
"Kok kesini? Dulu waktu sama Mbak Ida dimarahin, kenapa sekarang malah ...." Ayas sampai tak bisa berkata-kata begitu sadar kemana Kama membawanya.
Tidak lain dan tidak bukan, pria itu membawa Ayas ke sebuah club malam. Ya, sebelum menikah memang benar dia marah ketika Ida lancang membawa Ayas, tapi malam ini justru dia sendiri yang membawa Ayas tanpa bertanya sang istri bersedia atau tidaknya.
"Beda cerita, kalau sama suami kemana saja boleh."
Mudah sekali dia menjawab, Kama segera memeluk pinggang Ayas agar wanita itu tak lepas. Dia celingukan dan bingung sendiri dihadapkan dengan situasi semacam ini.
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini dia mendapatkan perlakuan spesial karena mungkin bersama Kama. Mereka dituntun ke sebuah meja khusus yang memungkinkan Ayas akan tenang walau suasana di dalam riuh luar biasa.
Dari posisi duduknya, semua kegiatan yang dilakukan orang-orang itu tertangkap jelas di mata Ayas. Beberapa kali mata Ayas membulat sempurna kala melihat beberapa orang yang tampak santai bertukar saliva dengan santainya, tanpa malu sedikit pun.
Bukan hanya ciuman biasa, tapi ciuman panas hingga membuat Ayas seketika memerah. Agaknya, Kama bukanlah guru yang tepat, bukan hal semacam ini yang dia inginkan, sungguh.
"Mas, pulang yuk ... aku tidak nyaman di sini."
"Katanya mau kubimbing? Justru ini poin pentingnya, kamu perlu tahu dunia malam ibu kota tu bagaimana."
Rasanya Ayas tidak butuh itu, dia bingung hendak bicara apa. Namun, jujur saja jika memang budaya di kota besar sebagian begini, Ayas sedikit merinding. Perlahan dia berpikir, mengingat bagaimana Marzuki yang mendadak berubah setelah merantau.
Sial, Ayas kembali mengingat pria itu lagi. Dia menatap Kama bingung, sementara sang suami tampak santai saja. Belum lama di sana, mata Ayas kembali dipertemukan dengan sosok yang sejak kemarin mengusik pikirannya.
"Mas Juki?"
Demi Tuhan dia tidak punya cita-cita untuk bertemu Marzuki, tapi malam ini dengan begitu jelasnya Ayas melihat sang mantan tengah menikmati hentakan musik bersama beberapa wanita di sana.
__ADS_1
Rongga dada Ayas seketika sesak, walau memang hubungan mereka berakhir, tapi entah kenapa sakitnya seolah semakin membekas begitu tahu bagaimana Marzuki selama jauh dari jangkauannya.
Ayas mulai membandingkan dirinya dengan beberapa wanita bertubuh sintal yang seolah minta dijamah itu. Sialnya, dia kembali mengingat celetukan Kama yang mengatakan jika miliknya kecil beberapa waktu lalu.
Marah, dendam, dan merasa terbuang menjadi satu. Ayas mendadak haus, tenggorokannya kering hingga tanpa pikir panjang dia menegak minuman yang tersedia di sana.
"Laras jangan!!"
Gerakan Ayas terlalu cepat, Kama baru sadar ketika gelas itu sudah kosong dan Ayas memperlihatkan eskpresi anehnya. Hendak bagaimana Kama sekarang, belum sempat melarang, tapi semua sudah telanjur hingga Kama hanya bisa mengerjap pelan.
"Kok rasa tehnya gini, Mas?"
Kama menggigit bibirnya, sungguh menyesal dia sengaja diam saja sejak tadi "Teh?"
Ayas mengangguk, di matanya memang teh, lagi pula diminum dalam keadaan kesal membara. Sayang, dia baru sadar rasanya aneh ketika semua sudah masuk ke dalam perutnya. "Bu-bukan teh, Yas, kenapa tid_"
Kama pikir istrinya akan jera, tahunya minta lagi dan dia sedikit memaksa. "Tidak, mimunan ini cuma untuk orang dewasa ... siapa lagi yang anterin ke sini," gerutu Kama justru menyalahkan pihak lain, padahal dia sendiri yang meminta.
"Aku sudah dewasa, itu yang di pojokan masih kecil saja minum ... sekali lagi boleh ya."
Ayas terbuai akan rasa penasaran dan dia ingin merasakannya sekali lagi. Sensasi semacam ini belum pernah Ayas rasakan, dan dia suka. Satu sisi Kama tidak mengizinkan, tapi di sisi lain, dia tak kuasa menolak permintaan Ayas.
Bermula dari satu gelas, Ayas benar-benar melayang pada akhirnya. Dia tidak bisa berhenti, hingga Kama bingung sendiri jika istrinya sudah mendadak nakal begini. Ayas berceloteh, alkohol mulai mempengaruhi dirinya hingga tidak ada pilihan lain selain pulang.
"Kamu yang kemarin bilang punyaku kecil, 'kan? Ingat aku nggak?"
__ADS_1
Mata Ayas bahkan tak sempurna lagi kala menatap Kama, jalannya juga sudah tidak seimbang lagi. Bahkan, Kama harus memegangi kedua tangan dan mengunci tubuh Ayas agar tidak berulah di dalam taksi.
Kama salah cara, dia pikir dengan membawa Ayas ke club maka sang istri tidak akan menangisi Marzuki lagi. Sialnya, setelah melihat pria itu dia justru mabuk berat hingga kehilangan kendali semacam ini.
Sebenarnya rencana Kama tidak gagal total, Ayas kini berceloteh dan mencaci maki Marzuki yang menandakan jika dia sudah melihat pria itu. Namun, yang menjadi masalah ialah, Ayas justru salah langkah hingga Kama repot sendiri.
Jika mabuk dan mau dibopong mudah saja, tapi kini Ayas justru keras kepala dan tetap kukuh ingin jalan sendiri. Beberapa kali dia hampir terhuyung, dan Kama selalu sigap memeluknya hingga tidak sampai jatuh tentu saja.
"Aku gendong saja ya, kapan sampainya kalau kamu beg_"
Ayas menggeleng seraya menggerakkan jarinya sebagai penolakan, akan tetapi untuk yang kali ini Kama tidak bersedia menuruti sang istri dan mulai berusaha mengambil posisi untuk membopong Ayas walau tanpa izinnya.
"Kamu kira aku sesabar itu? Kalau saja tidak dosa, sudah kulempar ke lan_"
"Bagus!! Jadi begini kelakuanmu, Kama?!"
Ucapan Kama terhenti, begitu juga dengan langkahnya kala medengar suara melengking yang sudah lama tidak marah padanya. Kama gelagapan, dia mengerjap pelan dan bingung mencari jawaban.
"Mentang-mentang sendirian, siapa suruh bawa pulang perempuan?"
"Ma-ma? Kapan pulangnya?"
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -