
Awalnya memang Kama hanya minta suapi, tapi hingga berjam-jam Ayas tetap tidak dia izinkan untuk pergi. Mau tidak mau, Ayas harus mau dan dengan berat hati dia tidak bisa menemani Ida potong rambut sesuai janji.
Ayas tahu betul siapa yang menjadi prioritasnya, sekali saja Kama meminta untuk tetap di sana, dia menurut begitu saja. Berbeda dengan kemarin, hari ini dia tidak sebebas itu. Beralaskan khawatir Ayas mengulangi kesalahan kemarin, Kama memaksa sang istri untuk duduk di pangkuannya.
Ya, lucu sekali memang dunia ini. Kapan terakhir kali Ayas duduk dipangku seperti ini? Mungkin sewaktu balita atau kapan, sungguh Ayas tidak ingat lagi. Jika hanya berdua mungkin Ayas biasa saja, tadi yang menjadi masalah adalah sejak tadi sudah berapa orang yang masuk ke ruangan Kama dan menyaksikan posisi Ayas persis balita di pangkuan suaminya.
Jika beberapa orang berpikir Ayas terlalu manja, percayalah dia sendiri malu sebenarnya. Wajah Ayas memerah, susah payah dia menahan malu dan benar-benar tak betah dengan posisi serupa.
"Kenapa? Kurang nyaman?"
Tanpa perlu dijawab, seharusnya Kama tahu seberapa tidak nyaman sang istri. Siapa yang bisa tenang dengan posisi semacam itu, Kama mungkin bisa terlihat santai dan mempertahankan wibawa ketika menghadapi bawahannya, tapi Ayas tidak.
"Iya, aku duduknya di sana saja ya," ucap Ayas menunjuk ke arah sofa dan sangat berharap Kama akan mengizinkannya tanpa banyak bicara.
"Kasih satu alasan kenapa harus duduknya di sana? Kamu tahu wanita di luaran sana mendambakan duduk di pangkuanku, percaya tidak?"
Percaya, Ayas percaya dan dia mengangguk dengan harapan masalah akan selesai di sana. Nyatanya, hal itu tidak membuat harapannya lepas kian besar, melainkan sirna. "Terus kenapa maunya di sofa kalau tahu pangkuanku tidak sembarangan orang bisa merasakannya?"
"Bu-bukan masalah itu, tapi ...."
"Tapi apa?"
"Keras!! I-iya keras, aku nggak nyaman," jawab Ayas gelagapan dan justru membuat Kama salah pemahaman.
__ADS_1
Pikirannya mulai bercabang dan tak lagi tenang layaknya air kolam. Diamnya Kama Ayas anggap sebagai kesempatan untuk melepaskan diri. Sialnya, baru saja hendak berdiri, Kama kembali mengeratkan pelukan hingga Ayas kembali mendarat di pangkuan sang suami.
"Mau kemana? Jangan banyak ger_aakh."
Kama sudah katakan jangan banyak gerak, tapi sang istri justru berulah hingga dessahan itu tak sengaja lolos dari bibirnya. Sejak tadi dia sudah menahan diri, tapi gerakan kali ini berhasil menyalakan percikan gairah yang kini menyala-nyala.
Kama memejamkan mata seraya menggigit bibirnya, Ayas yang kini menoleh jelas saja mengerutkan dahi kala melihat ekspresi tak terbaca di wajah sang suami. "Sudah kubilang jangan banyak gerak ... kalau sudah begini siapa yang mau tanggung jawab?"
Salah siapa yang kena getahnya siapa, Ayas tak sedungu itu untuk memahami maksud Kama. Terlebih lagi, kala pria itu tiba-tiba beranjak berdiri dan mendudukannya di atas meja. Dengan posisi ini, tatapan penuh damba Kama yang menginginkannya begitu nyata.
Kama menyingkirkan segala hal yang mengganggu dan kini mulai mengikis jarak hingga wajah mereka hampir tak terpisahkan. Deru napas Kama bahkan terasa hangatnya, Ayas meneguk salivanya pahit dan seperti biasa dia akan membenarkan kacamatanya.
Dia tak tahu apa yang akan terjadi ke depan, tapi sebelum Kama benar-benar mendaratkan kecupan, Ayas menahan dada sang suami sebelum terlambat. "Kenapa?" tanya Kama datar, pandangannya sudah berkabut sejak tadi, jelas dia tak menginginkan penolakan sama sekali.
"Pintunya, Mas, kunci dulu." Jawaban tak terduga dari sang istri membuat Kama sumringah, "Kenapa harus dikunci? kita mau apa memangnya?"
Sebuah kecupan yang bermula mendapat sedikit penolakan lantaran kesal, perlahan, tapi pasti Kama tetap mampu meluluhkan pendiriannya. Ayas pasrah juga dengan ciumman Kama yang semakin lama semakin panas dan menuntut.
Dalam keadaam duduk seakan tak menjadi penghalang, Kama masih mampu mencubu istrinya dengan bebas. Sejenak dia lupa jika sedang di kator, Kama tidak bermaksud memulai untuk membuat istrinya basah, tapi jelas lebih dari itu.
"Masih sakit?"
Pertanyaannya hanya basa-basi, sekalipun Ayas mengiyakan Kama tidak akan berhenti karena sudah mengambil posisi. Persiapannya di luar pengawasan Ayas, dia sama sekali tidak sadar apa yang terjadi beberapa detik kemudian, hingga mata Ayas membola kala merasakan sesuatu yang juga diinginkan tubuhnya itu sudah besentuhan dengan permukaan area sensitifnya.
__ADS_1
Tatapan keduanya bertemu, sama-sama menginginkan. Ingin dia meminta, tapi Kama justru lebih dulu bertanya. "Mas mulai ya?"
"Iya, Ma_"
"Kama ...."
Pyar
Semuanya buyar, tak hanya Ayas, tapi Kama juga gelagapan kala menyadari kehadiran papanya. Tidak ada pikiran lain, Kama spontan menutup ritsleting celana. Sementara Ayas sontak turun dari atas meja dan merapikan dress yang beruntungnya tidak benar-benar Kama lucuti sebelum mencumbunya.
"Eheem, Pa? Ada apa?" tanya Kama berusaha menutupi kegugupannya, dikatakan untung salah, tapi nasib mereka masih baik karena tidak kepergok tengah bermain di atas meja.
Gian sudah hidup lebih dari setengah abad, jelas dia tidak semudah itu dibohongi dan bisa menyimpulkan apa yang terjadi walau memang dia tidak melihat secara pasti. "Apa tidak bisa di rumah saja, Kama? Atau kalau tidak minimal kunci pintunya!!" pungkas sang papa sebelum kemudian berlalu meninggalkan pasangan yang sama-sama terbakar gairrah itu.
"Sayang, maaf ... a-aku tadi yakin sudah kunci, tapi kenap_"
"Mau lanjut?"
"Hah?" Kama terkejut kala mendengar pertanyaan sang istri.
"Lanjutin aja ya, Mash ... Iyaaaa?Michelle masih bangun, 'kan?"
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -