
Kama tak segera menjawab, dia masih meratapi kecerobohannya yang melemparkan ponsel Ayas begitu saja kemarin. Bisa dipastikan, semua riwayat pencarian yang dia lakukan ketahuan semua tanpa tersisa.
Jika ditanya malu atau tidaknya, jelas saja iya. Ya, sejak dahulu gengsi Kama memang tinggi, bahkan mengakui jika dirinya salah walau nyata-nyata sudah salah saja enggan, lantas bagaimana mungkin dia bisa mengaku begitu saja sudah jatuh sejatuh-jatuhnya, padahal Ayas mungkin belum menerima sepenuhnya.
"Ehm entahlah, aku tidak begitu mengerti soal itu, Yas."
Walau malunya luar biasa, Kama berusaha bersikap santai dan menanggapi pertanyaan Ayas seolah tak berarti. Padahal, sorot teduh Ayas yang hanya tertuju padanya sudah menyiratkan makna berbeda. "Tidak mengerti?"
"Hm, lebih tepatnya aku bingung karena memang aku tidak punya pengalaman melupakan siapapun." Kama menghela napas panjang setelah menjawab serius pertanyaan Ayas. "Dan satu lagi, aku memiliki wanita yang perlu kulupakan," tambah Kama lagi.
"Oh, begitu ya?"
"Yes, begitu kenyataannya."
Mendengar jawaban Kama harusnya Ayas tenang, bahagia dan merasa istimewa karena pengakuan Kama sudah menegaskam jika hanya dia wanita yang ada dalam hidup Kama.
Sayang, hal itu tidak Ayas rasa dan senyumnya justru mendadak redup seketika. Ayas mengalihkan pandangan, lidahnya terasa kelu dan merasa ragu untuk kembali melanjutkan pertanyaannya.
Niat hati Ayas hanya ingin memastikan sesuatu tentang Kama, dia berpikir bahwa pria itu juga tengah dalam proses melupakan seseorang. Tanpa terduga, sang suami justru mengatakan jika tidak ada wanita yang perlu dia lupakan, maka itu artinya termasuk gadis cantik di foto usang bersama Kama yang pernah Ayas lihat beberapa waktu lalu.
Sejak kemarin Ayas ingin bertanya, tapi memang foto itu tidak ada lagi di atas nakas usai Ayas melihatnya. Entah karena tidak suka privasinya diusik, atau memang baru sadar jika foto itu tidak penting, Ayas tidak tahu juga.
"Kenapa tiba-tiba tanya begitu?"
"Tanya saja, mendadak kepikiran," elak Ayas tak ingin terus membahas masalah ini terlalu lama, kembali berusaha mengubur rasa penasaran yang juga mengganggu pikirannya.
Namun, Ayas benar-benar lupa siapa Kama, hendak serapat apapun dia berpura-pura, gelagat Ayas terlalu kentara hingga Kama meraih dagunya demi bisa mencari celah kebohongan di mata sang istri. "Aku tahu pasti ada sebabnya, bisa kamu katakan apa?"
__ADS_1
"Tidak ada, aku cuma penasaran karena riwayat pencarian di ponselku ada pertanyaan semacam itu ... mas yang cari ya?" Tidak punya cara untuk mengelak, Ayas menyerang Kama tanpa basa-basi hingga pria itu meneguk salivanya seketika.
Sejak tadi dia pikir sudah aman, nyatanya sama saja, bahkan lebih terpojok begitu istrinya bertanya. "Iya, aku yang cari ... aku butuh gambaran selama apa istriku akan menerimaku tanpa bayangan laki-laki lain dalam ingatannya."
Jika Ayas bisa membuatnya tak bisa berkutik, maka Kama juga bisa melakukan hal yang sama. Jawaban serius itu berhasil membuat Ayas kehabisan kata-kata, dia bahkan tak kuasa menatap Kama lebih lama setelah pria itu melontarkan kalimat yang teramat dalam maknanya.
"Dan ... jujur saja, jika harus menunggu selama 18 bulan, mungkin aku akan gila, Laras."
Ayas menepis pelan tangan Kama yang sejak tadi terus berada di dagunya. Usai mendengar ucapan itu, Ayas seolah merasa bersalah, sungguh. "Selain tidak boleh percaya dukun, kita juga tidak boleh percaya internet sepenuhnya, Mas."
"Benar juga, aku juga sempat berpikir begitu, Yas ... eum, lagi pula mana mungkin selama itu? Bahkan tidak sampai 18 menit aku bisa membuatmu lupa segalanya, apalagi mantanmu yang tidak seberapa itu, iya 'kan?"
Narsis sekali, seketika Ayas menyesal menjawab demikian. Niat hati mengakhiri pembicaraan karena dia mulai malu, Kama justru melontarkan sebuah pernyataan yang semakin membuatnya memerah.
Sudah pasti 18 menit yang dimaksud Kama ialah waktu membuat Ayas melayang pertama kalinya. Niatnya terbaca jelas, terlebih lagi senyman tengil Kama sudah terlihat jelas di sana.
"Kok diem? Benar begitu, Larasati?"
"Ham-hem-ham-hem, apa jawabnya begitu?" Seolah tak sadar diri, dia tak suka andai Ayas menjawab sesingkat itu.
"Iyaaa, Mas, iya."
"Nah, gitu dong baru enak," pungkas Kama sebelum kemudian beranjak berdiri menghampiri penjual bubur yang tampak sibuk di ujung sana.
.
.
__ADS_1
Ayas menggeleng pelan, dari kejauhan dia pandangi, ekspresi Kama ketika berbicara pada penjual bubur itu bahkan berhasil membuatnya senyum-senyum sendiri, padahal tidak ada yang lucu sebenarnya.
Sejenak Ayas lupa perkara foto itu, bahkan ketika Kama mengajaknya untuk melanjutkan perjalanan Ayas tampak tenang saja. Namun, seiring dengan semakin jauhnya perjalanan, pikiran Ayas justru kembali tertuju pada hal yang sama, wanita itu.
Sementara di sisi lain, Kama tampak fokus mengemudi sembari sesekali menatap Ayas melalui ekor matanya. Raut wajahnya menimbulkan tanya, tapi Kama memilih tidak membahasnya dan menunggu sampai Ayas bicara dengan sendirinya.
Cukup lama Kama memberikan kesempatan, tapi faktanya hingga mereka benar-benar tiba di rumah sakit, Ayas tidak bertanya dan Kama tetap pada pendiriannya.
"Turun, aku khawatir lama kamu jadi bosan nanti."
Ayas mengangguk, dia tidak memperlihatkan gelagat aneh, hingga ketika sudah benar-benar turun Ayas menarik ujung kemeja Kama hingga pria itu mengurungkan niatnya seketika. "Ada apa? Tanyakan saja, sampai kapan kamu akan terus menerus gelisah seperti ini, Yas?"
"Maaf kalau lancang, tadi mas bilang tidak ada wanita yang perlu dilupakan dalam hidupmu, benar begitu?"
"Hm, lalu?"
"Apa itu termasuk wanita yang fotonya ada di kamarmu waktu itu?" tanya Ayas mendongak, keresahan yang membelenggu hatinya membuatnya sampai nekat bertanya.
Kama menunduk, dia menggigit bibir sebelum kemudian menjawab pertanyaan Ayas. "Iya, aku tidak berencana melupakannya."
Deg
Seketika, genggaman tangan Ayas terlepas, tangannya mendadak lemas begitu mendengar pengakuan Kama. Walau mungkin terkesan lancang, tapi ulu hati Ayas sesak rasanya.
"Kenapa? Cemburu?"
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -