Pengasuh Majikan Impoten

Pengasuh Majikan Impoten
BAB 88 - Maafkan Aku


__ADS_3

Entah sejak kapan Laras ada di belakangnya, Kama mendadak ciut dan diam seribu bahasa. Dalam waktu yang sama, Rizal juga mengakhiri sambungan teleponnya hingga Kama harus menghadapi Ayas sendirian.


"Tersangka apa?" Sembari menguap lebar-lebar, Ayas kembali bertanya lantaran Kama tak segera menjawab pertanyaannya.


"Eum, bukan apa-apa ... kamu kenapa bangun? Mas ganggu?"


Keberanian Kama tidak sebesar itu, walau sempat terbesit untuk jujur, tapi begitu melihat wajah sang istri semuanya sirna. Terlebih lagi kala Ayas tiba-tiba menghambur dalam pelukannya, tanpa perlu dijelaskan Kama mengerti jika sang istri keluar bukan karena terganggu, melainkan mencari keberadaannya.


Mana mungkin Kama bisa mengaku jika keadaannya begini. Memang terkesan pengecut, tapi kesiapan Kama untuk menghadapi kemungkinan buruknya memang sama sekali tidak ada sebenarnya.


Pernikahan mereka tengah manis-manisnya, bukan hanya Kama, tapi Ayas juga sudah terang-terangan mengakui perasaan. Mereka juga tidak lagi berbatas dalam bersikap, layaknya pasangan yang saling membutuhkan, mereka seolah tak bisa terpisahkan.


Jelas Kama tidak siap jika kehilangan semua itu, dan bagaimana mungkin dia mampu andai Ayas membencinya. Tanpa bicara, Kama terus mengusap pundak sang istri yang sejak tadi diam dalam pelukannya.


"Kita ke kamar lagi mau?"


Ayas mengangguk, tujuannya keluar kamar memang hanya untuk mencari Kama saja, tanpa tujuan lain. Dia juga tidak mendengar dengan jelas apa yang Kama bicarakan, kebetulan hanya di bagian akhir dan Ayas juga tak menaruh curiga pada sang suami.


Begitu kembali terbaring di atas tempat tidur, Ayas terlelap seolah tak ada masalah, tapi hati Kama lah yang bermasalah. Pria itu menatap Ayas penuh sesal dan bingung hendak berbuat apa. Semakin lama dia tatap wajah sang istri, penyesalan itu kian dalam hingga Kama beralih menatap langit-langit kamar dengan seribu pertanyaan yang beterbangan di kepalanya.


"Jangan hanya karena kaya, lalu semudah itu menghilang dan merekayasa segalanya seolah tidak terjadi apa-apa."

__ADS_1


Kembali terbayang, ucapan sang istri beberapa jam lalu seolah menusuk-nusuk kepala Kama. Tak bisa Kama bayangkan andai Ayas tahu jika seseorang yang telah merekayasa segalanya karena uang itu adalah dirinya. Ya, dia yang dulu sempat menjadi tersangka lalu bebas begitu saja ketika uang yang bicara.


Awalnya Kama kira semua selesai di sana, tapi ternyata tidak. Sebenarnya sejak melakukan hal itu hidup Kama tidak sebaik kelihatannya, berbeda dengan Rizal yang memang mulus-mulus saja.


Kama juga beberapa kali masuk rumah sakit lantaran dirinya yang perokok berat. Dan tepat satu tahun pasca tragedi berdarah itu, Kama mengalami kecelakaan tunggal akibat berkendara dalam keadaan mabuk. Bukan mabuk biasa, tapi mabuk berat dan salah-satu alasan mabuknya adalah apa yang terjadi di masa lalu.


Cukup lama Kama terbaring di rumah sakit, hidup segan mati tak mau dan di sana dia melihat isak tangis sang mama yang membuat Kama tersadar jika terlalu banyak yang dia sia-siakan dalam hidup.


Perlahan pria itu memperbaiki diri, Kama juga lebih memilih keluarga atau pergi sendiri ketika hendak melepas kejenuhan lantaran tak ingin mengulangi kesalahannya. Berpesta minuman yang membuat hilang kendali juga benar-benar Kama hindari, bahkan sempat menjauh beberapa waktu dari kedua sahabatnya, Rizal terutama.


Namun, walau semua sudah Kama lakukan tetap saja dia merasa hidupnya sama sekali tidak menemukan titik terang. Hidupnya tetap begitu-begitu saja, penyakit yang dia derita juga seolah makin parah dan harapan untuk normal semakin kecil saja.


"Maafkan aku, Laras."


Setelah sejak tadi tertahan, kalimat itu akhirnya lolos juga dari bibir Kama yang bergetar. Dia menatap lekat wajah sang istri yang semakin hari semakin berseri, alangkah pedihnya hati Kama jika wanita itu harus menangis sedih.


Kama meratap dalam diamnya, andai saja dia tidak mengikuti saran Rizal kala itu, mungkin semuanya tidak akan terjadi. Kama memejamkan mata, dia menyesal telah mempercayakan liburan mereka pada Rizal, andai saja ikut saran Samuel dan memilih Lombok sebagai destinasi wisata mereka, mungkin jalan hidupnya tidak akan serumit ini.


Namun, sebesar apapun penyesalan Kama tentang itu, ada satu hal yang lebih dia sesali lagi dalam hidup, yakni mabuk hingga tidak bisa mencegah Rizal. Andai saja dia tidak mabuk, maka tidak akan ada dia yang salah sangka dan mengira Ayah Ayas sebagai ancaman yang perlu dimusnahkan.


Selain itu, andai dia mencegah tindakan Rizal, kemungkinan besar ayah Ayas tidak berakhir malam itu. Walau benar kata Rizal, jarak antara kampung dan rumah sakit sangatlah jauh hingga lebih baik dihabisi saja, tapi Kama yakin korbannya masih bisa diselamatkan andai dicoba.

__ADS_1


.


.


Terlalu banyak Kama berandai-andai, tanpa sadar khayalannya membawa Kama hingga ke alam mimpi dan tak tersadar jika malam sudah berganti. Pagi menjelang, dan ketika dia terbangun tak lagi ada Laras di sisinya.


Kama panik, dia beranjak berdiri dan mencari keberadaan sang istri. Suasana rumah tersebut amat berbeda, tampak menenangkan dan sama sekali tidak menakutkan seperti tadi malam. Suara hewan ternak juga mendominasi layaknya suasana pedesaan biasa.


Berbeda dengan waktu itu, kampung ini sudah lebih ramai dan padat penduduk. Terbukti dengan banyaknya orang-orang yang berlalu di depan rumah, Kama seketika menghela napas lega begitu melihat sang istri yang tampak bicara dengan seorang di depan rumahnya.


"Yas!!" teriak Kama yang membuat Ayas menoleh begitu juga dengan seorang pria paruh baya di hadapan Ayas.


"Mas sini! Kebetulan ada pak Kades, buruan."


Alih-alih melangkah maju, Kama justru terdiam begitu sadar siapa lawan bicara sang istri. Tanpa berkedip, Kama melemas seraya bergumam dalam hatinya. "Ya, Tuhan, kenapa pria itu masih di kampung ini? Apa yang akan dia katakan pada Ayas setelah melihatku?"


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2