
"Bagaimana, Dok? Istri saya baik-baik saja?"
Sebelum menjawab, wanita berkacamata itu hanya tersenyum tipis. Didatangi pasangan pengantin baru semacam ini bukanlah hal asing, Kama bukan pria pertama yang begitu khawatir akan keadaan istrinya, tapi sungguh ketika menghadapi Kama wanita itu tak kuasa menahan tawa.
Sejak awal masuk sudah begitu aktif dan banyak bicara. Bahkan semua pertanyaan dokter 90 persen dia yang menjawab. Kama tak segan mengatakan apa yang terjadi sebenarnya, karena menurut pria itu hal tersebut perlu diketahui oleh dokter yang memeriksa sang istri.
Sementara Ayas yang awalnya takut lantaran tak memiliki keberanian untuk menjawab, akhirnya sedikit lebih tenang karena Kama yang mengendalikan keadaan. Walai, dia akui memang masih tetap saja malu kala mendengar sang suami dan dokternya bicara terang-terangan.
Sesuai kepercayaan Ayas, dia sebenarnya tidak apa-apa dan yang dia alami juga masih termasuk normal. Esok atau lusa akan kembali pulih seperti semula, begitulah penjelasan dokter Diana.
"Anda yakin hal semacam ini normal, Dok?
"Betul sekali, seperti yang saya katakan sebelumnya esok atau lusa akan membaik."
Kama mengangguk mengerti, tapi beberapa saat kemudian dia tampak berpikir seraya menatap istri dan dokter tersebut bergantian. "Eum besok atau lusa?"
"Iya, betul."
"Apa sebelum dia membaik saya tidak boleh menyentuhnya lebih dulu?" tanya Kama sejelas-jelasnya, hingga ke akar dan Ayas yang mendengar hal itu hanya meremmas jemari demi menutupi rasa malu.
Lebih malu lagi, Kama memperlihatkan ekspresi kecewanya kala dokter mengiyakan pertanyaannya. Kama tampak frustrasi, hingga ketika keuar dari ruangan itu dia masih terlihat berbeda dan Ayas kembali salah mengartikan perasaan sang suami.
"Mas kenapa? Marah sama aku ya?"
__ADS_1
"Hm?" Kama menoleh pada Ayas yang tampak menatapnya penuh tanya, pria itu mengulas senyum dan merangkul pundak sang istri hingga keduanya tak berjarak. "Kalau sampai aku marah karena hal ini, berarti gila, Yas," jawabnya kemudian.
Mana mungkin dia marah, sedikit saja tidak dan wajahnya yang kusut itu ialah merutuki kesalahannya tentang obat yang Kalila berikan. Andai saja tidak diminum, mungkin keinginan sang istri untuk bercinta tidak menggebu-gebu semacam itu.
Hendak diratapi percuma, semua sudah terjadi dan Kama hanya bisa menunggu istrinya benar-benar pulih, itu saja. Beberapa saat menyusuri koridor rumah sakit, perut Kama mendadak sakit dan hal ini sungguh menyebalkan baginya.
Ingin dia lakukan di rumah saja tidak sekuat itu, terpaksa dia menggunakan fasilitas rumah sakit untuk sementara waktu. "Kamu tunggu di sini ya, jangan kemana-mana."
Ayas mengangguk, ada-ada saja memang. Bukan hanya sikap yang tak terduga, tapi sistem pencernaannya juga demikian. Tiada angin tiada hujan, tiba-tiba Kama sakit perut dan tidak bisa lagi ditunda.
Terpaksa, kepulangan mereka tertunda dan kini Ayas sendiri untuk beberapa waktu. Tak ingin terlalu kentara lugunya, Ayas merogoh ponsel dan mencari apapun yang mampu mengalihkan perhatian sejenak.
Pertama kali yang muncul di depan matanya, akun sosial media milik Marzuki. Pria itu semakin bersinar, Ayas merasa bersyukur akan kemurahan hati Kama. Pengikut Marzuki dengan username Mark_real itu sudah hampir 4,5 juta, sangat amat singkat dan hal itu tak lepas dari usaha Kama membantunya meroket.
Cinta Laras benar-benar tak berbekas, menghilang begitu saja. Padahal, Marzuki pernah menjadi orang yang pernah amat dia cinta, dia kasihi dan begitu berharga di hati Ayas. Bukan hanya karena kehadiran Kama, tapi memang sudah menghilang dengan sendirinya.
"Ehem."
"Iya, Mas ... sudah seles_"
Tadi Ayas sempat terkejut, kali ini dia lebih terkejut lagi kala menyadari yang berdiri di hadapannya bukanlah Kama, melainkan Marzuki. Secepat mungkin Ayas berusaha biasa saja, dia yang tertangkap basah tengah berselancar di laman sosial media milik Marzuki tidak merasa perlu malu, karena tujuannya bukan karena masih cinta, tapi meratapi kebodohannya sebagai wanita.
Sayang, hal itu tidak dapat ditangkap oleh Marzuki yang memiliki rasa percaya diri terlalu tinggi. Hanya dengan melihat sekilas, dia menyimpulkan Ayas masih begitu mengharapkannya pasca menikah dengan pria lain.
__ADS_1
"Lihat saja lagi ... kenapa? Nyesel ya?"
"Nggak, tiba-tiba saja kebuka, kebetulan aku mau unfollow tadinya." Kali ini, dia sedikit berbohong walau sebenarnya tidak seratus persen.
Namun, sudah jelas Marzuki tidak akan percaya. Penjelasan Ayas justru membuatnya besar kepala dan merasa bak pria tak tergapai oleh Ayas. Dia tergelak, bahkan tak segan menatap rendah Ayas seakan benar-benar menyedihkan.
"Kasihan, apa pernikahan kamu tidak bahagia, Yas?" tanya Marzuki dengan seringai tipis, jelas tengah merendahkan.
"Bahagia, suamiku sangat memuliakanku sebagai wanita ... jadi jelas saja aku bahagia."
Sudah diberikan jawaban semacam itu, Marzuki masih saja tergelak dan menganggap pengakuan Ayas adalah hal yang lucu, membual dan sebagainya.
"Jangan berpura-pura, hanya karena bajumu terlihat bagus dan mahal itu bukan jaminan ... bisa jadi cuma jadi pelampiasan suam_ ah apa ya nyebutnya yang pas untuk budak sekss seper_"
Plak
"Jaga mulutmu!!"
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1
Penduduk alam ghaib : Woah sapa tuh yang nampar?