Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 22 - Mulutmu Bau


__ADS_3

Entah atas dasar apa mantan calon mertuanya itu kembali datang. Ayas sempat mengira jika wanita itu datang untuk mengucapkan selamat karena memang kemarin dia tidak terlihat.


Tidak sendirian, Ayas menghadapinya bersama Kama yang memaksa untuk tetap ikut beberapa saat lalu. Walau hubungan mereka sudah berakhir, tapi gugupnya Ayas masih sama dan dia bahkan tidak memiliki keberanian untuk balik menatap wajah Bu Dewi.


Jauh di luar dugaan, nyatanya wanita itu datang bukan untuk mengucapkan selamat atas pernikahannya, bukan pula memberi doa atau memberikan nasihat, tapi Bu Dewi datang untuk meminta kembali semua yang telah Juki berikan, terutama cincin pertunangan.


Terkejut, bingung dan tak percaya hingga Kama hanya menganga melihat wanita itu membaca catatan apa saja yang perlu Ayas kembalikan. Terhitung sejak awal pacaran, bahkan uang makan ketika mereka kencan juga tetap diminta kembali.


Alasannya tak terima sakit hati, Bu Dewi mengungkapkan kecewa dengan pengkhianatan yang Ayas lakukan. Manipulatif sekali, padahal jelas-jelas putranya yang persis binatang, demi Tuhan Kama sudah tak kuasa menahan emosi sebenarnya.


"Dan selama di Jakarta kamu ketemu Juki, 'kan? Ingat tidak pernah dibayarin apa?"


Ayas menghela napas panjang, sama sekali tidak dia duga hubungan yang dulu sangat hangat bisa sekacau ini. Bu Dewi yang dia kenal lembut dan penyayang, ternyata berakhir hitung-hitungan.


"Tidak ada, Bu, mas Juki sibuk dan tidak punya waktu untuk pergi berdua ... sekalipun ada aku yang beliin mas Juki sepatu," jawab Ayas polos dan menciptakan senyum tipis di wajah suaminya.


Ya, setidaknya Ayas tidak pasrah-pasrah saja. Dia ingin istrinya turut perhitungan, bahkan jika perlu uang parkir dihitung juga. Seumur hidup baru kali ini dia menjadi saksi hubungan asmara berakhir dengan hitung-hitungan persis hutang tahunan.


Kama sedari tadi terus memandangi masih tidak habis pikir. Agaknya dia memang kurang luas dalam bergaul hingga ketinggalan jika sistem pacaran semacam ini memang ada dan sangat nyata. Bagaimana sikap Bu Dewi membuat Kama mengerti dari mana sifat pelit Marzuki diwarisi.


"Suratnya mana? Seingatku kamu yang simpen, 'kan?"


"Ada kok, Bu, sebentar aku ambilkan."


Berat sekali hidup Ayas, karena kehadiran Kama yang mengusulnya tentu saja. Sementara Ayas pergi ke kamar, Dewi menatap sinis ke arah Kama. Tatapan merendahkan seraya sengaja menunjukkan gelang dan cincin emas di tangannya.


Lucu sekali dunia ini, seumur hidup Kama terbiasa hidup di lingkungan orang kaya. Seluruh perhiasan yang melekat di tubuh wanita itu bahkan tidak setara dengan harga cincin mamanya. Kendati demikian, Kama tidak akan pernah memperlihatkan jika dirinya kaya, sungguh dia tidak butuh pengakuan sedikit saja.


"Ini, Bu, suratnya masih lengkap."


Ayas menyerahkannya baik-baik, tapi Bu Dewi menariknya begitu kasar hingga Kama yang sejak tadi memandanginya tersinggung tentu saja. Dia berdiri dan hendak meluapkan amarah, beruntung saja Ayas bergerak cepat dan berusaha menghalangi sang suami.

__ADS_1


"Tidak bisa, dia kurang ajar."


"Jangan, sudahlah ini tidak akan lama."


Sejak tadi Kama diamkan, tapi wanita itu seolah menjadi dan terus menerus merendahkan Ayas. Dada Kama naik turun, dia berusaha mengatur napas sebelum kemudian bersedia untuk kembali duduk dengan tenang di sofa usang tersebut.


"Oh iya? Untuk uangnya kap_"


"Sebutkan berapa rekeningmu ... detik ini juga aku akan kembalikan uang putramu yang tidak seberapa itu."


Pada akhirnya kesabaran Kama habis sudah, dia tidak kuasa bertahan lebih lama untuk tidak marah. Sebagai suami, jujur saja Kama sakit hati lantaran istrinya dianggap berniat menguras dompet Marzuki sejak dahulu.


"Oh bagus ... siapa lagi kalau bukan dirimu yang membayarnya, ini rekeningku dan aku ingin tiga jutanya di transfer detik ini juga."


Kama berdecih, perutnya mendadak sakit begitu mendengar nominalnya. "Tiga juta?"


Bahkan dalam beberapa keadaan, uang tiga juta adalah biaya yang Kama keluarkan untuk sekali makan. Jelas hal itu membuat Kama tertawa kecil, memalukan sekali.


Tiga juta yang Bu Dewi minta, tapi lima juta yang Kama berikan hingga wanita itu sempat terdiam beberapa saat. Mungkin berusaha memahami keadaan, tapi secepat mungkin dia terlihat biasa saja walau di kepalanya mulai timbul beberapa pertanyaan tentu saja.


Bu Dewi pikir pria itu akan diam dan tak membahas uang lebihnya, tapi ternyata Kama justru melontarkan kata-kata yang berhasil membuat wajahnya memerah.


Bukan main malunya, bahkan setelah Kama bicara, wanita itu memilih berlalu tanpa kata. Tidak ingin menerka-nerka, tapi Kama yakin pemilik sanggul super besar itu memilih bungkam lantaran malu untuk membuka mulutnya.


.


.


"Bisa-bisanya kamu hampir jadi menantu nenek lampir begitu ... dimana matamu, Yas?"


Ayas juga tidak mengerti, dimana matanya dulu sampai rela merayu mendiang ibunya demi restu untuk menjadi menantu dari Bu Dewi. Kini, setelah kematian ibunya barulah Ayas mengerti kenapa dulu sempat tidak direstui.

__ADS_1


"Dulu tidak separah itu, Mas, mana aku tahu kalau akhirnya akan begitu."


Hingga siang hari Kama masih terus membahas mantan calon mertua Ayas. Demi Tuhan dia masih tidak rela, sungguh sombongnya berada di atas rata-rata.


Bicara tentang mertua, Ayas justru mengingat mertuanya, kedua orangtua sang suami. Jika orangtua Marzuki saja memandangnya sebelah mata, lalu bagaimana dengan orangtua Kama? Membayangkannya saja Ayas sudah panas dingin.


Bagaimana bisa dia baik-baik saja, lulusan SMA dari keluarga yang masuk kategori melarat dan menyambung hidup dari bantuan pemerintah selama bertahun-tahun yang kemudian dipertemukan dengan Kama.


Pria sempurna yang bahkan pendidikannya saja tidak bisa Ayas ikuti. Seketika dia merasa kecil dan terus menatap nanar tanpa arah. Bayangan jika dia akan diperlakukan tidak adil dan dipandang sebelah mata sudah begitu nyata.


"Laras, kamu kenapa?"


"Hah? Mas bilang apa tadi?"


Kama menghela napas kasar, sudah berapa kali selalu melamun setiap kali Kama ajak bicara. "Mikirin apa? Hm?"


Ketika sudah ditanya sudah pasti dia tidak akan segera menjawab. Ayas mengatupkan bibir sebelum kemudian mengakui apa yang dia takutkan. Belum apa-apa dia sudah sekhawatir itu tidak akan diterima keluarga Kama, bahkan ketika bicara Ayas seperti akan menangis dan matanya mulai membasah.


Tidak ingin istrinya semakin bersedih, Kama menenangkannya dengan segala cara. Pria itu menjelaskan dengan perlahan jika kedua orang tuanya tidak semenyeramkan yang Ayas duga.


"Lusa kita pulang ke Jakarta, mau?"


"Lusa?"


"Iya lusa, mau, 'kan?" tanya Kama lagi, seketika Ayas mengerjap pelan dan merasa agaknya terlalu cepat. "Apa tidak bisa jangan lusa, Mas?"


"Ya sudah, berarti besok kalau tidak mau lusa," ucap Kama tak terbantah yang membuat Ayas kehilangan kata-kata. "Apa aku yang salah bicara?"


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


Selamat tidur bye-bye❣️


__ADS_2