
"Ada lagi yang dia katakan selain itu?"
Ayas menggeleng, setelah sempat memintanya menunggu di mobil, begitu datang Kama kembali memastikan apa yang Marzuki katakan. Seperti biasa seorang Ayas, dia tidak akan berbohong dan mengatakan sejujurnya apa terjadi, tidak dilebihkan-lebihkan tidak pula dikurangi.
Tidak dengan sengaja menciptakan drama agar Marzuki dipandang buruk dan Kama semakin membencinya, Ayas hanya mengutarakan apa yang terjadi saja. Namun, sekalipun begitu Kama tetap saja marah bahkan kini mengepalkan tangan kuat-kuat dan ingin rasanya dia kembali walau kondisi terakhir Marzuki sewaktu dia tinggalkan amat memprihatinkan.
"Mau kemana? Jangan dihajar lagi, nanti kamu yang kena masalah." Tak ingin Kama terseret masalah, Ayas menahan kepergian Kama dan memintanya Zidan untuk berlalu segera.
Bukan tanpa alasan Ayas melakukan hal itu, pasalnya Kama sendiri yang tidak sengaja mengaku jika Marzuki mungkin masuk ruangan ICU. Walau tak tahu jelasnya, tapi percikan darah di lengan kemeja Kama sudah cukup jadi bukti jika sang suami tidak sekadar bercanda.
Biasanya Kama keras kepala, tapi kali ini dia tidak membantah dan menuruti perintah Ayas untuk tenang. "Tadi kamu keren, aku suka bunyi tamparannya ... renyah."
"Mas dengar semua?"
"Ti-tidak."
Kama seketika memperbaiki posisi duduknya, dia tidak sengaja mendengar, tapi mendadak penasaran bagaimana cara istrinya melawan. Hatinya sempat panas, Kama juga susah payah menahan amarah sebenarnya, tapi begitu melihat perlawanan istrinya seketika Kama bangga.
Andai saja tidak hadir wanita pengganggu itu, mungkin Kama akan menunggu lebih lama. Hanya saja, semua jadi kacau karena hadirnya wanita itu justru membuat Marzuki semakin tak tahu diri dengan merendahkan istrinya.
Ya, puncak kekesalan Kama adalah sesi foto itu sebenarnya. Jika saja tidak terjadi, dia akan terus memantau istrinya dari jauh karena Kama belum berencana mengungkapkan hubungan mereka di hadapan Marzuki.
Sialnya, pria itu sendiri yang justru membuat semuanya terpaksa dipercepat. Tanpa menunggu project Marzuki selesai, semua sudah telanjur dan Kama sudah jelas tidak akan menundanya lagi.
"Ehm, hari ini kamu ikut aku kerja ya .. pasti bosan di rumah saja, iya, 'kan?"
__ADS_1
"Tidak juga, kan ada si kembar, Mas," jawab Ayas jujur sekali, sementara Kama yang merasakan bosan bertubi selama di kantor hanya merasa jawaban Ayas tak adil, sungguh.
"Ah begitu? Jadi cuma aku saja yang bosan?"
Kama memperlihatkan ekspresi yang membuat Ayas mengerti jika dia salah bicara. Sontak wanita itu meralat ucapannya hingga Zidan yang sejak tadi fokus mengemudi tak sengaja tertawa kecil karena memang interaksi mereka terlalu lucu baginya.
Hidup Kama benar-benar berubah, dia juga tidak begitu pemarah dan seenaknya. Padahal, biasanya dia paling tidak suka jika Zidan tak sengaja tertawa ketika tidak diajak bicara, kini justru sebaliknya.
Ternyata benar, pengakuan Kama tentang Ayas yang dia anggap obat pada Zidan beberapa waktu lalu bukan isapan jempol belaka. Memang pada faktanya, Ayas bukan hanya sebagai obat untuk penyakit aneh Kama tersebut, tapi juga obat untuk suasana kelam hatinya.
Sesuai permintaan, Kama benar-benar mengajak sang istri hari ini. Berbeda dengan kali pertama, Ayas tidak lagi berjalan di belakang Kama, melainkan di samping. Tak hanya selesai di sana, wanita itu juga tidak membawa perlengkapan Kama lagi, tapi justru tangannya yang digenggam sang suami.
Jelas hal itu secara tidak langsung adalah cara Kama mengenalkan Ayas pada karyawan di kantornya. Tanpa perlu penjelasan, mereka tahu karena selama ini Kama tidak pernah menggandeng seorang wanita, satu-satunya yang mungkin pernah berjalan di sisinya hanya Kalila, itu saja.
Berbagai cara dia lakukan, dan Kama tidak membatasinya walau selama beberapa jam Ayas berada di sana sudah tiga pajangan yang pecah akibat ulahnya. Jelas bukan sengaja, Ayas meminta maaf berkali-kali lantaran merasa tak enak hati.
.
.
Selesai makan siang, dan kesibukannya mulai berkurang, seperti biasa Kama memang kerap kali memantau perkembangan project yang tengah berjalan. Bukan karena sedang mengajak Ayas, tapi memang Kama biasa melakukan hal itu.
Biasanya, dia akan pergi sendiri, tidak lagi bersama Zidan karena bukan ranah pria itu. Kebetulan, kali ini yang menemaninya adalah Ayas, wanita itu seketika merasa dejavu. Seolah kembali ke masa-masa dimana dia ikut Kama pertama kali.
"Mas setiap hari begini ya?"
__ADS_1
"Tidak juga, hanya sesekali," jawab Kama fokus ke depan, tragedi hampir menabrak ras terkuat di muka bumi beberapa saat lalu tidak ingin dia ulangi lagi.
Mendengar jawaban Kama, wanita itu hanya mengangguk, "Kesana biasanya ngapain?" Istrinya mulai banyak tanya, tapi percayalah Kama sangat suka.
"Apa saja, mantau pekerjaan mereka sudah sejauh apa ... ketemu sutradara, aktornya, begitulah kira-kira."
"Terus hari ini kita ngapain?"
Kama tampak berpikir, dia bingung hendak menjelaskannya karena jujur saja tujuan Kama mengajak Ayas ke lokasi saat ini adalah untuk menyaksikan pembalasan pada Juki, tapi jika dia katakan secara jujur mungkin Ayas akan melarang.
"Eum, lihat ...." Sungguh, baru kali ini Kama sampai gugup ketika ditanya apa tujuannya. "Lihat BTS, iyaa BTS," lanjut Kama lagi.
"Apaa? B-BTS? Mas serius? Ya ampun, Mas ... lihat, aku sampai gemeter!!"
"Iy-iya, kenapa kamu begitu?" tanya Kama mengerutkan dahi, bingung sendiri kenapa istrinya mendadak histeris.
"Semua member atau leadernya aja?"
"Hah?" Kama sejak tadi bingung, kini makin bingung.
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1