan hampir polos. Hanya beberapa saat, karena setelahnya Ayas kembali menarik kemeja Kama sebagai kode agar tidak berhenti.


Dan ya, Kama kembali membuai Ayas yang tengah terpengaruh obat itu. Begitu lembut Kama lakukan, pria itu menelusuri bagian tubuh Ayas dengan kecupan. Tak terhitung jumlahnya, Kama memberikan tanda kepemilikan yang begitu banyak di leher dan dada sang istri.


Sudah pasti tangannya ikut ambil alih, dessahan Ayas kala Kama bermain di puncak dadanya benar-benar candu bagi Kama. Dia ingin mendengar yang lebih merdu lagi, Kama mulai turun dan sesuatu ingin dia dengar dari Ayas dia dapatkan juga.


.


.


Tubuh Ayas yang bergemelinjang membuatnya tersenyum tipis. Sama sekali tidak Kama sadari jika tindakannya sudah sejauh ini, setelah sebelumnya hanya dilakukan di bawah selimut, kali ini Kama bisa memandang tubuh istrinya puas-puas, tak satu pun yang tertutup.


Kagum, bahagia dan Kama merasakan hal berbeda. Bukan hanya gairah, tapi juga cinta yang membuat Kama tak mampu mengalihkan pandangan dari tubuh sang istri. Dia yang tadi juga sudah membara, kini membuka ritsleting celana usai melepas kemejanya asal.


Kama memposisikan diri untuk menguasai Ayas yang sejak tadi tampak menunggunya. Walau memang pertama kali, agaknya melakukan hal semacam ini tidaklah sulit, begitu pikir Kama. Namun, seperti biasa, Kama terlalu percaya diri hingga ketika pertama kali mencoba dia sedikit kesulitan sementara Ayas meringis yang menandakan jika sakit.


"Apa yang salah? Apa salah posisinya?" gumam Kama bingung sendiri dan sedikit menggeser posisi sang istri. "Ck, rasanya benar, tapi kenap_"

__ADS_1


Sulit, tapi Kama tidak mungkin memperlihatkan hal itu. Hendak bertanya juga tidak mungkin, pelan, tapi pasti Kama mampu mengendalikan keadaan dan juga menenangkan Ayas yang sempat merintih ketika Kama menguasainya untuk pertama kali.


Hanya sesaat saja keduanya tampak sulit, karena setelahnya tak ada lagi rintihan sakit, semua terganti dessahan kenikmatan yang menggambarkan perasaan mereka. Mungkin karena pengaruh obat tersebut yang membuat Ayas justru benar-benar haus hingga Kama bisa fokus dan tidak ada kata tak tega atau semacamnya.


Sama-sama membutuhkan, Kama membawa istrinya terbang ke awang-awang. Sebuah penyatuan yang begitu berkesan dan mana mungkin Kama lupakan. Setelah sekian malam tertunda akibat tamu tak Kama inginkan itu, malam ini dia berhasil memiliki Ayas sepenuhnya, seutuhnya.


Beberapa kali Ayas dibuat bergetar, dan Kama yang divonis impoten sejak lama jelas saja bahagia. Dia sembuh, sembuh total hingga setelah dirinya berhasil mencapai kllimaks, Kama berkali-kali mengucapkan terima kasih pada Ayas yang telah membuatnya merasa sempurna.


"Terima kasih ya, kalau bukan sama kamu ... aku tidak akan merasakannya, Yas," ucap Kama tulus seraya menyeka keringat di kening istrinya usai penyatuan mereka.


Ayas tersenyum, dia turut menyambut tangan Kama dan menatap lekat wajah sang suami yang hingga kini masih berada di atasnya. Bahkan mereka masih menyatu dan Kama belum melepaskan diri sejak tadi sebenarnya. "Mas ...."


"Iya, Sayang? Kenapa?"


"Lagi," pinta Ayas santai sekali yang membuat mata Kama membulat sempurna.


"Hah? La-lagi?"


"Hm, one more time kalau kata mbak Ida," ucap Ayas mempertegas, sementara Kama yang sudah merasa kehabisan tenaga seketika bingung hendak menjawab apa. "Tahu begini, aku minum juga tadi!!"


.


.


- To Be Continued -


Eits!! Hari senin, votenya buat Kama jika berkenan wufyuu👄

__ADS_1


__ADS_2