
"Shiitt!! Bisa-bisanya pakai acara terbang segala."
Demi menyelamatkan aset pribadi sang istri, Kama sampai rela berkorban masuk ke dalam kolam siang-siang begini. Bukan karena takut istri, tapi Kama khawatir ada yang menyadari hal ini dan tentu akan membuat malu sang istri.
Dalam keadaan basah kuyup, Kama kembali masuk tanpa peduli siapa yang akan mengeringkan lantai nantinya, sudah pasti Ida. Bahkan, tanpa merasa bersalah dia memeras bra milik Ayas lantaran dirasa teramat basah begitu dia naik tangga.
"Givendra Kama Wijaya!!"
Kama terdiam, matanya sejenak mengerjap pelan begitu mendengar teriakan itu. Teriakan kematian dari omanya, Jelita, sebuah pertanda bahwa Kama dalam bahaya. Dia berbalik, tak lupa menyembunyikan benda keramat tersebut di belakangnya.
"Oma? Ka-kapan datang?"
"Apa kau punya rencana untuk membunuh Oma sampai lantai kau buat basah semua, Kama?"
Jarak mereka cukup jauh, terpisahkan beberapa anak tangga dan omanya tampak berkacak pinggang di bawah sana. Entah atas dasar apa wanita itu tiba-tiba datang, padahal Mama Zura saat ini tengah ada di Jepang.
Mendapati omanya marah besar jelas saja Kama takut. Pria itu sejenak diam dan berpikir hendak menjawab dengan kalimat apa. "Aih mana mungkin aku begitu, Oma, bajuku masuk ke kolam jadi aku terp_"
"Banyak sekali alasanmu, kemarin kau kemana? Haidar bilang kau mabuk dan berbuat ulah di club, lalu besoknya kau tiba-tiba pergi begitu saja ... katakan pada Oma kau mau apa? Mau melarikan diri? Hm?"
Kama panik, demi Tuhan kali ini dia panik dan segera turun demi memohon ampunan pada omanya. Sudah dia duga Haidar memang tidak bisa dipercaya sepenuhnya, dan salah Kama kenapa hanya meminta merahasiakan hal itu pada papanya saja, bukan omanya juga.
"Jangan dekati oma dengan badanmu yang basah itu!!"
"Oma dengarkan aku ... salah-satu yang tidak boleh di dunia ini adalah percaya ucapan om Haidar. Oma ingat 'kan om Haidar suka fitnah, aku bukan mabuk, itu cuma senang-senang biasa kok Oma."
"Senang-senang biasa? Mabuk berat sampai mau buka celana di hadapan banyak orang itu biasa, Kama?" Wanita itu menghela napas panjang, entah menurun dari siapa, tapi rasanya Gian sewaktu muda tidak separah Kama.
Lebih menyebalkan lagi, ketika ditatap dia akan memasang wajah melas seakan korban hingga yang marah akan merasa bersalah. "Kapan kamu berubah? Papamu tahu kelakuanmu begini? Dewasalah, Kama ... Kalila saja sudah punya anak dua, kamu masih seperti anak TK."
Selalu saja, dibandingkan dengan saudara sendiri dan jelas saja takkan mungkin bisa Kama saingi. Kehidupannya tidak sesederhana Kalila, bahkan untuk menikah saja sudah bagian dari keajaiban bagi Kama.
__ADS_1
Omanya datang hanya untuk itu, marah lantaran kelakuannya di club dan jadi melebar kemana-mana. Kama sudah mulai malas, dia tidak lagi berniat untuk mendengar semua ucapan omanya, tepatnya sudah masuk kuping kanan keluar kuping kiri.
"Kama!! Dengar tidak oma bilang apa?"
"Iya dengar!! Lagi pula mati itu takdir, Oma, bukan karena minuman," balas Kama sekenanya, seingat dia saja terakhir Oma Jelita bilang apa.
"Tuhkan oma bilang apa dengernya ap_ itu lagi, ngapain kamu megang begituan hah? Punya siapa?" Susah paya Kama menyembunyikan, pada akhirnya ketahuan juga hingga Kama gelagapan dibuatnya.
Khawatir omanya akan semakin banyak tanya, dan Kama tak ingin sakit kepala, Kama menjawab asal hingga Jelita sampai menggeleng dibuatnya. "Benar-benar tidak dapat diselamatkan, segeralah menikah!!"
"Iyaa, Oma pulang dulu ya ... nanti aku menikah," bujuk Kama berharap agar omanya tidak memperpanjang masalah.
Bukan tidak ingin mengenalkan Ayas pada omanya saat ini. Hanya saja, watak wanita itu tak sama seperti sang mama dan Kama khawatir jika nenek-nenek kepo dipertemukan dengan gadis polos yang tidak bisa berbohong itu justru akan menjadi malapetaka.
Akan lebih baik, Kama menunggu kedua orang tuanya saja. Tidak lucu jika Oma Jelita justru masuk rumah sakit akibat Ayas yang jujurnya luar biasa. Bukan tak mungkin seluruh kejadian dari A sampai Z dia jelaskan tanpa sisa.
.
.
"Kamu kenapa?"
"Hm? Tidak, tidak kenapa-kenapa ... ini kacamatamu." Santai sekali Kama mengembalikannya dengan tangan kiri, padahal setelah memberikannya pada Ayas, pria itu tetap mengekor ke balkon kamar lantaran tempat itu yang masih mendapat cahaya matahari.
"Serius kamu kenapa? Ada masalah? Atau telinganya kemasukan air?" tanya Ayas serius, sejak tadi Kama diam, tapi bimbangnya sangat-sangat ketahuan.
"Tadi ada oma."
"Oh iya? Mana? Sudah pulang? Apa aku perlu bertemu dengannya?" tanya Ayas yang kemudian mendapat gelengan cepat dari Kama.
"Besok-besok saja, oma sudah pulang ... dia datang juga cuma buat marah," ucap Kama mulai bercerita.
__ADS_1
"Marah karena apa?"
"Mabuk beberapa malam lalu," jawab Kama seraya menatap lekat wajah Ayas, wanita yang menjadi penyebabnya kembali menegak minuman itu setelah beberapa tahun tidak lagi merasakannya sekalipun datang ke club untuk menenangkan diri.
"Salah kamu, sudah tau salah ... lagian buat apa mabuk, seperti tidak ada jalan keluar lain." Ayas mulai memperlihatkan sisi cerewetnya, sesuatu yang mungkin akan Kama rasakan seumur hidupnya nanti.
Mendengar celotehan Ayas, Kama sama sekali tidak marah, dia hanya tersenyum tipis sebelum kemudian melontarkan kata-kata yang bisa dipastikan akan membuat Ayas bungkam. "Kalau kamu tidak pergi malam itu, aku tidak akan mabuk, Yas," ucapnya disertai helaan napas panjang.
Benar saja, Ayas kini mengerjap pelan dan tampak berpikir apa maksud Kama. Kenapa bisa hanya karena itu sampai Kama mabuk berat, dan Ayas melihat sendiri bagaimana kacaunya Kama malam itu. "Karena aku?"
"Hm." Kama memalingkan muka, jawaban singkat semacam itu membuat Ayas semakin sulit memaknainya.
"Tapi kenapa bisa?"
"Entahlah, yang jelas aku tidak terima calon istriku hendak pergi menemui pria lain ... dan kamu sedikit saja tidak peka," jelas Kama setenang itu, membalikkan keadaan seolah Ayas bersalah padanya.
"Tapi kan malam itu belum jadi calon istrimu."
"Sekarang aku tanya, kamu istrinya siapa?" Kama bersedekap dada, memang dalam hidup Kama tidak pernah menerima kekalahan agaknya.
"Istri kamu." Walau paham arahnya akan kemana, Ayas tetap menjawab dengan suara lembutnya.
"Ya sudah, berarti malam itu kamu sudah jadi calon istriku apa salahnya?"
Ayas menyerah, dia tidak memiliki tenaga untuk melawan manusia sejenis ini. "Seumur hidup, dan yang berhasil kulewati baru dua hari ... masih lama ternyata."
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1