Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 37 - Jangan Terbalik


__ADS_3

Kesal lantaran informasi dari internet hanya membuatnya semakin gusar, Kama mendatangi suhu percintaan. Tidak lain dan tidak bukan, sudah pasti Samuel. Walau sempat memperlakukan Samuel dengan buruk bahkan mengusirnya secara halus, Kama dengan tanpa rasa bersalahnya menerobos masuk begitu saja dan menghempaskan tubuhnya di sofa.


Seperti biasa, jika dia yang ada masalah maka seluruh dunia seakan harus tau. Wajahnya menyebalkan, dan Samuel yang masih kesal padanya tak segera bertanya. Sebagaimana perlakuan Kama padanya, Samuel juga melakukan hal sama bahkan sengaja pura-pura tidak mengetahui keberadaan Kama.


Sudah jelas pria itu berdecak kesal dan tak segan melempar Samuel dengan bantalan sofa demi mencari perhatian. Pria itu menghela napas panjang, memang egoisnya pria itu sama sekali tidak berkurang. "Apa lagi, Kama? Gue banyak kerjaan, pulang sana."


Masih Samuel ingat betul bagaimana Kama yang seenteng itu mengusirnya, padahal niat Samuel baik. Memang benar kata Rizal, selain pada wanita dia juga semena-mena terhadap siapapun, termasuk temannya.


Sayangnya, walau sudah diusir jurus pura-pura tuli dan tak sadar diri yang Kama miliki sangat tidak tertadingi. Sedikit pun dia sama sekali tidak merasa tersinggung atau tergerak untuk pergi, yang ada justru memulai pembicaraan tanpa ditanya lebih dulu.


"Lo tahu ... sudah jelas-jelas cecunguk itu cuek luar biasa, tapi istri gue tetap aja nangis pas dengar suaranya, apa memang cewek sebodoh itu kalau sudah cinta, Sam?"


Sesuai dugaan, dia akan bertanya dan memang sejak dahulu Kama tidak pernah peduli tentang wanita, terlebih perasaannya. Baginya wanita itu terlalu rumit, dia malas untuk mencoba memahami karena dirinya bahkan tidak mampu memahami dirinya sendiri.


Samuel tak segera menjawab, dia masih pura-pura tak dengar dan menatap Kama yang uring-uringan. Tidak hanya gusar, tapi pria itu juga gelisah seolah tengah menghadapi bencana besar, entah apa.


Kendati demikian, mau sesantai apapun Samuel menanggapainya, Kama tetap bercerita panjang lebar hingga Samuel menarik napas dalam-dalam. Agaknya, pria yang baru merasakan jatuh cinta dan menginginkan seorang wanita ini tampak terkejut menghadapi watak kaum hawa.


.


.


Merasa percuma mengabaikan karena Kama akan terus berceloteh, Samuel mengalah dan meletakkan buku di sampingnya. "Sekarang begini, status kalian apa?"


"Suami istri," jawab Kama lemas, agaknya bicara panjang lebar sejak tadi cukup menguras tenaganya.

__ADS_1


"Lalu, apa yang jadi masalahnya?" tanya Samuel mengedikkan bahu.


Kama yang sejak tadi sudah menjelaskan panjang lebar, jelas saja kesal lantaran tak merasa didengar. "Lo nggak denger gue cerita panjang lebar barusan, Sam? Apa perlu gue ul_"


"No, gue nggak minta ulangi, Kama, tapi maksud gue kenapa lo mikirin hal yang nggak perlu dipikirin?"


Samuel masuk mode serius, begitu juga Kama. Pria itu menggigit bibir dan tampak berpikir usai mendengar ucapan Samuel. Memang benar status mereka sudah resmi menjadi suami istri, tapi Kama merasa status saja tidak cukup. Dia butuh cinta, ingin dicintai sebagaimana adik iparnya, itu saja.


"Setelah akad, lo menang, Kama, dari sudut manapun lo pemenangnya ... seiring dengan berjalannya waktu, Laras akan menerima, dengan catatan lo nggak begini."


Penjelasan Samuel sejenak membuat Kama mengerutkan dahi, dia bingung apa yang salah dengan dia yang begini. "Begini? Gini gimana maksud lo?"


"Bersikaplah sebagaimana seharusnya, perlakukan istri lo baik-baik dan berhenti bersikap seperti anak kecil, Kama."


Sebuah kejujuran yang cukup mengena di hati Kama, pria itu kembali berpikir sebelum kemudian balik bertanya. "Dih? Jadi loh anggap gue anak kecil, Samuel?Lo lupa siapa gue?"


"Nggak perlu gue jelasin, gue rasa lo paham maksudnya ... dewasa itu bukan hanya dalam dunia kerja, tapi dalam segala hal."


Jika biasanya Kama akan menjawab dan tak terima dianggap seperti itu, untuk kali ini dia terdiam beberapa saat. Sesungguhnya dia sadar, bahkan seluruh anggota keluarga masih menganggap dia anak-anak jika di rumah.


Alasannya bukan karena Kama masih didampingi pengasuh hingga usia 30 tahun, tapi memang Kama berbeda jika sudah di rumah dan berada dalam pengawasan orang-orang terdekatnya. Sikap manjanya pada Ayas bukan dibuat-buat, tapi memang secara alami saja dan Kama seakan sukar melepasnya.


"Jadi intinya?"


"Jangan manja, kasihan istri lo, mana masih muda," jelas Samuel mulai menatap malas Kama yang agaknya sengaja bertanya padahal sudah tahu jawabannya.

__ADS_1


Lebih menyebalkan lagi, dia menyanggah saran Samuel dan merasa argumennya paling benar. "Bukannya wajar cowok manja pada pasangannya? Dia istri gue, Sam, suka-suka gue kan kalau mau manja? Dari pada gue manja sama tetangga?"


Ini adalah alasan kenapa Samuel malas berdebat bersama Kama, dia punya seribu alasan untuk membantah argumen lawan bicaranya, siapapun. "Ya sudah terserah lo, terus ngapain lo datang kemari kalau punya keyakinan sendiri."


Samuel berdecak kesal, hingga Kama mengalah dan kembali meminta sarannya. Sudah tentu dengan perjanjian lebih dahulu, tidak boleh disanggah. "Ya udah iya, jadi gue harus gimana?"


Jujur saja sebenarnya Samuel sudah malas sekali menanggapi pria itu. Hanya saja, mengingat Kama begitu baik dan tidak main-main jika temannya kesulitan, Samuel berusaha menahan rasa sabarnya. "Jangan buat istri lo tertekan, manjain dia, jangan kebalik malah lo yang manja. Terlebih lagi Laras pasti butuh sosok pelindung, dan saat ini adalah waktu yang pas buat lo mecuri hatinya."


"Dia yang gue manjain?" Walau sudah dijelaskan sejelas-jelasnya, Kama masih saja bertanya.


"Benar, salah-satu caranya adalah itu, buat dia jatuh cinta dengan kepribadian seorang seorang Givendra Kama Wijaya."


Kama mengangguk kali ini, dia berusaha memahami ucapan Samuel walau akhirnya tetap membuat kesal juga. "Apa benar harus begitu? Apa tidak bisa dia jatuh cinta karena kegantengan gue dulu? Lo tahu, 'kan cewek-cewek di luar sana gimana sama gue?"


"Bisa, lo coba aja dengan sikap lo yang persis bocah begini apa mungkin Laras akan cinta? Kalau benar sampai iya gunting pentillnya Rizal!!"


"Ck, kenapa pentillnya Rizal jadi taruhan? Pentill lo aja gimana?" tantang Kama merasa tak suka dengan pernyataan Samuel yang seakan menganggap Ayas tidak bisa mencintai dia apa adanya.


"Intinya itulah, lo mau dengerin bagus, nggak juga nggak masalah ... udah pulang sana, enek gue lihat muka lo beneran," pungkas Samuel kemudian berlalu meninggalkan Kama sendiri di ruang tamu yang membuat pria itu mau tidak mau harus angkat kaki detik itu juga. "Apa benar Ayas tertekan dengan sikapku selama ini? Masa sih?"


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


Hai, maaf baru sempet up, aku ketiduran buat part ini 😂 Insya Allah malam dilanjut, mohon dukungannya agar Kama tetap bertahan di 20 besar rank hadiah para penduduk bumi❣️ Ritualnya dikencengin ya, maaciw💃


__ADS_2