
Kama tidak bercanda tentang apa yang dia katakan. Ya, untuk masalah ini dia memang tidak pernah bercanda dan Kama benar-benar mengajak sang istri untuk menginap di hotel tempat melangsungkan pernikahan, padahal jaraknya tidak begitu jauh dari rumah.
Hanya saja, dia memang ingin berdua, tanpa gangguan pihak keluarga dan tidak masalah andai bangun kesiangan. Terlebih lagi, sebagaimana yang Kama ketahui sejak satu minggu sebelum resepsi digelar Kalila dan Yudha sudah tidur di rumah utama, begitu juga dengan Oma dan Opanya.
Sebenarnya Ayas biasa saja, dia sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut. Namun, sebagai istri yang patuh dan tidak banyak mau, Ayas menurut saja apa mau sang suami. Sungguh, dianugerahi seorang istri seperti Ayas adalah sebuah hal yang selalu Kama syukuri setiap hari.
Bukan tanpa alasan, selama ini Kama dihadapkan dengan wanita yang luar biasa menyebalkan, banyak mau dan Kama diwajibkan menuruti keinginanya, siapa lagi jika bukan Kalila. Untuk itu, ketika memiliki Ayas dia sedikit terkejut, terkadang dia berpikir apa mungkin Ayas memiliki sebuah keinginan yang dia pendam atau bagaimana.
Beberapa kali Kama kerap bertanya, apa yang dia inginkan? Bukan berarti Kama tidak pengertian, tapi memang Ayas tidak menginginkan banyak hal. Bukan hanya tak banyak permintaan, wanita itu juga tidak pernah menolak permintaan Kama, apapun itu.
Seperti malam ini contohnya, Kama tahu istrinya mungkin lelah, tapi begitu tiba di hotel Ayas tanpa ragu justru menawarkan diri untuk memenuhi kewajibannya sebagai istri di malam pertama pasca resepsi pernikahan mereka.
Sempat menolak, tapi Kama luluh juga hingga tanpa sadar dia meninggalkan Ayas tidur lebih dulu. Begitu terbangun, Kama dibuat gelagapan lantaran sang istri tidak ada di sebelahnya, dia bingung bahkan sempat menyingkap selimut lantaran berpikir Ayas tidur di ujung kakinya.
"Sayang! Kamu dimana?" Bukan main paniknya Kama, tanpa mengenakan apa-apa pria itu beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Berharap di sana ada Ayas, tapi hasilnya nihil hingga jantung Kama berdegub tak karu-karuan. Ayas tidak pernah meninggalkannya seperti ini, terlebih lagi saat ini masih tengah malam dan bukan di rumah, jelas saja dia panik setengah mati.
Padahal baru selesai memeriksa kamar mandi, tapi dia sudah tampak frustrasi bahkan menarik rambutnya kuat-kuat. Dia takut, padahal kemungkinan Ayas akan meninggalkannya kecil sekali.
Kama berusaha untuk tenang sejenak, pria itu menatap sekeliling kamar, hingga mata Kama tertuju pada pintu menuju balkon. Hati Kama tergerak untuk melangkah ke sana, benar saja begitu pintunya terbuka pria itu menghela napas panjang.
"Ya Tuhan, Laras!!" pekik Kama tertahan, jujur saja melihat Ayas yang tampak tenang di depan sana dia ingin marah sebenarnya.
__ADS_1
"Mas? Kok nggak pakai baju! Masuk sana!"
Tanpa peduli perintah sang istri, pria itu menghampiri Ayas dan memeluknya begitu erat. Walau Ayas nyatanya tidak kemana-mana, tetap saja gugupnya masih tersisa. "Bikin kaget, kamu ngapain di sini?"
"Aku nggak bisa tidur, jadi cari angin," jawab Ayas kembali menatap kedepan, indahnya malam di ibu kota membuat Ayas terlena dan tak mendengar teriakan Kama sama sekali.
"Cari angin? Apa di dalam kurang dingin? Hm?"
"Dingin sih, tapi kan beda, Mas."
"Masa sih? Bedanya apa memang?"
"Beda yang dia lihat, di dalam kamar tidak ada mobil yang lewat," jawab Ayas polos hingga Kama tergelak, sungguh jawaban itu di luar dugaan tapi memang benar adanya dan Ayas tidak sedang bercanda.
"Iyaya, benar." Jika biasanya Kama yang tak mau kalah, kali ini dia mengalah dan tidak memperpanjang jalan cerita.
Kama mendaratkan dagunya di bahu Ayas, entah apa yang Ayas lihat di depan sana. Baginya mungkin menarik, tapi bagi Kama pemandangan semacam ini sudah biasa. "Mas."
"Iyaa, kenapa?"
Tidak biasanya Ayas memanggilnya selembut ini, pria itu mengerutkan dahi dan kembali mengeratkan pelukan yang memang sudah erat sejak tadi. "Aku mau minta sesuatu boleh?"
Sejak kemarin dibuat bingung kenapa sang istri tak punya permintaan, kali ini dengan tegas Ayas meminta sesuatu dan jelas saja Kama akan menyanggupinya dengan senang hati. "Boleh, apa memangnya?"
__ADS_1
Ayas tak segera menjawab, dia tertunduk hingga Kama penasaran apa yang diinginkan Ayas sebenarnya. "Katakan apa, Tas? Mobil? Rumah? Perhiasan atau apa?"
Sudah ditawarkan hal sebanyak itu, tapi Ayas justru menggeleng hingga Kama menghela napas panjang. Tidak pernah meminta, tapi sekalinya ada permintaan umtuk mengatakannya saja Ayas seolah tak sanggup.
"A-aku ...." Kama mengangguk dan menunggu dengan sabar apa permintaan Ayas sebenarnya. "Aku mau pulang, Mas."
Deg
Sontak mata Kama membulat sempurna, sejak tadi dia menunggu dan begitu tahu jika keinginan Ayas justru pulang, pria itu seketika menyesal bertanya. Pikirannya sudah macam-macam, entah pulang bagaimana yang Ayas maksud.
"Kenapa pulang? Mas buat kamu tertekan? Atau ada kesalahan?"
Ucapan Ayas membuat Kama salah paham, segera wanita itu mengungkapkan maksud yang sebenarnya agar salah pahamnya tak berkepanjangan. "Bukan, maksudnya pulang sama kamu ... tiba-tiba aku ingat mendiang ayah, kita pulang ke kampung ayahku mau ya, Mas? Tidak perlu lama-lama, satu minggu saja," ungkap Ayas menatap Kama penuh harap.
"Astaga ... jadi ngajak pulang kampung ceritanya?"
"Iya, gitu maksudnya."
"Bilang dari tadi, kupikir pulang yang gimana," ucap Kama tertawa pelan, pikirannya sudah terbang melayang, demi Tuhan dia sempat berpikir akan jadi duda beberapa jam pasca pesta pernikahan.
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -