Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 69 - Cashback


__ADS_3

"Mas, nanti kalau ketemu papa aku harus gimana?"


Setelah sempat lupa diri lantaran terbuai akan kenikmatan surgawi, Ayas kembali mengingat jika sempat kegerpok mertua beberapa waktu lalu. Masih dengan napas lelah, Ayas menatap Kama yang kini tengah mengancingkan kemejanya.


Pria itu menatap Ayas sejenak, tampak berpikir sebelum kemudian dengan santainya menjawab "Ya bersikap seperti biasa, memang kita harus gimana?"


Ya, memang salah sasaran jika Ayas bertanya pada Kama. Sejak dahulu dia ketahui memang pria itu tak ambil pusing dengan banyak hal, sekalipun sempat kepergok hendak bercinta, jelas dia akan biasa saja.


Jangankan malu, canggung saja mungkin tidak karena memang sudah terbiasa bersikap semaunya. Bahkan, menurut pengakuan Ida, pria itu berkuasa di dalam rumah dan tidak ada yang bisa mengaturnya, termasuk papa dan mamanya sendiri.


Terbukti bagaimana dia mengambil tindakan hari ini. Padahal, jelas-jelas di ruangannya tersedia kamar yang bisa Kama gunakan andai memang berniat untuk bercinta, tapi anehnya pria itu justru memulainya di atas meja kerja hingga terjadilah tragedi tertangkap basah. Barulah setelah kejadian itu Kama membawa Ayas ke ruangan tersebut agar benar-benar tidak dapat diganggu.


Sadar jika bertanya pada Kama adalah hal yang percuma, Ayas memilih bangkit dan memunguti pakaian yang bercecer di lantai akibat ulah suaminya. Selesai dengan pakaian, Ayas merapikan rambut dan berlalu keluar untuk menghampiri tasnya di atas meja.


Begitu dia dapatkan, Ayas kembali merias diri agar tampak manis. Make-up tipis yang tadi hilang tak berbekas pasca bercinta jelas ingin Ayas perbaiki, berbeda dengan Kama, wanita itu masih memiliki rasa malu andai dilihat banyak orang nantinya.


Bukan tanpa alasan Ayas kembali menghias diri, tapi dia memiliki rencana untuk pulang lebih dulu. Sialnya, belum sempat pamit Kama sudah melayangkan tatapan tajam dari jarak beberapa meter darinya.


"Kamu mau kemana?"


"Pulang, Mas, kenapa memangnya?"


Kama berdecih, dia yang sedari tadi memantau Ayas seraya bersedekap dada kini perlahan mendekati sang istri yang tengah duduk manis di atas sofa. Aura diktator dan tak bisa ditentang menguar dari raut wajahnya.


"Pulang? Apa maksudnya pulang?"

__ADS_1


"Eum bukannya sudah sudah beres ya? Berarti sudah boleh pulang, 'kan?"


Kama tertawa pelan, tanpa aba-aba dia menjitak kening sang istri lantaran seolah menempatkan diri bak wanita bayaran yang menjadi pemuas hassratnya. Sungguh Kama sebal mendengarnya, dan Ayas yang mendapatkan jitakan sekuat itu hanya bisa menggusap pelan keningnya akibat ulah Kama.


"Eeugh, sakit, Mas!!"


"Salahmu kenapa berpikir begitu ... dengar ya, mas tidak memintamu di sini karena ingin dipuaskan, tapi memang ingin ditemani sampai pulang, paham?" Memiliki istri yang otaknya agak tumpul begini memang harus sabar, Kama wajib menjelaskan segala sesuatu secara tuntas hingga ke akarnya.


"Ah begitu, tapi aku ngantuk, Mas ... mau tidur."


"Jangan banyak alasan, kamar di sini ada, lupa atau bagaimana?"


Ayas menggigit bibirnya, benar juga kata Kama, tapi sungguh dia ingin pulang karena khawatir tenaganya benar-benar habis jika sampai sore tetap di sini. Dia yang bercinta dalam keadaan sadar sungguh berbeda dengan dirinya yang dibawah pengaruh obat.


Ayas lebih lemah, sungguh menyesal dia berani meminta karena stamina Kama benar-benar sulit dia imbangi kali ini. "Tidur di sini saja mau ya?" Pertanyaan membuat lamunan Ayas buyar, dia mengerjap pelan kala sang suami bertanya untuk kedua kalinya.


Mendengar jawaban Ayas, Kama jelas saja tergelak, setakut itu dia jika diganggu, padahal tidak terpikirkan sama sekali oleh Kama untuk mengganggunya, tidak sama sekali.


"Iya, sana tidur ... atau mau dinina-boboin biar cepet tidurnya?"


Penawaran yang sangat menarik dan lebih baik disimpan saja, Ayas menggeleng dan hendak beranjak pergi dari hadapan sang suami segera. Dan, baru saja berdiri, Kama tiba-tiba menariknya untuk kembali duduk dan berdehem entah apa maksudnya.


Bukan hanya sekali tapi juga berkali-kali hingga Ayas bingung apa mungkin ada yang salah dengan dirinya. Wanita itu menatap diri sendiri, barangkali pakaiannya terbalik atau kenapa, tapi sungguh Ayas yakin tidak ada yang salah.


"Ck, apasih, Mas, ngomong yang jelas kenapa?"

__ADS_1


Kama menghela napas panjang, setelah berdehem tak mempan, dia kini menunjuk bibirnya seraya mengulas senyum tipis. Jika kodenya begini, baru Ayas sedikit mengerti dan dia menarik tisue segera kemudian membersihkan noda lipstik yang memang ada di bibirnya.


"Maaf ya, Mas, ternyata merk ini tidak anti badai, jadi pas ciumman longsor warnanya malah pindah di kam_"


"Ck, siapa yang minta dibersihkan bibir?" protes Kama begitu Ayas berusaha membersihkan noda merah di bibirnya.


Ayas yang merasa dirinya serba salah jelas kembali bingung dibuatnya, "Terus apa? Memang bener bibir kamu kayak badut, bukannya makasih malah marah."


"Ya masa begitu saja tidak nebak, jelas-jelas aku begini artinya minta dicium!!"


Ayas tertawa pelan, sungguh untuk yang kali ini dia tidak mengerti karena memang secara logika dugannya sudah benar. "Oh minta kiss ceritanya, bilang yang jelas, Mas, aku memang agak o-on," ucap Ayas kemudian memenuhi permintaan sang suami, mengecup bibir Kama sekilas.


"Bukan agak sih, tapi memang o-on banget."


"Ih!! Nyesel aku ciumnya, balikin!!"


"Fine, sini mas balikin." Detik itu Ayas bicara, detik itu juga Kama kembali menarik tengkuk leher sang istri dan membenamkan bibirnya sekali lagi. Bukan hanya kecupan yang seperti Ayas lakukan, tapi ******* penuh perasaan dan cukup lama hingga Ayas terengah-engah setelahnya.


"Selamat, Anda mendapatkan cashback 200%," ucap Kama mengedipkan mata seraya mengusap bibir sang istri yang kini basah dengan jempolnya.


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


Kama : Siapa yang mau dapat cashback juga?


__ADS_2