Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 77 - Miss You


__ADS_3

Rizal masih bingung, dia bahkan mengecilkan matanya pasca mendengar ucapan Kama lantaran khawatir salah dengar. "Serius? Seorang Kama takut? Takut sama siapa? Tikus atau kecoa?"


"Gue serius, Zal!! Lo tahu kan si Juki? Yang mesen barang itu sama lo beberapa waktu lalu," ucap Kama memasuki mode serius, dan Rizal yang mengerti kemana arah pembicaraan Kama seketika diam dan mendengarkan sengan seksama apa yang Kama utarakan.


Beberapa waktu lalu memang Marzuki sempat datang pada Rizal untuk membeli obat-obatan terlarang yang dia gunakan sebagai penenang. Ya, penenang padahal karirnya juga belum sebegitu cemerlang, tapi sudah berani bertingkah.


Kembali lagi pada pembahasan Kama, cukup banyak yang dia sampaikan, bisa dikatakan Kama mengutarakan keresahannya pada Rizal. Sebenarnya Kama biasa saja, tapi itu andai tidak ada seseorang yang begitu mengkhawatirkannya.


"Dari mukanya sih lugu, tapi kita tidak tahu isi kepala orang, Kam ... kali ini gue setuju sama bini lo, demen gue."


"Punya gue, lo cari yang lain lah," celetuk Kama menepuk perut Rizal begitu kuatnya.


"Pola pikirnya maksud gue tholol!! Lo bener-bener deh heran ... tapi balik lagi ke topik pembahasan, lo harus hati-hati, bisa jadi dia dendam." Sedikit diselingi candaan, tapi mereka tidak lupa akan topik pembahasannya.


Kama mengangguk, tidak hanya istri, tapi juga teman dekatnya mengatakan hal yang sama. "Gue tahu itu, dan gue juga udah minta Zidan buat kirim mata-mata untuk ngawasin dia."


"Lo bisa nyuruh orang, dia juga bisa. Selain diawasi, lo juga harus jaga-jaga," ucap Rizal kemudian, dan Kama mengangguk kali ini.


"Tujuan gue datang untuk itu ... lo masih punya barangnya, 'kan, Zal?"


Rizal tak segera menjawab, dia menatap sekeliling juga melihat ke arah Zidan juga. Pria itu tampak ragu dan dia segera mendekatkan wajahnya demi menjaga kerahasiaan di antara mereka.


"Buat apa?" bisik Rizal kemudian, di matanya sedekat apapun Zidan tetap saja dianggap asing.


Sayangnya, walau Rizal sudah berusaha menjaga kerahasiaan mereka, Kama justru tampak santai dan menjaga jarak seraya mengibas-ngibaskan tangan di depan hidungnya. "Jaga-jaga, gue nggak aman kalau nggak punya pegangan, Zal."


Rizal yang sedikit tersinggung lantaran dianggap bau badan itu banya menghela napas panjang. Malas sekali dia melanjutkan pembicaraan ini. "Jaga-jaga nggak mesti lo yang bergerak, kenapa harus lo, Kam? Lo lupa apa yang terjadi beberapa tahun lalu? Nyawa orang melayang karena lo salah tembak."


Kama terdiam, dia tidak ingin mengingat hal itu lagi. Lagi pula semua terjadi karena ketidaksengajaan, itu juga dia lakukan dalam keadaan mabuk dan sungguh bukan niatnya membunuh siapapun.


"Beda cerita, kali ini gue benar-benar butuh, Zal ... ada kan?"

__ADS_1


"Ada sih, tapi serius gue masih trauma lo pegang gituan."


"Gue ga mabok lagi, nggak akan lagi ada tragedi semacam itu, percaya sama gue." Kama meyakinkan Rizal, terlihat jelas seragu apa pria itu sebelum memenuhi keinginan Kama.


Sebenarnya dia ragu, tapi melihat Kama yang terlihat begitu membutuhkan, Rizal berubah pikiran. "Nanti gue kabarin lagi, sekarang lo pulang dulu."


"Masih harga lama?"


"Gratis, tapi janji jangan disalahgunakan." Rizal tidak ingin Kama kembali mengulang kesalahan dan pria itu mengangguk mantap sebelum kemudian meminta Zidan untuk mengantarnya pulang.


.


.


Perjalanan kali ini terasa sangat lama, hari pertama yang Kama rasakan lebih kacau dari biasanya. Hingga memasuki gerbang utama, Kama masih diam dan seolah tak bermaksud turun dari mobilnya.


"Pak, kita sudah sampai."


"Jangan macam-macam, istriku mana?"


Rasa sakit di pundak Zidan masih terasa pasca Kama mendaratkan telapak tangan di sana. Padahal, Zidan tidak berteriak dan suaranya juga terdengar santai, tapi Kama justru marah besar dan cara itu berhasil membuat Kama tersadar dari lamunannya.


"Mungkin menunggu Anda di dalam, silakan turun, saya tidak sekuat itu untuk menggendong Anda."


Ingin sekali Kama memperpanjang masalahnya, tapi berhubung pikirannya sudah tertuju pada Ayas jelas dia tidak akan melakukan hal konyol semacam itu. Tanpa mengucapkan terima kasih, Kama meninggalkan Zidan dan dengan begitu percaya diri walau penampilannya sekotor itu.


Begitu masuk, yang dia tuju adalah Laras. Seperti biasa, sekalipun ada orang lain Kama tidak akan malu melakukan apa saja, termasuk memeluk sang istri yang saat ini gelagapan akan kehadirannya.


"Hai, miss you," bisiknya begitu lembut kala melingkarkan tangan di perut sang istri.


"Kaget, mas dari mana?" Ayas mengusap dadanya perlahan, kehadiran kama yang tiba-tiba memeluknya dari belakang berhasil membuat pipi wanita itu bersemu merah.

__ADS_1


"Kantor dong, masa laut merah," jawab Kama asal seraya kembali mengecup pipi sang istri tanpa ragu hingga Ida yang sejak tadi membantu Ayas menyiapkan makan siang memilih untuk pergi karena merasa diusir secara halus.


Ayas yang paham akan situasi segera berbalik dan mendorong dada Kama hingga dahi pria itu berkerut seketika. "Kok ditolak? Kenapa?"


"Mas bau, kotor lagi astaga ... dari mana sih?" tanya Ayas seraya mengibas-ngibaskan tangannya di depan hidung, sungguh dia merasakan aroma tak sedap dari tubuh sang suami.


"Bau? Masa iya?"


"Sumpah, mulutnya juga, ngerokok ya?"


"Apa? Merokok?!"


Bersamaan dengan suara itu, sebuah wajan ukuran sedang mendarat di kepala Kama hingga pria itu berlindung di balik punggung istrinya. Kama lupa jika macan kumbang itu ada di rumah, dia meringis seraya meminta Ayas untuk pergi segera.


"Ngaku, kamu merokok, 'kan?"


"Enggak, Ma, cuma sed_"


"Ya, terserah kamu saja ... mau dirawat berbulan-bulan lagi? Hm?"


"Enggak, Ma, tadi dipaksa Ijal."


"Dipaksa? Mama telpon Rizal? Awas bohong."


"Ya telepon sana, aku beneran, Ma, kalau sampai bohong, potong saja telinga papa!!"


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2