Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 60 - Karmamu Belum Dimulai


__ADS_3

"Laras ... kam_"


Plak


Tak puas sekali, belum sempat Marzuki bicara Ayas kembali mendaratkan tamparan untuk kedua kalinya. Bukan main sakit yang Ayas rasakan, seolah tak cukup menghina melalui pesan suara, Marzuki lancang kembali menghinanya secara terang-terangan.


Tindakan Ayas jelas membuat Marzuki terkejut, dia tak menyangka Ayas sampai berani berbuat kasar padanya. Walau jemarinya termasuk kecil, tapi sensasi pedasnya cukup luar biasa bahkan Marzuki terdiam cukup lama.


"Woah, kamu berani tampar aku? Karena sudah kaya sekarang?"


Ayas berani menamparnya bukan karena merasa tinggi atau semacanya. Wanita itu hanya tidak terima lantaran ucapan Marzuki terlalu menusuk hatinya. "Sedikit saja aku tidak merasa begitu, tapi kalau dimatamu aku kaya ya baguslah ... berarti selera suamiku memang mahal sampai hanya dengan sekali lihat kamu bisa menyimpulkan aku kaya."


Marzuki bungkam, dia berusaha untuk tak terlihat kalah dengan cara apapun walau faktanya sejak Ayas menamparnya harga diri Marzuki sebagai pria sudah jatuh sejatuh-jatuhnya.


Tatapan tajam Marzuki tak sedikit pun membuatnya gentar, jika dahulu Ayas akan menunduk, kali ini jelas tidak demikian. Untuk pertama kali, dia menatap Marzuki tanpa hati, melainkan rasa benci.


"Aku tidak mengerti bagaimana caramu menggoda laki-laki, baru juga beberapa minggu ke Jakarta dan pulang sebentar lalu menikah ... sebegitu murahnya kamu, Laras?"


Ayas tersenyum tipis, agaknya Marzuki tengah mengulas kelakukannya sendiri. Entah apa kesalahan Ayas hingga setelah mereka berpisah masih saja berusaha menyakiti mentalnya. Padahal, yang menyia-nyiakan kesempatan adalah Marzuki sendiri, tapi anehnya pria itu justru merasa paling tersakiti dan memojokkan Ayas di posisi salah.


"Maumu apa sebenarnya? Bukankah tanpa aku menikah sekalipun memang tidak akan bersatu, jangan bersikap seolah korban, nyatanya kamu pelaku di sini, Mas."


"Pelaku? Pelaku ap_"


"Sayang ... kok lama?" Tidak perlu Ayas mengulik kesalahan Marzuki, semuanya justru terjawab sendiri.


Sungguh Ayas ingin berterima kasih pada wanita sekssi dengan pakaian super ketat yang tiba-tiba menghampiri mereka dan memanggil Marzuki dengan panggilan Sayang sebegitu jelasnya.


"Dia siapa?" tanya wanita itu sedikit penasaran.

__ADS_1


Marzuki menatap Ayas sekilas sebelum kemudian menjelaskan tentang siapa Ayas pada pacar barunya. "Dia? Fans ... katanya kenal aku, tapi aku pikir-pikir lagi sepertinya tidak sama sekali, apa mungkin aku yang salah ya?"


Fans? Sungguh telinga Ayas tidak mungkin salah. Dia berdecih mendengar pengakuan tak masuk akal yang Marzuki utarakan. Selain manipulatif, pria itu agaknya memang sombong lahir dan batinnya.


Sedikit pun Ayas tidak menyesal menjadi istri Kama walau caranya agak gila. Setelah sempat melihat bagaimana kelakuan Marzuki di club malam itu, kali ini mata hati Ayas benar-benar terbuka dan mengerti bahwa ucapan Kama dahulu tidak pernah salah.


"Oh gitu, yaudah terusin ... siapa tahu mbaknya mau foto bareng."


"Eh iya, tadi katanya mau foto bareng," timpal Marzuki bersikap seolah Ayas benar-benar fans fanatiknya.


Kama bilang bakat akting Marzuki di bawah standar, oleh karena itu dia sampai diberi peran laki-laki bisu di project pertamanya. Namun, setelah di hadapkan dengan kejadian ini agaknya ucapan Kama tidak terbukti, Marzuki sangat pandai bermain peran dan memutarbalikkan keadaan.


"Siapa yang mau fot_"


"Tidak masalah kok, aku masih sempat ... Sayang, kamu yang fotoin ya?" Seenak hati Marzuki merampas ponsel Ayas dan diberikan pada sang kekasih yang ada di hadapannya.


Bodohnya, wanita itu terima-terima saja dan mulai mengambil posisi untuk mengabadikan kebersamaan mereka.


Baru saja hendak memulai, ponsel Ayas tiba-tiba kembali dirampas hingga pacar Marzuki gelagapan. Tidak hanya wanita itu yang terkejut, tapi Marzuki dan juga Ayas sama iyanya.


"Posisimu salah, kalau di sini kau melawan cahaya ... sini biar aku saja."


Entah sejak kapan Kama mengintai mereka, tapi yang jelas pria itu tiba-tiba muncul dan mengambil alih ponsel milik istrinya. Wajah Ayas terlihat bingung, sementara Marzuki justru bersikap santai karena merasa antara dia dan Kama memang cukup dekat.


"Sudah, bagaimana hasilnya?" Ayas mencebik, wajahnya terlihat bak pasien kurang darah di sana.


"Terima kasih, Pak, Anda di sini juga?"


Kama mengangguk, dia masih mengikuti permainan Marzuki, pertanyaan pria itu masih Kama jawab secara wajar. Hingga, beberapa saat terakhir sebelum mereka berlalu, mata Marzuki dibuat membola begitu Kama meraih tangan Ayas.

__ADS_1


"Sayang lama nunggunya?"


Sayang? Mata Marzuki yang tadi sudah membola kini semakin terpaku dan bingung dengan keadaan ini. Pria itu menatap Ayas dan Kama bergantian, kepalanya dipenuhi dengan segudang pertanyaan.


"Lumayan ... ayo pulang kalau sudah selesai, Mas."


Interaksi mereka seketika membuat Marzuki ketar-ketir, terlebih lagi kala dia sadar cincin yang Ayas dan Kama miliki adalah sepasang. Dia yang tadi banyak bicara, kini bungkam dan tak mampu berkata-kata.


"Eum, kamu duluan ya ... tunggu di mobil," bisik Kama yang kemudian Ayas patuhi begitu saja.


.


.


Selepas kepergian Ayas, tinggalah mereka bertiga saja. Raut wajah Kama terlihat berbeda, sangat jauh dan sama sekali tidak bersahabat. Pria itu menatap tajam wajah pucat Marzuki yang mungkin tengah berusaha mengelak dan mengatur strategi.


"Rencananya mau kutunda sampai projectmu selesai ... tapi ternyata justru lebih cepat."


"Ma-maksud_"


Bugh


Sakit akibat ditampar Ayas masih terasa, dan kini Kama tiba-tiba mendaratkan bogem mentah hingga sudut bibir Marzuki mengalirkan darah. Wanita cantik yang merupakan kekasih Marzuki itu ingin berteriak, tapi karena dia juga tahu siapa Kama, jelas memilih diam saja.


Tidak sekali, tapi berkali-kali hingga Marzuki terkulai lemas dan sama sekali tidak memberikan perlawanan. Seolah tak puas walau lawannnya sudah tak bertenaga, Kama menarik kerah kemeja marzuki yang saat ini bersandar di tembok dengan napas terengah-engah.


"Untuk semua rasa sakit dan penghinaan yang kau dan ibumu berikan pada istriku, ini tidak seberapa ... karmamu bahkan belum kumulai, ingat itu!!"


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2