Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 38 - Tahan!!


__ADS_3

"Bersikaplah sebagaimana seharusnya, perlakukan istri lo baik-baik dan berhenti bersikap seperti anak kecil, Kama."


"Jangan buat istri lo tertekan, manjain dia, jangan kebalik malah lo yang manja."


Cukup banyak pesan Samuel, tapi yang begitu membekas dan Kama ingat adalah dua itu. Sepanjang perjalanan dia tidak fokus, orangnya dimana pikiran kemana. Alhasil, dia yang melamun tanpa sengaja menabrak pengguna jalan yang lain hingga berakhir di kantor polisi.


Dia dianggap melakukan tabrak lari, padahal mobilnya yang hilang kendali dan berakhir di trotoar. Celakanya, yang menjadi saksi mata tidak menerima pembelaan Kama dan tetap menganggap pria itu salah.


Memang sial nasib Kama, tiada angin tiada hujan, pria itu justru menabrak anak anggota dewan yang memang terkenal tak mau kalah. Kama sudah berusaha menyelesaikannya secara kekeluargaan, tapi pihak korban menolak mentah-mentah.


Korban sudah masuk rumah sakit, sementara Kama tetap berada di kantor polisi. Kama tidak menolak, walau dia mampu menyelesaikan semua dengan uang, tapi dia mengikuti alur sebagaimana mestinya.


Statusnya sebagai anak konglomerat dan produser ternama tidak pernah membuat Kama lupa diri, dia tetap merendah walau sebenarnya sudah mendapat perlakuan spesial dari pihak berwajib tanpa diminta.


Cukup lama Kama dimintai keterangan, tidak pernah terbayang dalam benak Kama, setelah sekian tahun dia menjalani hidup sebagai pria baik-baik, malam ini dia kembali berurusan dengan kantor polisi.


Selesai memberikan keterangan, Kama berlalu keluar dengan langkah pelan. Tubuhnya juga terasa sakit, bahkan kening Kama bahkan memar, tapi dia diperlakukan bak pelaku kejahatan oleh saksi mata yang melihatnya.


"Mas Kama!"


Pria itu mengerjap pelan, jika dahulu dia akan dijemput papanya usai membuat kericuhan di jalan raya, kali ini Kama dijemput sang istri. Berbeda dengan Gian yang biasanya akan melayangkan pukulan setelah dia bertingkah, Ayas seketika melayangkan pertanyaan beruntun usai menghambur ke pelukannya.


"Mas luka? Ada yang sakit? Bagian mana yang sakit? Coba buka jaketnya bentar."


Kama tersenyum tipis mendapati perlakuan Ayas padanya. Semua kepanikan dan rasa sakit yang tadi sempat membuat Kama ingin berontak seketika hilang begitu Ayas menghampirinya.


Terlihat jelas sebesar apa kekhawatirannya, belum sempat Kama menjawab Ayas sudah memeriksa ruas jari dan pergelangan tangannya. Tidak lupa, Ayas juga berjinjit demi memastikan memar di keningnya.

__ADS_1


"Ssssshhhh!!" Kama meringis dan memang terasa perih begitu disentuh.


"Sakit?"


"Sedikit."


Ingin dia memanfaatkan kesempatan, berpura-pura sakit parah dan merengek manja pada Ayas. Hanya saja, dia mengingat betul ucapan Samuel hingga mengurungkan niat walau peluang untuk minta dimanja sudah sebesar ini.


Kama berusaha bersikap biasa saja, walau hassrat ingin dimanja sudah luar biasa menggelora, tapi sebisa mungkin Kama menahan diri dan bersikap sebagaimana harusnya. "Kamu sama siapa? Kok tahu aku di sini?"


Kama memang tidak memberitahukan masalah ini pada siapapun, kemungkinan besar yang tahu akan ulahnya adalah sang papa, sudah pasti polisi tersebut yang menghubunginya. Kini, tanpa terduga Ayas yang justru menjemputnya ke kantor polisi dan hanya mengenakan piyama.


"Sendiri, mbak Ida yang bilang."


Kama memejamkan mata, sudah pasti Ida tahu dari papanya. Berani sekali istrinya datang sendiri, entah apa yang Ayas pikirkan sampai nekat kemari hanya dengan ojek online. "Kenapa tidak minta antar sopir? Kamu datang kesini pakai baju begini, kalau ada apa-apa gimana?"


Agaknya pikiran Ayas memang belum begitu matang, dia hanya khawatir dan nekat datang tanpa peduli sekalipun kehadirannya tidak diperlukan sama sekali. "Aku panik, begitu tahu kamu di sini aku cepat-cepat pergi, tapi ternyata aku telat ya? Kamu sudah selesai, 'kan?"


Kama menggenggam jemari sang istri begitu lembut, selagi ada kesempatan, Kama menuntun sang istri untuk menikmati waktu berdua malam ini. Bukan pulang, melainkan menelusuri jalanan ibu kota karena memang belum pernah.


Kebetulan mobilnya memang mengalami kerusakan pasca kecelakaan tersebut, Kama juga tidak menghubungi Badri untuk menjemput mereka. Sama seperti yang lain, Kama juga ingin merasakan hubungan normal tentu saja.


Beberapa menit awal, Ayas masih diam saja. Namun, beberapa menit setelahnya tidak lagi. Ayas mulai berceloteh, menceritakan banyak mimpi setiap kali melihat gedung-gedung tinggi di sekitar tempat itu, sama sekali tidak Ayas ketahui jika salah-satunya milik keluarga sang suami.


"Mas, kalau mau kerja di kantor itu minimal sekolahnya harus apa?"


"Yang mana, Sayang?"

__ADS_1


"Yang itu." Ayas menunjuk gedung yang paling mencolok di antara deretan gedung megah lainnya.


Kama tersenyum simpul, agaknya fakta bahwa Ayas memang jodohnya tidak dapat dinafikan lagi. "Kamu mau?" tanya Kama kemudian yang tak segera Ayas jawab.


Ayas mengangguk, jelas saja dia mau, "Tapi aku cum lulusan SMA apa bisa, Mas?"


"Bisa," jawab Kama enteng sekali, seolah mendapat harapan Ayas berbinar begitu mendengarnya.


"Serius bisa?"


"Iya, tapi jadi istri direkturnya, mau?"


Ayas berdecak, dia menggeleng cepat dan seketika membuat Kama mengullum senyum. "Kenapa? Jadi istri direktur masa nggak mau?"


"Aku sudah punya suami, pertanyaan kamu aneh lama-lama," jawab Ayas mencebikkan bibir lantaran sebal mendengar gelak tawa Kama yang tiada habisnya.


"Haha bercanda, tapi buat apa kamu mikirin kerja? Khawatir tidak aku nafkahi?"


"Mau belajar," jawab Ayas kemudian menunduk dan menghela napas berat, jelas hal itu berhasil membuat Kama bingung dibuatnya.


"Belajar? Belajar apa?"


"Belajar cara hidup orang kota, aku kampungan, Mas," ucap Ayas yang membuat Kama menghentikan langkahnya.


Hanya sebuah kalimat singkat, tapi berhasil membuat hati Kama panas. Pria itu menggenggam pergelangan tangan sang istri, Kama merasa ada yang tidak beres kali ini. "Maksudmu?"


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2